Kisah Mahabharata Dan Lakon Petruk Dadi Raja Di Indonesia


Soeara Rakjat, Kisah kepahlawanan atau Epik Mahabharata, adalah karya sastra kuno yang berasal dari India. Seperti halnya Odissey dan Illiad karya Homeros dari Yunani, Mahabharata juga erat kaitannya dengan kepercayaan atau agama masyarakat India sejak abad 4 Sebelum Masehi.
Wayang Kulit Lakon Petruk Cungkring Dadi Raja Gubahan Sunan kalijaga
Seni Wayang Kulit Purwa yang Bersumber dari Kisah Mahabharata
Babad Mahabharata, secara tradisional adalah karya dari Vyasa, seorang resi. Kitab Mahabharata adalah gabungan dari 18 kitab atau Astadasapurwa, ke 18 kitab tersebut adalah rangkaian kisah yang memiliki benang merah dan saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

Di Indonesia, kisah Mahabharata pun cukup dikenal luas oleh masyarakat terutama di pulau Jawa. Masyarakat Jawa maupun Sunda di Jawa Barat, begitu mengenal kisah ini dengan beragam versi yang kadang dikaitkan dengan kearifan lokal di daerahnya masing-masing.

Kisah Mahabharata begitu dikenal karena dimasa lalu mayoritas masyarakat di pulau Jawa adalah penganut Hindu.

Agama Hindu sendiri diperkirakan sudah masuk ke tanah Jawa sejak abad ke 4 Masehi. Hal itu dapat dibuktikan dengan keberadaan kerajaan Tarumanegara di daerah antara Bekasi - Karawang, Jawa Barat.

Kerajaan Tarumanegara dengan salah satu raja yang terkenal Purnawarman, eksis hingga abad ke 7. Selain Tarumanegara, Majapahit adalah salah satu kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada di tanah Jawa, sebelum runtuh di abad 15. 

Runtuhnya Majapahit memiliki kaitan erat dengan masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Para penyiar Islam di tanah Jawa, yang lebih dikenal sebagai Walisongo diyakini adalah sebagai pelopor penyebaran Islam di  Jawadwipa.

Adalah Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu Wali yang berdarah asli Jawa yang diyakini pertamakali menggubah kitab Mahabharata menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini. Sunan Kalijaga, banyak menggubah kisah Mahabharata agar sesuai dengan Syariat dan memiliki ciri Islami.

Lakon Wayang yang dahulu kala menjadi tontotan paling digemari oleh masyarakat kemudian dijadikan sebagai sarana Dakwah.

Tak mengherankan jika kemudian Sunan Kalijaga berusaha membuat lakon Wayang yang bersumber dari kisah Mahabharata ini menjadi lebih Islami, tanpa mesti kehilangan esensi dari kisah Mahabharata itu sendiri.

Selain menggubah, Sunan Kalijaga juga banyak membuat kisah carangan, atau rekaan. Diantara yang paling terkenal adalah Layang Jamus Kalimusodo dan Petruk Dadi Ratu. Petruk sendiri adalah anak dari Ki Semar Badranaya, yang merupakan tokoh Punakawan yang juga merupakan hasil rekaan sang Sunan.

Selain tokoh fiktif  Punakawan, salah satu yang paling kontras antara Mahabharata asli dan versi Jawa adalah tokoh Panditha Dorna. Dorna dalam Mahabharata merupakan guru sejati bagi ksatria Hastina, baik itu para Kurawa maupun Pandawa.

Namun dalam versi Wayang Jawa, Dorna justru mengambil peran yang identik dengan Patih Sengkuni yang memiliki sifat fitnah dan menghasut.

Petruk Dadi Raja merupakan sebuah kisah yang sarat Siloka dan makna. Petruk yang hanya seorang Punakawan yang menjadi raja, itu menandakan bahwa seorang rakyat jelata pun bisa memiliki hak yang sama dengan para ksatria dan bangsawan.

Ki Mantheb Sudarsono, adalah seorang dalang besar yang mewakili entitas Wayang Jawa, sementara Asep Sunandar Sunarya, di sebut-sebut sebagai dalang Wayang Sunda terbesar.

Keduanya memiliki pemahaman yang sangat luas, hingga mampu mensinergikan wayang dalam konteks masa kini, baik secara intelektualitas, budaya maupun politik.

Petruk Dadi Ratu atau Raja ini sering di pentaskan dalam gelaran Wayang Jawa Maupun Sunda. Dalam beberapa pentas, Petruk Dadi Ratu adalah sebuah bentuk keniscayaan atas kisruh yang terjadi di negara Hastinapura dan Amarta. Petruk adalah tokoh 'alternatif' di antara para ksatria Pandawa dan Kurawa.

Sayang tidak disebutkan apakah Petruk mampu mensejahterakan rakyatnya saat menjadi raja. Sedangkan baik Amarta atau Hastinapura sendiri di ibaratkan sebagai negara Eka Adi Dasa Purwa, Sekar Wukir Gemah Ripah Loh Jinawi.

Dengan nama besar Hastina atau Amarta, seharusnya Harjuna, Gatutkaca atau Bima yang lebih pantas untuk menjadi raja. Bukan Petruk atau pun tokoh Punakawan lainnya.
Pagelaran Wayang Kulit Purwa Cakra Baskara Subang Jawa Barat
Lakon Petruk Dadi Ratu sendiri hanya ada di Indonesia, karena dalam babad Mahabharata asli tidak ditemukan adanya tokoh Punakawan Ki Semar dan anak-anaknya. baim
Soeara Rakjat Just Think of Reading, Writing and Vlogging! We Can Share Everything!

0 Response to "Kisah Mahabharata Dan Lakon Petruk Dadi Raja Di Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel