ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Harga Jual Gabah Anjlok Karena Masuknya Beras Impor, Petani di Muara, Blanakan, Subang Menjerit

On October 16, 2017 with No comments

Kabupaten Subang, merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang saat ini tengah memasuki musim panen. Hampir di sebagian besar tempat, saat ini tengah memasuki musim panen. Namun demikian, kondisi ini malah dikeluhkan oleh banyak petani. Hal tersebut dikarenakan anjloknya harga jual gabah ditingkat petani. Padahal, biaya tanam dan perawatan hingga memasuki musim panen lumayan besar.
Harga gabah di pantura subang anjok
Seorang Petani di Desa Muara, Blanakan.
Soeara Rakjat. Blanakan. Beberapa daerah di Subang, Jawa Barat, saat ini memang sedang memulai musim panen. Di beberapa sentra penghasil padi seperti di kecamatan Ciasem, Patokbesi, Sukasari hingga kecamatan Blanakan, para petani terlihat sudah mulai memanen sawahnya masing-masing.

Seperti di kecamatan Blanakan tepatnya di Desa Muara. Di desa ini, saat ini tengah berlangsung panen raya. Di desa yang letak geografisnya memanjang dari selatan ke utara mengikuti aliran sungai Ciasem ini, musim panen sudah berlangsung sejak sepekan lalu.

Namuh bukannya rasa bahagia yang kini dirasakan para petani pemilik lahan. Sebagian besar dari petani tersebut malah mengeluh karena harga jual gabah ditingkat petani sedang anjlok. Padahal, mereka berharap musim panen ini bisa menghasilkan keuntungan yang besar.

Menurut beberapa petani, anjolknya harga jual gabah dikarenakan masuknya berasi mpor dari vietnam. Dengan kondisi tersebut, harga gabah atau beras lokal praktis terganggu. Kabar masuknya beras impor asal Vietnam tersebut didapat dari para bakul (pemborong) yang membeli padi, lalu menggiling menjadi beras dan menjualnya ke beberapa pasar induk beras seperti Cipinang dan Kramat Jati.

Hal tersebut diungkap oleh seorang petani asal Dusun Sukamulya, Desa Muara, Ratno Hartono Syarifuddin yang mengaku hasil panennya dihargai lebih murah karena masuknya beras impor. "Gabah kami dihargai murah karena masuknya beras impor ke pasar induk Cipinang. Kabar itu kami dapat dari para bakul (pemborong)."


Lebih lanjut, ia mengungkap fluktuasi harga gabah sejak sepekan lalu hingga sekarang, yang menurutnya sangat stagnan dan tidak memberikan keuntungan lebih. "Pekan lalu, harga gabah jenis Ciherang dihargai Rp 5.850 per kilogram. Beberapa hari terakhir berkisar antara Rp 5.500-Rp 6.100 per kilogram," papar pria yang akrab disapa Ratno ini saat ditemui di Azahra Sport Stations.

Dengan kondisi tersebut, tentunya para petani berharap pemerintah bisa ikut turun tangan mengendalikan harga gabah. Petani berharap adanya campur tangan dari pemerintah untuk menstabilkan harga dan pungutan liar (pungli) di lapangan. "Mewakili warga desa, kami berharap pemerintah bisa melakukan terobosan yang bisa menguntungkan kami para petani," pungkasnya. mch/baim
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »