ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Tradisi Buang Dongdang Sedekah Laut Nelayan Muara Ciasem di Pantura Subang Jawa Barat

On December 04, 2019 with No comments

Dongdang dan sedekah Ruat Laut adalah prosesi budaya yang masih berlaku di tengah warga masyarakat nelayan di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Dongdang sendiri adalah sebuah keramba terbuat dari bambu yang berisi kepala kerbau, termasuk bagian daging tertentu, jeroan hingga darah kerbau.
Sedekah Laut buang dongdang berisi kepala dan darah kerbau ke tengah lautan
Tradisi Buang Dongdang dan Sedekah Ruat Laut Kepala Kerbau
Sedekah laut dan Dongdang Ruat Laut adalah salah satu bagian paling penting dalam rangkaian kegiatan Ruat Laut, yang biasa digelar oleh komunitas warga nelayan terutama di sebagian besar perairan Pulau Jawa.

Secara periodik, komunitas masyarakat nelayan akan menggelar prosesi budaya Ruat Laut, sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang berlimpah berupa hasil tangkapan ikan.

Selain keramaian hiburan dan kesenian rakyat, puncak dari prosesi Ruat Laut sendiri adalah melarung (membuang) dongdang dan sedekah laut ke lepas pantai, dengan diiringi oleh ratusan perahu nelayan.

Dongdang sendiri adalah kepala kerbau yang dibungkus kain putih, lalu disimpan dalam keramba bambu. Selain bagian kepala, bagian daging tertentu, jeroan hingga darah kerbau juga turut disertakan.

Selain dongdang, terdapat juga (sesaji) Sedekah Laut berupa miniatur perahu berukuran kecil yang dihias sedemikian rupa. Sedekah laut ini lantas dibawa bersama dongdang untuk dibuang ke laut lepas.

Namun sebelum dibawa ke tengah laut, dongdang dan sedekah laut akan diarak menyusuri (muara) sungai, yang akan disambut dengan sangat antusias oleh ratusan perahu nelayan milik warga setempat.

Setelah dianggap cukup, perahu utama yang membawa dongdang dan sedekah laut ini akan putar baik di tempat yang telah ditentukan. Setelah putar baik dan menuju ke laut lepas, maka perjalanan perahu dongdang akan diikuti oleh puluhan hingga ratusan perahu nelayan.

Perahu dongdang dan (sesaji) sedekah laut ini akan dibawa ke tengah, dan dibuang atau ditenggelamkan di tempat yang telah ditentukan. Prosesi buang dongdang dan sedekah laut ini sendiri adalah prosesi budaya yang sudah berlangsung turun temurun.

Di perairan Muara Ciasem (Teluk Ciasem) Subang Jawa Barat, prosesi buang dongdang sendiri berlangsung sangat meriah. Ratusan perahu nelayan nampak sangat antusias mengikuti prosesi budaya tersebut.

Sebelum dongdang dibuang, sedekah laut berupa sesaji dalam miniatur perahu akan dibuang lebih dahulu. Setelah sedekah laut dibuang, perahu nelayan berlomba untuk mendekat, agar bisa menabrak atau menyentuh sedekah laut.

Menurut keyakinan sebagian besar nelayan, perahu yang bisa menabrak sedekah laut akan mendapat berkah, dan bisa selalu beruntung (mendapat banyak ikan) saat melaut.

Setelah itu, dongdang berupa kepala kerbau dalam keramba akan dibuang. Perahu nelayan pun akan kembali berlomba untuk bisa menyentuh (menabrak) keramba dongdang, sekaligus menciduk air laut yang berwarna merah karena bercampur darah kerbau.

Dalam tayangan sebuah video, nampak keramaian perahu nelayan saat prosesi buang dongdang dan sedekah laut, dalam puncak prosesi budaya Ruat Laut Muara Ciasem Blanakan Subang Jawa Barat.

Dalam menit ke 12.30 bahkan nampak seorang pengawal perahu dongdang terlihat seperti meracau tanpa sadar, yang oleh sebagian nelayan di Muara Ciasem dianggap sedang kesurupan atau kerasukan.
Buang Dongdang Sedekah Ruat Laut Muara Ciasem Blanakan Subang
Terlepas dari mitos dan keyakinan sebagian orang, prosesi Ruat Laut sendiri sudah menjadi bagian tak terpisah dari kehidupan para nelayan. Ruat Laut bahkan sudah dijadikan sebagai salah satu kearifan lokal dan juga wisata budaya di Pantura Subang. mch
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »