SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
Pecinta Wisata, Seni, dan Budaya

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Tradisi Ruat Laut Ritual Budaya Kuno di Muara Kali Ciasem Subang Jawa Barat

On January 02, 2020 with No comments

Muara Kali Ciasem adalah sebuah kawasan yang cukup terkenal karena menjadi daerah hilir dari sungai Ciasem, di ujung utara wilayah Kabupaten Subang. Setiap dua tahun sekali, di Muara Kali Ciasem ini digelar prosesi ruatan, yang bertujuan untuk menjaga tradisi luhur, dan juga dianggap bisa membawa berkah dan keselamatan.
Sejarah Muara Kali Ciasem Tradisi Ruat Laut di Pantai Utara Subang Blanakan
Legenda Kuno Muara Kali Ciasem Ruat Laut Pesisir Utara Subang
Legenda. Sungai Ciasem Blanakan adalah sebuah sungai yang membentang sepanjang sekitar 60 kilo meter, dari selatan ke arah utara. Sungai Ciasem berhulu di wilayah Sagalaherang Subang, dan bermuara di Teluk Ciasem, di Desa Muara dan Tanjungtiga Blanakan.

Selain sangat terkenal karena menjadi salah satu sungai terbesar yang mengalir di wilayah Subang, sungai Ciasem khususnya di daerah muara juga cukup termashur, karena dianggap menyimpan sisi mistis yang cukup kental.

Tak hanya legenda atau cerita mistis, Sungai Ciasem juga tercatat sangat sering menelan korban jiwa dari penduduk sekitar, yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai.

Sepanjang tahun, selalu ada saja kabar warga yang hilang dan menjadi korban. Sangat sering terdengar kabar, ada warga yang hilang, baik itu tenggelam, terseret arus atau pun hilang secara misterius, di Kali Ciasem, Subang jawa barat.

Karenanya, tak sedikit orang yang lantas mengaitkan peristiwa tersebut, dengan hal mistis dan gaib. Menurut anggapan sebagian orang, di sepanjang daerah aliran sungai Ciasem ini, ada terdapat tempat, atau kerajaan gaib, tempat bersemayam para penunggu Kali Ciasem.

Secara kusus, beberapa kalangan bahkan menyebut adanya kerajaan siluman buaya, dan siluman urang ayu, yang konon mirip puteri duyung seperti di negeri dongeng. Bahkan konon, terdapat juga siluman ular lembu, yang disebut menyerupai kuda nil, di daratan benua afrika.

Tak hanya di daerah hulu, legenda mistis sungai Ciasem ini juga sangat populer hingga ke daerah hilir, sejak wilayah Kecamatan Ciasem, hingga ke daerah pesisir Desa Muara dan Tanjungtiga, di wilayah Kecamatan Blanakan.

Di Muara Kali Ciasem, khususnya di desa Muara dan Tanjungtiga Blanakan, masyarakat nelayan bahkan secara rutin menggelar tradisi ruwatan. Prosesi budaya peninggalan nenek moyang ini berlangsung setiap dua tahun sekali
.
Tak hanya keramaian di sekitar TPI Mina Bahari, tetapi puncak dari prosesi meruat inilah, yang dianggap paling menarik bagi sebagian orang, karena dianggap memiliki sisi spiritual yang cukup kental.

Dalam prosesi puncak ruat laut Muara Ciasem, ada ritual tertentu yang dianggap cukup sakral, yakni membuang sedekah laut berupa kepala kerbau  dan juga sesaji dalam miniatur perahu berukuran kecil.

Sebelum dibawa dan dibuang ke tengah laut, kepala kerbau atau yang lazim disebut dongdang ini akan dibawa menyusuri Muara Kali Ciasem ke arah selatan, dengan dikawal oleh para tokoh dan sesepuh warga nelayan setempat.

Sepanjang perjalanan ke arah selatan, menyusuri Muara Kali Ciasem, seorang tokoh sepuh akan melakukan beberapa ritual dan membaca kalimat tertentu, sambil menghadap pedupaan yang terus mengepulkan asap kemenyan yang cukup pekat.

Menurut sesepuh nelayan yang memimpin ritual Ruat Laut, titik akhir menyusuri Muara Kali Ciasem ke arah selatan ini berada di sekitar Jembatan Gantung Desa Muara, yang juga konon dianggap cukup sakral.

Setelah itu, perahu dongdang sedekah laut akan putar arah dan kembali ke arah utara, menuju dermaga TPI Mina Bahari, di sekitar kampung nelayan Muara Ciasem, dengan diikuti oleh ratusan perahu nelayan, milik warga Desa Muara dan juga Desa Tanjungtiga Blanakan.

Setibanya di dermaga TPI Mina Bahari, perahu dongdang akan disambut tetabuhan gamelan wayang kulit, yang menceritakan lakon tertentu, yang berkaitan dengan tradisi ruat laut tersebut.

Perahu dongdang pun segera melakukan persiapan, untuk melanjutkan perjalanan ke arah utara, ke lepas pantai Laut Jawa di Teluk Ciasem, Subang Jawa Barat. Perahu dongdang yang bergerak ke arah utara ini akan diikuti oleh ratusan perahu milik warga nelayan setempat.

Setibanya di tengah laut, kepala kerbau atau dongdang dan sedekah laut akan dilarung atau dibuang di titik kordinat yang sudah ditentukan. Beberapa nelayan menyebutkan, titik tempat membuang dongdang ini adalah sebuah tempat yang sudah memenuhi unsur Kiblat Papat Kelima Pancer.

Secara filosofis, Kiblat Papat Kelima Pancer mengandung makna empat arah penjuru mata angin, dengan pusat atau titik tengah yang disebut Pancer, yang menjadi tempat untuk membuang dongdang dan sedekah laut.

Terlepas dari semua mitos dan legenda yang ada, ruwat laut adalah ritual kuno peninggalan nenek moyang, yang masih tetap bertahan dan masih terus dilestarikan, oleh sebagian besar komunitas nelayan, khususnya di Pulau Jawa.

Dalam konteks kekinian saat mayoritas nelayan di pesisir Subang sudah memeluk agama islam, tradisi ruwat laut ini juga lazim disebut Sukuran Nelayan. Tradisi ruat laut adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan penguasa alam, atas melimpahnya rejeki berupa hasil tangkapan ikan.
Ruat Laut Tradisi Budaya Leluhur di Muara Kali Ciase, Subang
Bahkan saat ini, tradisi Ruat Laut Muara Ciasem sudah menjadi salah satu destinasi wisata budaya di wilayah pesisir utara (Pantura) Subang. Terlebih, TPI Mina Bahari adalah salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Subang. baim
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »