Antara Ketahanan Swasembada Pangan dan Alih Fungsi Lahan di Kota Pamanukan, Subang


Soeara Rakjat. Pamanukan, adalah sebuah kota kecamatan atau kota administratif yang ada di wilayah Kabupaten Subang, bagian utara. Kota ini cukup besar, baik itu populasi penduduk maupun perekonomian, Kota Pamanukan memiliki nilai yang cukup signifikan.
Lahan sawah di pamanukan berkurang
Lahan pertanian di Pamanukan Subang Jawa Barat
Letak kota Pamanukan juga cukup strategis, karena Pamanukan berada langsung di perlintasan jalur pantai utara Jawa. Sebelum ada tol Cikopo-Palimanan, Pamanukan adalah kota yang 'wajib' di lewati bagi mereka yang ingin menuju Jakarta-Surabaya hingga Banyuwangi atau sebaliknya.

Selain sebagai kota pusat perniagaan di wilayah utara Subang, Pamanukan juga masih menyimpan potensi pertanian dan perikanan. Meskipun jumlahnya perlahan mulai berkurang, namun masih cukup banyak terdapat sawah-sawah yang luas terbentang di Pamanukan.

Selain sawah, beberapa kilo meter ke arah utara menuju pantai Pondok Bali seperti di Desa Pengarengan, Legon hingga Mayangan, terdapat cukup banyak tambak milik petani yang mengelola budidaya udang maupun ikan. Tambak atau empang dalam bahasa lokal, masih menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar.

Sementara sawah, tentu saja sebagai ladang utama bagi para petani di Pamanukan. Pesawahan yang ada disekitar Pamanukan adalah lahan tekhnis dengan kualitas terbaik. Jika tak ada kendala berarti, hampir dipastikan hasil panen akan selalu berlimpah dalam setiap musimnya.

Namun demikian, bertambahnya populasi penduduk telah membuat wajah kota Pamanukan berubah dari waktu ke waktu. Hal ini berimbas pada makin berkurangnya lahan-lahan pertanian yang kini sudah banyak berubah fungsi menjadi perumahan atau pemukiman.

Cukup banyak sawah-sawah yang di era tahun 1980 hingga 1990 masih  luas membentang, kini berubah menjadi perumahan ataupun tempat kegiatan usaha. Hal itu terpaksa dilakukan, mengingat memang sudah tidak ada lagi ketersediaan lahan.

Jika hal tersebut terus berlangsung, tentunya bukan tidak mungkin akan memicu rasa kekhawatiran terhadap ketahanan pangan. Terlebih, saat Pamanukan dan Kabupaten Subang sendiri masih menjadi lumbung padi nasional, saat ini pula pemerintah masih memberlakukan kebijakan import beras.

Lalu apa yang akan terjadi pada 20 atau 50 tahun mendatang? Tentunya itu menjadi sebuah pertanyaanyang mendasar. Saat ekspansi lahan untuk pemukiman maupun kegiatan usaha makin meningkat, saat itu pula ketahanan akan swasembada pangan kita semakin rawan!

Kabupaten Subang bagian utara, mulai dari Patokbesi, Ciasem, Pamanukan, Pusakanegara hingga Kali Sewo yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, memang masih menyimpan berhektar-hektar lahan dan produksi padi yang sangat melimpah.
Musim Panen di Wilayah Pamanukan Pantura Subang Jawa Barat
Namun jika situasi ini terus berlangsung, bukan tak mungkin kelangkaan dan mahalnya harga pangan akan terjadi. Seiring dengan maraknya penggunaan sawah lahan tekhnis untuk kegiatan usaha dan pemukiman, ketahanan swasembada pangan pun akan semakin terancam. baim
Soeara Rakjat Just Think of Reading, Writing and Vlogging! We Can Share Everything!

0 Response to "Antara Ketahanan Swasembada Pangan dan Alih Fungsi Lahan di Kota Pamanukan, Subang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel