ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Gerebeg Maulud dan Kemeriahan Ritual Pajang Jimat di Keraton Cirebon, Jawa Barat

On January 29, 2017 with No comments


Soeara Rakjat, Budaya. Panjang Jimat, adalah salah satu tradisi yang sudah sangat melekat dalam lingkungan keluarga Keraton Cirebon, dan sebagian masyarakat Jawa Barat. Pajang jimat adalah sebuah ritual yang melengkapi kegiatan gerebeg Maulud, saat memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.
Pajang jimat dalam muludan di keraton cirebon
Ritual Pajang Jimat di Keraton Cirebon
Ritual pajang jimat di Keraton Cirebon ini tak jauh berbeda dengan Gerebeg Sekaten yang biasa diselenggarakan di Kesultanan Yogyakarta. Jika menilik dari sejarahnya, kedua ritual yang biasa digelar saat memperingati Maulid Nabi ini adalah peninggalan zaman Walisanga atau Kerajaan Demak, yang kemudian diteruskan oleh  Mataram Islam di abad 17.

Saat Kerajaan Demak berdiri sekaligus sebagai pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa, para Wali tanah Jawa juga sering berkumpul di Cirebon, Jawa Barat untuk bermusyawarah. Saat itu, para wali berkumpul di Kesultanan Cirebon dengan Keratonnya yang saat ini dikenal dengan Pakungwati yang berdiri sekitar tahun 1430.

Beberapa sejarawan juga menyebut bahwa ritual pajang jimat atau pelal di Cirebon ini sudah digelar sejak awal abad 15. Hal itu membuktikan bahwa prosesi ini sudah berlangsung sejak zaman para wali. Belakangan, Keraton Cirebon sendiri kemudian terbagi menjadi tiga.

Saat memperingati maulid nabi, tiga keraton yang ada di Cirebon yakni Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan akan menggelar ritual ini secara serentak. Kegiatan ini juga melibatkan masyarakat luas yang berdatangan dari seputaran Jawa Barat, bahkan hingga dari luar pulau Jawa.

Yang paling meriah, tentu saja yang berlangsung di Keraton Kasepuhan sebagai keraton pertama yang pernah ada di Cirebon. Upacara pajang jimat sendiri dimulai saat Gong Sekaten ditabuh sebagai pertanda puncak acara. Jika di Kanoman, ritual ini akan dimulai saat loceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang Keraton Kanoman dibunyikan sebanyak sembilan kali tepat pada jam 09 malam atau pukul 21.00 WIB.

Saat ritual ini dimulai, satu per satu abdi dalem Keraton Kasepuhan, mengeluarkan lilin dan barang-barang pusaka keraton peninggalan zaman Sunan Gunung Jati mulai dari tombak dan tujuh piring panjang (lodor) peninggalan Walisanga. Piring peninggalan Walisanga ini sejak seminggu sebelumnya sudah dibersihkan dan nantinya akan ditaruhi Nasi Rasul.

Setelah itu, benda-benda pusaka berikut tujuh piring panjang dan makanannya kemudian dibawa para abdi dalem ke Langgar Agung di Kompleks Keraton Kasepuhan. Saat di dalam Langgar Agung, abdi dalem dan keluarga keraton akan membaca Kitab Barjanzi. Usai pembacaan Barjanzi, makanan lalu dibagikan kepada masyarakat yang ikut dalam ritual Pajang Jimat ini.

Ritual ini juga layaknya upacara kebesaran keraton di masa lalu. Ada serangkain kegiatan resmi yang nantinya akan dilaporkan kepada Sultan Sepuh. Setelah semua dirasa siap, seorang abdi dalem yang bertugas memimpin kegiatan ini akan melaporkannya kepada Sultan. Selain dihadiri kerabat Keraton dan masyarakat, Pajang Jimat di Kasepuhan biasanya dihadiri oleh para ulama, Kapolda Jabar, Danrem Cirebon, Walikota dan tamu undangan lainnya.

Menurut catatan arsip keraton, tujuh piring besar yang diatasnya ditaruh Nasi Rasul ini sudah berusia sekitar 700 tahun. Pring-piring tersebut biasa digunakan oleh para Sunan (Walisanga) saat mereka berkumpul di Cirebon untuk berembuk atau bermusyawarah. Piring Walisanga sendiri sebenarnya berjumlah 9, namun yang dikeluarkan dalam prosesi pajang jimat hanya 7 piring saja.

Pembacaan kitab Barjanzi di Langgar Agung yang kemudian diikuti pembagian Nasi Rasul kepada masyarakat tepat pada pukul 24.00 WIB ini adalah prosesi puncak dari ritual pajang jimat itu sendiri. Menurut kerabat keraton, prosesi ini adalah bagian dakwah dari para wali khususnya Sunan Gunungjati di Cirebon.

Selain itu, Sunan Gunungjati juga berdakwah melalui media seni. Hal itu dibuktikan dengan adanya gamelan Sekaten yang berasal dari kata Syahadatain. Gamelan Sekaten ini akan ditabuh di tengah kota Cirebon agar seluruh masyarakat bisa mendengar. Sebagai imbalan untuk mendengar gamelan tersebut, masyarajat harus membaca dua kalimt Syahadat atau Kalimat Tauhid.

Metode dakwah seperti tersebut biasa juga dilakukan oleh Sunan Kalijaga di seputaran Jawa Tengah. Tidak mengherankan jika kemudian Cirebon yang notabenenya berada di Jawa Barat, dan masuk dalam wilayah masyarakat Sunda malah memiliki kesamaan budaya dengan masyarakat Jawa.

Meski demikian, kerabat keraton juga membantah anggapan sebagian orang yang meyakini benda-benda pusaka tersebut memiliki keramat, tuah atau kesaktian. Benda-benda tersebut hanyalah pusaka yang harus dirawat lalu dipajang untuk mengenang perjuangan para Wali dan juga Nabi Muhammad SAW, saat bersyiar menegakan agama Islam. Pajang Jimat adalah ritual untuk mengenang sosok Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai suri tauladan.

Hingga saat ini, ada tiga keraton utama yakni Kasepuhan yang merupakan peninggalan langsung Sunan Gunungjati, kemudian Kanoman yang berdiri sekitar 1678 M, dan Keraton Kacirebonan yang didirikan di era kolonial sekitar tahun 1800-an. Letak ketiga keraton ini relatif berdekatan dan masing-masing hanya berjarak kurang lebih 1 kilometr.
Selain Pajang Jimat, Keraton Cirebon juga selalu menggelar pawai Kereta Kencana milik Sultan, yang akan berkeliling kota setiap tanggal 1 Syura atau 1 Muharram bertepatan dengan tahun baru Islam. Di Cirebon juga ada beberapa keraton kecil yang ditinggali oleh para Pinangeran seperti Keraton Pagebangan yang berada di Gebang, Cirebon. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »