ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Sejarah Ruat Laut dan Misteri Keangkeran Alas Jengki di Muara Sungai Ciasem

On June 13, 2017 with No comments

Alas Jengki, adalah kawasan hutan yang berada persis di muara sungai Ciasem, Subang, Jawa Barat. Alas Jengki merupakan sebuah kawasan hutan di tepi pesisir laut Jawa hingga beberapa kilo meter ke arah selatan sebelum TPI Mina Bahari Desa Muara. Hingga pertengahan 1980-an, Alas Jengki masih banyak dihuni oleh kawanan monyet atau kera, dan beberapa jenis burung yang kini mengalami kepunahan.
Alas jengki di teluk ciasem tarunamuara.blogspot.com
Parade Perahu Ruat Laut Desa Muara di Teluk Ciasem
Soeara Rakjat. Desa Muara, Kecamatan Blanakan, adalah sebuah desa pesisir yang lokasinya memanjang dari arah selatan ke utara dan mengikuti aliran sungai Ciasem. Karena persis berada di sepanjang aliran muara sungai Ciasem, tidaklah mengherankan jika di desa ini sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan.

Selain nelayan, di desa ini juga cukup banyak para petani tambak yang mengelola budidaya ikan dan udang. Para petani tersebut menggarap lahan tambak yang mulai banyak ditemukan sejak sekitar Dusun Sukaasih (kawasan Kalimalang) hingga berakhir di pesisir utara. Selain budidaya tradisional, belakangan para petani tambak Desa Muara juga menerapkan budidaya modern udang Vaname.

Beberapa puluh tahun yang lalu, di kawasan tambak persisnya di pesisir Teluk Ciasem, masyarakat desa Muara mengenal keberadaan sebuah hutan yang menurut para orang tua disebut Alas Jengki. Alas Jengki adalah sebuah hutan di tepi pesisir yang banyak dihuni oleh kawanan kera, babi, macan tutul, dan burung langka khas pesisir.

Hingga pertengahan 1980-an saat kawasan ini perlahan mulai berubah fungsi menjadi areal tambak, masyarakat desa masih bisa melihat kawanan monyet bergelantungan di atas pepohonan. Monyet-monyet tersebut bisa dengan mudah dilihat saat warga menaiki perahu dan melintas di kawasan muara Sungai Ciasem tersebut.

Sayangnya, saat ini sudah tak ada lagi binatang penghuni alas jengki karena hutan ini sendiri sudah hilang dan berubah fungsi menjadi areal tambak ikan dan udang. Selain musnahnya alas jengki, teluk Ciasem juga saat ini sudah kehilangan hutan bakau yang dahulu banyak tumbuh di tepi pesisir. Meski demikian, pemerintah daerah berusaha untuk mengembalikan tanaman bakau tersebut untuk kembali memperbaiki ekosistem di sepanjang pesisir utara Laut Jawa.

Dahulu kala, alas jengki sendiri menyimpan banyak cerita misteri karena banyaknya binatang liar dan keberadaan kerajaan gaib yang diyakini oleh sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat bahkan meyakini monyet dan babi hutan yang saat itu banyak berkeliaran sebagiannya adalah babi siluman atau babi jadi-jadian.

Menurut seorang ahli supranatural Desa Muara, sebagian masyarakat meyakini kawasan pesisir di Teluk Ciasem berada di bawah kekuasan Batara Kara. Karenanya, dahulu kala sering diadakan ritual-ritual tertentu pas menjelang Ruat Laut, agar para nelayan yang mencari ikan di daerah tersebut selalu mendapat hasil tangkapan yang banyak dan tak mendapat gangguan dari mahluk gaib.

Ruat Laut Desa Muara sendiri adalah ritual budaya yang sudah berlangsung secara turun temurun. Menurut beberapa tokoh sepuh nelayan, Ruat Laut bahkan diyakini sudah dilakukan oleh para leluhur nelayan desa Muara jauh sebelum KUD Mina Bahari berdiri pada sekitar tahun 1932.

Saat itu, para sesepuh dan tokoh desa akan menggelar ritual dan sesaji di sekitar alas Jengki yang saat itu masih berupa hutan yang lebat. Sesaji berupa makanan, minuman, bunga dan kemenyan yang biasa disajikan saat menjelang Ruat Laut ini lantas menjadi perebutan kawanan monyet yang menghuni alas jengki.

"Alas Jengki adalah hutan lebat yang angker dan banyak dihuni binatang liar. Saat itu masih ada sungai Jengki yang menuju daerah Balanakan. Saat kanak-kanak, saya sering melewati kalen Jengki dengan perahu petek (perahu kecil)," kenang Ki Rusta, seorang warga Desa Muara berusia 80 tahun lebih yang sejak kecil berprofesi sebagai nelayan.

Hutan atau alas Jengki sendiri kini hanya tinggal cerita yang cuma bisa dikenang oleh generasi 1980-an, yang mendengar langsung kisah tersebut dari para orang tua mereka. Padahal, alas jengki dan areal tambak desa Muara memiliki nilai historis yang kental karena saat itu menjadi salah satu tempat persembunyian para pejuang Indonesia saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Bahkan menurut catatan sejarah, KUD Mina Bahari yang berdiri pada 1930-an ini menjadi basis pengiriman logistik untuk para pejuang dan gerilyawan. Saat perang kemerdekaan menghadapi Agresi Militer Belanda ke-2, masyarakat nelayan Desa Muara dan Tanjungtiga memiliki peran besar karena turut terlibat langsung dengan membantu para pejuang yang bersembunyi di sekitar alas jengki.

Saat ini, hutan jengki hanya menyisakan sedikit pepohonan dan tumbuhan semak yang bisa dilihat saat masyarakat desa melintas di sekitar muara Sungai Ciasem dengan menggunakan perahu. Sungai Ciasem sendiri adalah sebuah sungai purba yang besar dan konon pernah disinggahi oleh armada laut Kerajaan Mataram Islam saat menyerbu Batavia (Jakarta) di awal abad 17.
Namun demikian, masyarakat desa terutama para nelayan yang berusia 60 tahun lebih dan sudah melaut sejak usia kanak-kanak mengaku masih ingat betul akan keberadaan Alas Jengki. Di masa lalu, alas Jengki adalah hutan lebat yang menyeramkan karena banyak dihuni binatang liar. mch
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »