ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Sejarah Tradisi Nyasak di Jembatan Gantung Desa Muara-Tanjungtiga Saat Hari Lebaran

On June 24, 2017 with No comments

Jembatan gantung desa muara blanakan
Jembatan Gantung Desa Muara saat Lebaran
Soeara Rakjat, Desa Muara. Jembatan Gantung Desa Muara-Tanjungtiga, adalah sebuah jembatan penyebrangan yang menghubungkan kedua desa di wilayah pesisir utara Subang, tepatnya di kecamatan Blanakan. Jembatan ini menjadi akses utama bagi warga di kedua desa ataupun para pengendara yang hendak melintas hingga ke wilayah Cilamaya dan Pamanukan atau sebaliknya.

Jelang Hari Raya Iedul Fitri, jembatan gantung desa muara akan kembali semarak oleh para penyeberang dan juga para pedagang yang berjejer di sisi kiri-kanan jalan. Banyaknya warga yang menyeberang dan berlalu-lalang, membuat jembatan ini mendadak seperti menjadi bazaar atau pasar rakyat.

Selain warga yang hendak menyeberang, sebagian besar lainnya adalah mereka yang ingin merayakan lebaran di jembatan tersebut. Bagi warga desa Muara dan Tanjungtiga yang tidak memiliki acara di hari lebaran, tak sedikit dari mereka terutama kaum muda yang lantas mendatangi sekitar jembatan ini untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati berbagai jajanan yang ada.


Budaya Nyasak saat lebaran di jembatan gantung Desa Muara ini konon sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Sudah sejak pertamakali jembatan ini ada, warga sudah memanfaatkan jembatan tersebut untuk menyeberang dan besrilaturahmi dengan keluarga masing-masing. Lebih dari itu, banyak pula warga khususnya kaum muda yang kemudian merayakan lebaran di jembatan ini.

Meski konon jembatan ini sangat angker, namun khusus di hari lebaran jembatan gantung desa Muara seperti kehilangan aura msitisnya. Meski sangat sering terdengar terjadinya penampakan-penampakan di masa lalu, namun jembatan yang dibangun pada tahun 1965 ini sepertinya tak lagi menyimpan misteri.

Menurut beberapa tokoh sepuh, tradisi merayakan lebaran di jembatan gantung desa Muara memang sudah ada sejak lama. Terlebih, pernah ada pula sebuah pasar yang hingga tahun 1950-an berlokasi tak jauh dari jembatan ini. Saat itu, Pasar Reboan adalah sebuah pasar yang menjadi akses ekonomi bagi warga Desa Muara dan Tanjungtiga.


"Melihat keramaian jembatan gantung Muara saat lebaran, saya teringat akan Pasar Reboan yang pernah ada di sebelah selatan jembatan sekitar tahun 1950-an. Saat itu saya masih kecil," kenang Ki Rusta.

Bahkan menurutnya, jembatan gantung ini juga banyak memiliki kenangan karena tidak sedikit warga desa Muara dan Tanjungtiga yang saling jatuh cinta, berpacaran dan menemukan jodohnya di atas jembatan tersebut. mch
H-2 Lebaran, Jalur Pantura Subang Ciasem-Pamanukan Ramai Lancar

On June 23, 2017 with No comments


Soeara Rakjat. Pamanukan. Memasuki H-2 Lebaran, jalur utama di peaisir utara tepatnya di Kabupaten Subang nampak ramai lancar. Hampir tak ada kemacetan berarti selain dari sedikit kepadatan saat menjelang memasuki pasar ataupun SPBU.
Arus mudik Lebaran, Jalur Pantura Subang ramai lancar
Hingga sore ini pukul 16.00 WIB, jalur pantura Subang mulai dari daerah Patokbesi, Ciasem hingga Pamanukan terpantau sangat lancar. Meski suasana cukup ramai, para pengendara baik roda dua atau roda empat bisa memacu kendaraannya hingga 60-80 km/jam.

Seperti yang terjadi daerah Kecamatan Ciasem. Di sini, arus lalu lintas, hanya terjadi sedikit kepadatan saat memasuki pasar Ciasem. Selepas itu, suasana kembali normal dan ramai lancar.

Sedikit kepadatan akan kembali terjadi saat memasuki daerah Sukasari, yang mana di daerah ini terdapat sebuah SPBU. Kepadatan di sekitar SPBU ini adalah imbas dari banyaknya kendaraan roda dua atau empat yang keluar masuk dari pom bensin tersebut.

Selebihnya, Arus Mudik Lebaran 2017 yang di jalur Pantura saat ini didominasi oleh kendaraan roda dua tersebut tetap lancar hingga ke daerah Pamanukan.

Menurut Yoyo, seorang pemudik asal Cirebon yang ditemui saat singgah sekitar Pasar Ciasem, dirinya mengaku sangat senang karena bisa mudik dalam situasi lalu lintas yang ramai lancar. Terlebih, cuaca sejak tadi pagi hingga sore hari ini tertutup mendung dan diselingi rintik gerimis.

"Selain lancar suasananya juga sejuk. Sampai Cirebon juga tak merasa lelah jika cuacanya terus mendung," ujarnya. mch


Dikirim oleh M. Chaerudin pada 22 Juni 2017
Ikatan Remaja Masjid Nurul Huda Desa Muara Gelar Shalawat dan Buka Puasa Bersama

On June 18, 2017 with No comments

Memasuki hari ke 23 bulan puasa, Masjid Nurul Huda Desa Muara menggelar kegiatan bershalawat dan dilanjut dengan buka puasa bersama. Kegiatan yang digagas Remaja Masjid Nurul Huda ini dilangsungkan di halaman mesjid yang berlokasi di Dusun Sukamulya, Desa Muara.
Shalawat dan Buka Puasa Bersama di Masjid Nurul Huda Desa Muara
Soeara Rakjat. Masjid Nurul Huda Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, adalah sebuah masjid yang berlokasi persis di perempatan desa, tepatnya di Dusun Sukamulya. Memasuki bulan suci Ramadhan, masjid ini terhitung sudah beberapakali menggelar kegiatan yang berkaitan dengan puasa.

Salah satunya adalah kegiatan shalawat dan buka puasa bersama yang dilangsungkan pada hari ke-23 atau memasuki hari ke-24 puasa. Ikatan Remaja Masjid Nurul Huda bersama Karang Taruna Desa Muara lantas mengundang seluruh warga desa khususnya kaum muda untuk bersama-sama mendatangi masjid tersebut.

Menurut panitia kegiatan Shalawat dan Buka Puasa Bersama Masjid Nurul Huda menyebutkan, kegiatan ini untuk lebih mengeratkan tali silaturahmi masyarakat desa terutama para pemuda. Selain itu, acara ini juga diharapkan bisa memberikan teladan agar para pemuda bisa mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan yang positif.


Menurut salah satu penggagas kegiatan yang juga Ketua Karang Taruna Desa Muara Hartono Syarifuddin mengungkapkan, pihaknya bersama remaja masjid telah menyiapkan semuanya termasuk menu untuk berbuka puasa para peserta.

"Kami memang mengundang kepada seluruh warga khususnya para pemuda agar bisa bersama-sama mendatangi masjid Nurul Huda untuk menghadiri acara Shalawat dan buka puasa bersama. Kami sediakan nasi goreng, es teh manis dan aneka kue juga gorengan untuk berbuka," ujar Hartono Syarifuddin.


Dikirim oleh Ratno Hartono Syaripudin pada 18 Juni 2017
Sejarah Ruat Laut dan Misteri Keangkeran Alas Jengki di Muara Sungai Ciasem

On June 13, 2017 with No comments

Alas Jengki, adalah kawasan hutan yang berada persis di muara sungai Ciasem, Subang, Jawa Barat. Alas Jengki merupakan sebuah kawasan hutan di tepi pesisir laut Jawa hingga beberapa kilo meter ke arah selatan sebelum TPI Mina Bahari Desa Muara. Hingga pertengahan 1980-an, Alas Jengki masih banyak dihuni oleh kawanan monyet atau kera, dan beberapa jenis burung yang kini mengalami kepunahan.
Alas jengki di teluk ciasem tarunamuara.blogspot.com
Parade Perahu Ruat Laut Desa Muara di Teluk Ciasem
Soeara Rakjat. Desa Muara, Kecamatan Blanakan, adalah sebuah desa pesisir yang lokasinya memanjang dari arah selatan ke utara dan mengikuti aliran sungai Ciasem. Karena persis berada di sepanjang aliran muara sungai Ciasem, tidaklah mengherankan jika di desa ini sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan.

Selain nelayan, di desa ini juga cukup banyak para petani tambak yang mengelola budidaya ikan dan udang. Para petani tersebut menggarap lahan tambak yang mulai banyak ditemukan sejak sekitar Dusun Sukaasih (kawasan Kalimalang) hingga berakhir di pesisir utara. Selain budidaya tradisional, belakangan para petani tambak Desa Muara juga menerapkan budidaya modern udang Vaname.

Beberapa puluh tahun yang lalu, di kawasan tambak persisnya di pesisir Teluk Ciasem, masyarakat desa Muara mengenal keberadaan sebuah hutan yang menurut para orang tua disebut Alas Jengki. Alas Jengki adalah sebuah hutan di tepi pesisir yang banyak dihuni oleh kawanan kera, babi, macan tutul, dan burung langka khas pesisir.

Hingga pertengahan 1980-an saat kawasan ini perlahan mulai berubah fungsi menjadi areal tambak, masyarakat desa masih bisa melihat kawanan monyet bergelantungan di atas pepohonan. Monyet-monyet tersebut bisa dengan mudah dilihat saat warga menaiki perahu dan melintas di kawasan muara Sungai Ciasem tersebut.

Sayangnya, saat ini sudah tak ada lagi binatang penghuni alas jengki karena hutan ini sendiri sudah hilang dan berubah fungsi menjadi areal tambak ikan dan udang. Selain musnahnya alas jengki, teluk Ciasem juga saat ini sudah kehilangan hutan bakau yang dahulu banyak tumbuh di tepi pesisir. Meski demikian, pemerintah daerah berusaha untuk mengembalikan tanaman bakau tersebut untuk kembali memperbaiki ekosistem di sepanjang pesisir utara Laut Jawa.

Dahulu kala, alas jengki sendiri menyimpan banyak cerita misteri karena banyaknya binatang liar dan keberadaan kerajaan gaib yang diyakini oleh sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat bahkan meyakini monyet dan babi hutan yang saat itu banyak berkeliaran sebagiannya adalah babi siluman atau babi jadi-jadian.

Menurut seorang ahli supranatural Desa Muara, sebagian masyarakat meyakini kawasan pesisir di Teluk Ciasem berada di bawah kekuasan Batara Kara. Karenanya, dahulu kala sering diadakan ritual-ritual tertentu pas menjelang Ruat Laut, agar para nelayan yang mencari ikan di daerah tersebut selalu mendapat hasil tangkapan yang banyak dan tak mendapat gangguan dari mahluk gaib.

Ruat Laut Desa Muara sendiri adalah ritual budaya yang sudah berlangsung secara turun temurun. Menurut beberapa tokoh sepuh nelayan, Ruat Laut bahkan diyakini sudah dilakukan oleh para leluhur nelayan desa Muara jauh sebelum KUD Mina Bahari berdiri pada sekitar tahun 1932.

Saat itu, para sesepuh dan tokoh desa akan menggelar ritual dan sesaji di sekitar alas Jengki yang saat itu masih berupa hutan yang lebat. Sesaji berupa makanan, minuman, bunga dan kemenyan yang biasa disajikan saat menjelang Ruat Laut ini lantas menjadi perebutan kawanan monyet yang menghuni alas jengki.

"Alas Jengki adalah hutan lebat yang angker dan banyak dihuni binatang liar. Saat itu masih ada sungai Jengki yang menuju daerah Balanakan. Saat kanak-kanak, saya sering melewati kalen Jengki dengan perahu petek (perahu kecil)," kenang Ki Rusta, seorang warga Desa Muara berusia 80 tahun lebih yang sejak kecil berprofesi sebagai nelayan.

Hutan atau alas Jengki sendiri kini hanya tinggal cerita yang cuma bisa dikenang oleh generasi 1980-an, yang mendengar langsung kisah tersebut dari para orang tua mereka. Padahal, alas jengki dan areal tambak desa Muara memiliki nilai historis yang kental karena saat itu menjadi salah satu tempat persembunyian para pejuang Indonesia saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Bahkan menurut catatan sejarah, KUD Mina Bahari yang berdiri pada 1930-an ini menjadi basis pengiriman logistik untuk para pejuang dan gerilyawan. Saat perang kemerdekaan menghadapi Agresi Militer Belanda ke-2, masyarakat nelayan Desa Muara dan Tanjungtiga memiliki peran besar karena turut terlibat langsung dengan membantu para pejuang yang bersembunyi di sekitar alas jengki.

Saat ini, hutan jengki hanya menyisakan sedikit pepohonan dan tumbuhan semak yang bisa dilihat saat masyarakat desa melintas di sekitar muara Sungai Ciasem dengan menggunakan perahu. Sungai Ciasem sendiri adalah sebuah sungai purba yang besar dan konon pernah disinggahi oleh armada laut Kerajaan Mataram Islam saat menyerbu Batavia (Jakarta) di awal abad 17.
Namun demikian, masyarakat desa terutama para nelayan yang berusia 60 tahun lebih dan sudah melaut sejak usia kanak-kanak mengaku masih ingat betul akan keberadaan Alas Jengki. Di masa lalu, alas Jengki adalah hutan lebat yang menyeramkan karena banyak dihuni binatang liar. mch
Gelar Safari Ramadhan dengan Kader dan Masyarakat Ciasem, ARD Tegaskan Pentingnya Silaturahmi

On June 10, 2017 with No comments

Ketua DPD PAN Subang Asep R Dimyati atau ARD, saat ini tengah aktif menggelar safari Ramadhan dengan mengunjungi kader-kader PAN di barisan akar rumput yang tersebar di seluruh pelosok Kabupaten Subang. ARD nampak sangat aktif melakukan silaturahmi dan juga konsolidasi dengan pengurus dan kader di tingkat kecamatan.

Safari ramadhan ard subang
Ketua DPD PAN Subang gelar Safari Ramadhan di Ciasem
Soeara Rakjat, Subang. Bulan Suci Ramadhan, selalu memiliki nilai tersendiri bagi umat Islam dan kerap dimanfaatkan sebagai ajang untuk lebih mempererat tali silaturahmi. Momen Ramadhan yang begitu istimewa, selalu menghadirkan suasana yang penuh berkah dan rasa persaudaraan. Karenanya, Ramadhan juga dijadikan ajang untuk saling mengunjungi dan bersilaturahmi.

Seperti yang dilakukan oleh Ketua DPD PAN Subang Asep Rochman Dimyati, yang belakangan ini terus melakukan Safari Ramadhan dengan kader-kader PAN Subang. Sejak awal Ramadhan, pria yang lebih akrab disapa ARD ini hampir setiap harinya selalu menggelar silaturahmi sekaligus sebagai ajang penguatan dan konsolidasi.

Selain mengunjungi kader-kadernya, ARD juga nampak kerap menyambangi berbagai pondok pesantren dan majlis taklim yang tersebar di beberapa wilayah di Subang. Tak hanya bersilaturahmi, ARD juga kerap memberi dorongan dan motivasi baik dari sisi moril dan materil.

Seperti yang dilakukan ARD pada Jumat, 9 Juni 2017 kemarin. Bersama DPC PAN Kecamatan Ciasem, ARD lantas menggelar acara berbuka puasa bersama yang dilanjut dengan shalat Tarawih. Selepas itu, dengan difasilitasi oleh DPC PAN Ciasem ARD lantas menggelar silaturahmi bersama warga dan tokoh masyarakat setempat.

Saat dikonfirmasi, ARD mengungkap tujuan utama DPD PAN Subang menggelar silaturahmi ke setiap cabang adalah untuk penguatan. Ketua DPN PAN ini menegaskan, kader PAN di daerah harus mampu menjalin komunikasi baik itu dengan DPD, sesama kader terlebih dengan masyarakat.

"Ajang silaturahmi ini bertujuan untuk penguatan. Kami berharap kader-kader PAN di daerah mampu membengun sinergi dengan masyarakat. Terlepas dari agenda politik kita ke depan, konsolidasi dan silaturahmi tetap harus dilakukan, terlebih ini adalah bulan ramadhan," tegas Asep Rochman Dimyati saat ditemui di kantor DPD PAN Subang.

Lebih lanjut, ARD juga menekankan agar setiap kader harus sudah merasa siap karena dalam rentang waktu yang terlalu lama akan ada agenda penting yakni Pilkada Subang dan Pilgub Jawa Barat. "Ajang silaturahmi ini juga sangat penting karena sebentar lagi kita akan menyongsong pesta demokrasi pada 2018 mendatang."

Saat ini, nama ARD sendiri santer diberitakan akan maju sebagai Bakal Calon Bupati/Wakil Bupati dalam Pilkada Subang 2018. Popularitas dan elektabilitasnya yang terus menguat, membuat nama ARD makin populer dan mampu bersaing dengan beberapa tokoh dan politisi Subang lainnya.

Shalawat Akbar di Kec. Binong Subang
Ratusan Santri dan Santriwati Menyambut dengan Heboh Kedatangan ARD di Pondok Pesantren Darul Ifda, Kec. Binong - Subang. rangkaian Kegiatan Menyambut Bulan Suci Ramadhan 2017
Dikirim oleh Video ARD Channel pada 31 Mei 2017
Menara Masjid Nurul Huda, Bangunan Bersejarah di Desa Muara, Dibangun Sejak 1982

On June 03, 2017 with No comments

Menara Masjid Nurul Huda, adalah sebuah menara masjid yang berlokasi di Dusun Sukamulya, Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat. Menara dengan arsitektur bernuansa Timur-Tengah ini berlokasi di perempatan desa, yang sekaligus menjadikan bangunan tersebut sebagai ikon desa.

Menara Masjid Nurul Huda Desa Muara
Soeara Rakjat. Desa Muara. Masjid Nurul Huda, adalah sebuah masjid tempat umat Islam yang ada di desa Muara melaksanakan ibadah atau kegiatan keagamaan. Sebagai salah satu masjid tertua, Masjid Nurul Huda juga pernah menjadi masjid desa karena lokasinya yang memang berada di Dusun Sukamulya yang merupakan Ibukota atau pusat pemerintahan Desa Muara.

Hingga akhir dekade 1980-an, Masjid Nurul Huda tak hanya menampung jamaah asal dusun Sukamulya saja. Saat itu, jamaah dari Dusun Sukaasih dan Sukamanah juga turut beribadah di masjid tersebut, terutama saat Shalat Jum'at atau Shalat Ied baik Iedul Fitri maupun Iedul Qur'ban. Lebih dari itu, Masjid Nurul Huda juga menjadi pusat kegiatan peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi atau Isra Mi'raj.

Di masjid tersebut, berdiri sebuah menara yang tinggi menjulang dengan gaya arsitektur Timur-Tengah. Menurut berbagai catatan, menara Masjid Nurul Huda ini mulai dibangun sekitar tahun 1982. Saat itu, Desa Muara sendiri berada di bawah kepemimpinan Kepala Desa HM. Rosyidi AF.

Hingga pertengahan tahun 1990-an, Menara Masjid Nurul Huda ini menjadi satu-satunya bangunan paling ikonik dan paling dikenal oleh masyarakat setempat. Bahkan karena tingginya yang mencapai 5 meter lebih, konon dari atas menara tersebut akan bisa melihat dengan jelas pesisir atau pantai Laut Jawa di sekitar teluk Ciasem.

Saat itu, menara ini juga kerap dimanfaatkan oleh siswa-siswa dari dua Sekolah Dasar yang lokasinya berada di sekitar masjid, yaitu SDN I Muara dan MI Nurul Huda. Saat jam istirahat, cukup banyak para siswa yang kemudian memanjat menara hingga ke tingkat paling atas untuk bisa melihat pesisir pantai laut Jawa di bagian utara.

Menurut mendiang HM Rodyidi AF, pembangunan menara ini bertujuan untuk membangkitkan girah dan syiar Islam di desa tersebut. Selain itu, menara ini juga berfungsi untuk menempatkan pengeras suara (speaker) agar berada di tempat yang lebih tinggi supaya kumandang azan bisa didengar oleh sebagian besar masyarakat desa.

Hingga saat ini, Masjid Nurul Huda sendiri menjadi salah satu masjid yang paling aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan juga kegiatan sosial. Di masjid ini, kerap digelar pengajian rutin baik itu kaum ibu maupun pengajian bapak-bapak. Lebih dari itu, masjid ini juga tak pernah sepi dari jamaah yang menunaikan shalat lima waktu.


Sing pada kangen ning tausiahe Utd. H. Mutohar, yuk kita mengaji setiap Hari Minggu Ba'da Isya. Tapsir Qur'an dimulai dari Surat Al-Baqarah. Tempat : Masjid Nurul Huda Prapatan Muara.
Dikirim oleh Ratno Hartono Syaripudin pada 14 Mei 2017

Di usianya yang mencapai 30 tahun lebih, Menara Masjid Nurul Huda seolah menjadi saksi bisu dari perjalanan dan peradaban Islam di desa Muara. Sampai detik ini, menara tersebut tetap berdiri kokoh dan menjadi peletup semangat dan motivasi bagi para ulama, dai dan tokoh-tokoh Islam Desa Muara dari generasi ke generasi. mch
Potensi Bisnis Ikan dan Udang di Kawasan Blanakan dan Pantura Subang

On June 01, 2017 with No comments

Potensi usaha ikan dan udang di Desa Muara, adalah salah satu yang terbesar di kawasan pesisir utara Subang, Jawa Barat. Selain luasnya areal tambak budidaya ikan dan udang, di desa ini juga banyak terdapat perusahaan dari skala kecil, menengah hingga besar yang bergelut di bidang perikanan dan udang.

Seorang pekerja sedang mensortir dan mengemas udang
Soeara Rakjat, Desa Muara, adalah salah satu desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Blanakan dan dikenal sebagai salah satu penghasil produksi ikan dan udang terbesar di kawasan utara Subang. Bersama beberapa desa lainnya di wilayah Blanakan, potensi hasil perikanan di desa ini sangatlah menjanjikan.

Selain hasil budidaya tambak, desa Muara juga dikenal produktif dengan hasil tangkapan (ikan) lautnya. Di desa ini, cukup banyak terdapat nelayan tradisional yang setiap harinya melaut untuk menangkap ikan dan udang.

Karenanya, di desa ini juga berdiri sebuah Koperasi Unit Desa (KUD) yang menjadi induk para nelayan di Desa Muara dan juga Desa Tanjungtiga yang menjadi tetangganya. KUD Mina Bahari adalah salah satu yang tertua dan terbesar di Subang, bahkan di Jawa Barat bagian utara.

Besarnya potensi yang ada, tentunya banyak melahirkan pengusaha-pengusaha yang mengelola hasil perikanan tersebut. Ikan dan udang hasil budidaya maupun tangkapan laut ini kemudian dibeli dan ditampung oleh para pengusaha sebelum akhirnya dipasarkan ke berbagai daerah terutama ke Ibukota Jakarta.

Sebelum dipasarkan, udang-udang ini akan disortir dan dikemas sedemikian rupa sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pasar. Sebelum dikemas, udang-udang tersebut akan disortis berdasarkan jenis dan ukuran, agar menghasilkan size atau ukuran yang sama.

Setelahnya, udang-udang ini akan dikirim ke berbagai tempat terutama di Jakarta. Selain dipasarkan di pasar ikan dan udang skala nasional seperti Muara Angke dan Pasar Ikan, sebagiannya juga dikirim ke berbagai perusahaan atau pabrik pengolahan dan juga perusahaan ekspor-impor udang dan ikan.

Selain menampung ikan dan udang hasil budidaya atau tangkapan laut, kehadiran usaha dagang (UD) yang dikelola oleh para pengusaha di desa Muara ini juga memberi cukup banyak lapangan pekerjaan pada warga sekitarnya. Saat ini, ratusan warga desa Muara bekerja di berbagai perusahaan ikan dan udang, hingga industri pengolahan ikan asin.
Seorang warga Dusun Sindanglaut, Desa Muara bahkan menuturkan, dirinya sudah sangat lama bekerja di salah satu perusahaan. "Saya sudah sangat lama bekerja di sini. Selain menyortir dan mengemas udang atau ikan, saya juga sering ke Jakarta yaitu Muara Angke dan Pasar Ikam untuk mengawal," ujar Baron, seorang karyawan UD Kacung Jaya. mch