Perjalanan Spiritual Pangeran Diponegoro Dan Ramalan Pecahnya Perang Jawa



Soeara Rakjat, Historia. Pangeran Diponegoro siapa yang tak mengenal sosok legendaris dari tanah Jawa ini. Tak hanya kita bangsa Indonesia, bangsa Amerika - Eropa pun begitu penasaran akan salah satu sosok pahlawan terbesar tanah Jawa tersebut. Banyak sejarawan asal Eropa - Amerika yang hingga kini masih berusaha menguak misteri dari Diponegoro ini.
Perjalanan pangeran diponegoro ke pantai selatan
Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Indonesia
Peter Carey, adalah salah satu sejarawan dunia yang selama lebih dari 30 tahun melakukan penelitian tentang Pangeran Diponegoro. Peter Carey yang kini mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia ini juga pernah mengajar ilmu sejarah di Universitas Oxford.

Dalam buku setebal hampir 500 halaman berjudul Takdir, Peter Carey begitu fasih merepresentasikan hikayat atau Babad Diponegoro ini.

Ketertarikan sejarawan-sejarawan dunia akan kiprah Pangeran Diponegoro adalah hal yang wajar, mengingat perang Jawa II yang pecah sejak 1825 - 1830 ini begitu menguras sumber daya pemerintahan kolonial Belanda. Banyak kebijakan kerajaan Belanda di Eropa yang terdampak langsung akibat dari perang Diponegoro tersebut.

Secara khusus, tulisan ini mencoba untuk merangkum hikayat yang tertulis dalam ratusan lembar halaman buku tersebut dan menyajikan sisi lain perjalanan hidup Pangeran Diponegoro. Tak ada tujuan lain dari berbagi hikayat ini, agar kita semakin mengenal budaya dan tradisi leluhur kita bangsa Indonesia.

Sebelum pecah Perang Jawa II, Sultan Agung, leluhur Diponegoro dari trah Mataram pernah meramalkan bahwa Belanda akan berkuasa di tanah Jawa selama 300 tahun.

Meski ada keturunannya yang kelak akan bangkit melawan dengan hebat, akan tetapi masih belum bisa menaklukan Hegemoni Belanda di tanah Jawa.

Dalam hikayat Babad Diponegoro, yang sangat mashyur dan disusun sendiri oleh sang Pangeran semasa pengasingan di Makasar, disebutkan bahwa dirinya merasa telah menerima takdir sebagai keturunan dari Sultan Agung, yang bangkit dan melawan bangsa kolonialis Eropa.

Disebutkan pula bahwa Takdir dirinya tersebut sudah diterima sejak 20 tahun sebelum perang Jawa berkobar. Takdir itu diterima oleh Diponegoro, dalam perjalanan Spiritual ke pantai selatan. Diponegoro melakukan Lelana seperti halnya yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya, termasuk Sultan Agung dan Panembahan  Senopati.

Dalam Babad nya, Diponegoro yang saat itu berusia 20 tahun, dengan masih menyandang nama Raden Mas Ontowiryo, kemudian menanggalkan segala gelar kebangsawanannya. Diponegoro kemudian berkeliling dari Mesjid ke Mesjid dan Pesantren yang ada di sekitar Kota Yogyakarta, pada tahun 1805.

Diponegoro lalu menyamar menjadi rakyat jelata, dengan pakaian yang lazim dikenakan oleh para Santri di abad 19, dengan nama Ngabdulkamit. Setelah berkeliling Mesjid dan Pesantren, Diponegoro mulai menjauh dari daerah berpenduduk. Diponegoro kini mulai tenggelam dalam dunia Tapa-Meditasi, dalam upaya mematangkan laku Spiritual diri.

Sejak itu, Diponegoro mulai menziarahi tempat-tempat suci yang dianggap keramat dan berkaitan dengan Dinasti Mataram. Dalam perjalanan ziarah inilah, Diponegoro sering mendapat kontak gaib atau penerawangan dengan ruh leluhur dan penjaga Spiritual tanah Jawa. Penglihatan pertama Diponegoro dalam dunia Spiritual ini terjadi di Goa Song Kamal, Jejeran, di selatan Yogyakarta.

Diponegoro, yang saat itu sedang laku Tirakat, kemudian dikunjungi oleh salah satu wali Legendaris, tanah Jawa, Sunan Kalijogo. Dengan wajah yang bersinar bak purnama jeng sunan kemudian berkata; "Pangeran telah ditentukan Tuhan untuk menjadi raja dimasa depan nanti" setelah berkata demikian penampakan Kanjeng Sunan pun langsung menghilang.

Dari Jejeran, Diponegoro kemudian menelusuri pedalaman menuju Imogiri dengan berjalan kaki. Imogiri adalah tempat pemakaman raja-raja Mataram, dimana para leluhur dan kerabatnya kini disemayamkan. Disini Diponegoro melakukan Semedhi selama satu minggu, Diponegoro tahu betul, bahwa Sultan Agung, raja terbesar Mataram pun selalu Tirakatan di tempat ini.

Dari Imogiri, Diponegoro melanjutkan perjalanan ke pantai selatan, Diponegoro kemudian berhenti dan bermalam di Gua Siluman, tempat bersemayamnya roh halus Dewi Genowati, yang merupakan 'wakil' dari Nyi Ratu Kidul. Diponegoro juga singgah di Gua Surocolo yang dikenal juga sebagai Guwa Sigologolo. Namun di kedua tempat ini Diponegoro tidak mendapati 'penglihatan' Spiritualnya.

Dalam Babadnya, Diponegoro pun terus mengembara, melintasi lembah, bukit dan pegunungan dalam tujuannya ke Pantai Selatan. Tak terhitung jumlah tempat angker nan Wingit dalam dunia Spiritual Jawa yang sudah di lewati oleh sang Pangeran ini.

Diponegoro akhirnya melintasi kaki Gunung Kidul dan pergi menuju ke Gua Langse, di tepi Samudera Hindia yang bergemuruh dan menggelegar dengan dahsyat. Diponegoro menuruni tebing berkapur yang curam dan terjal untuk memasuki Gua keramat dan penuh aura mistis ini.

Di Gua inilah Diponegoro dalam Babadnya menuliskan bahwa dirinya bertemu langsung dengan Ratu Pantai Selatan. Namun sayang, kehadiran Ratu Kidul yang diawali oleh aura sinar ini tidak berlangsung lama, itu karena Diponegoro sedang larut dalam Tirakat nya. Ratu pun menghilang sebelum Diponegoro sempat menyapa, namun Ratu Kidul berjanji suatu saat akan kembali menemuinya.

20 tahun kemudian, saat perang Diponegoro sedang dahsyat-dahsyatnya berkobar, sang Pangeran kembali bertemu dengan Ratu Kidul. Saat itu Diponegoro sedang berkemah bersama prajuritnya di tepian sungai di daerah Kulon Progo. Saat itulah Diponegoro kembali dikunjungi dan melakukan komunikasi dengan Ratu Pantai Selatan tersebut.

Dengan lembut, Ratu Kidul berkata, "Bila hamba boleh membantu Paduka, hamba mohon janji setia begitu lenyap sirna semua laknat kafir itu (Belanda), mohonlah pada Allah Ingkang Rabbulngalamin supaya saya kembali lagi menjadi wujud manusia,"

Ratu Kidul melanjutkan, "Lebih dari itu, semua balatentara paduka tidak usah ikut berperang, kawula yang menjanjikannya"

Diponegoro kemudian menjawab, "Aku tidak minta bantuanmu melawan sesamaku manusia, sebab dalam agama (Islam) pertolongan hanya datang dari Allah Hyang Agung,".

Ratu Pantai Selatan pun kemudian lenyap dan sirna dari hadapan Pangeran Diponegoro. Dalam budaya Jawa, Ratu Laut Kidul, merupakan penjaga Spiritual tanah Jawa, Ratu Kidul juga sebagai 'isteri' dari raja-raja Jawa bagian selatan khususnya raja-raja dari Dinasti Mataram Islam.

Menurut banyak Sejarawan, kisah pertemuan dengan Ratu Kidul dalam Babad yang ditulis oleh Diponegoro ini adalah sebagai upaya legitimasi terhadap diri Diponegoro sendiri. Pertemuan dengan Ratu Kidul akan membuat kedudukan Diponegoro sejajar dengan Sultan Agung dan Panembahan Senopati dalam persepsi masyarakat Jawa.

Disisi lain, penolakan Diponegoro terhadap tawaran Ratu Laut Kidul menandakan bahwa dirinya masih tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang sejak kecil ditanamkan oleh nenek buyutnya. Diponegoro merupakan seorang Muslim yang taat, dalam konteks Sufiiesme Islam Jawa.

Berkobarnya perang Diponegoro yang maha dahsyat namun singkat antara tahun 1825 hingga 1830, telah menggenapi takdir Diponegoro sebagai yang terbilang di antara para leluhur. Dalam pertemuan terakhir dengan Sunan Kalijogo di Parangkusumo, sebelum kembali ke Tegal Rejo, Diponegoro masih sempat mendengar suara gaib dari sang Wali Tanah Jawi tersebut.

"Tidak ada yang lain, Engkau sendiri hanyalah sarana, namun itu tidak akan lama, hanya agar terbilang di antara para leluhur. Ngabdulkamit, selamat tinggal engkau harus pulang ke rumah" begitulah suara gaib Jeng Sunan Kalijogo, yang masih terngiang-ngiang hingga akhir hayatnya pada tahun 1855 di Makasar.

Seperti halnya Ir. Soekarno, Diponegoro juga adalah sang Putera Fajar, karena lahir tepat menjelang fajar, saat kaum muslim bersantap sahur di bulan Ramadhan. Ketika masih dalam gendongan, Diponegoro diramalkan akan menjadi pahlawan besar tanah Jawa, oleh buyutnya yaitu Sultan Mangkubumi pendiri keraton Nyayogyakarta Hadiningrat.
Babad Diponegoro Berakhirnya Perang Jawa II 1825-1830
Itulah sepenggal kisah dalam Babad Diponegoro, yang begitu mashyur hingga ke mancanegara. Babad Diponegoro, merupakan salah satu buku biografi yang pertama di tulis di dunia, tidak mengherankan jika kemudian banyak Sejarawan dunia yang begitu penasaran dengan sosok pahlawan terbesar tanah Jawa abad 19 ini. baim
Soeara Rakjat Just Think of Reading, Writing and Vlogging! We Can Share Everything!

0 Response to "Perjalanan Spiritual Pangeran Diponegoro Dan Ramalan Pecahnya Perang Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel