ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Sering Menelan Korban Jiwa, Inilah Catatan Kelam Sungai Ciasem yang Misterius dan Melegenda

On December 17, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Sungai Ciasem, adalah satu dari tiga sungai utama yang ada di wilayah Kabupaten Subang. Sungai ini berhulu di Curugagung, Kecamatan Sagalaherang, sementara daerah hilirnya berawal di sekitar dusun Palabuhan, Kecamatan Ciasem, hingga bermuara di Teluk Ciasem persisnya di Desa Muara dan Tanjungtiga.
Banyak orang hilang di sungai ciasem secara misterius
Muara Kali Ciasem di Desa Muara dan Tanjungtiga
Menurut catatan dinas lingkungan hidup, ada sekitar 21 sungai dan 61 anak sungai yang menginduk ke Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciasem. Dibanding dua sungai utama lainnya yaitu Cipunagara dan Kali Cilamaya, sungai Ciasem dan puluhan anak sungainya secara keseluruhan berada di wilayah Subang. Sungai ini memiliki panjang sekitar 60 KM hingga ke pesisir utara.

Belakangan, sungai Ciasem kembali menyita perhatian khususnya bagi warga kecamatan Ciasem dan sekitarnya. Sepekan terakhir, dua warga Ciasem hilang secara misterius. Pekan lalu, seorang nenek ditemukan mengambang di sekitar dusun Sawahbaru, Desa Ciasem hilir. Setelah beberapa hari menghilang, penemuan mayat yang belakangan diketahui warga Dukuh Ciasem ini sempat menggemparkan warga.

Beberapa hari yang lalu, seorang warga Marjim Ciasem juga kembali hilang. Hingga Jumat kemarin, tim SAR, Kepolisian dibantu warga dikabarkan masih terus berupaya mencari hilangnya pria nahas tersebut. Sungai Ciasem, memang menjadi sungai yang terbilang paling sering menelan korban jiwa dari warga sekitarnya.

Tentu saja kabar hilangnya beberapa warga Ciasem di sungai ini bukanlah berita baru. Sepanjang tahun, belasan orang kerap menjadi korban dan hilang begitu saja kemudian ditemukan beberapa hari sesudahnya. Cukup banyak warga di sepanjang daerah hilir dari wilayah Ciasem hingga Desa Muara, Blanakan yang menjadi korban. 

Sebagian masyarakat lantas menghubung-hubungkan hilangnya beberapa warga ini dengan hal-hal mistis seperti adanya mahluk asing dan halus yang menjadi penghuni kali Ciasem. Selama ini, sebagian masyarakat Ciasem maupun warga desa Muara mengenal adanya mitos siluman buaya, urang ayu ataupun ular lembu yang konon menyerupai kuda nil.

Tentunya hal tersebut terasa wajar jika mencermati peristiwa hilangnya beberapa warga di sungai ini. Pada saat normal, arus sungai Ciasem tidaklah terlalu deras bahkan cenderung tenang. Namun begitu, butuh berhari-hari lamanya untuk bisa menemukan mereka yang hilang tenggelam atau terseret arus sungai ini.

Sebagai sungai purba dan terbentuk melalui proses alamiah, kali Ciasem tentunya sangat berbeda dengan sungai buatan. Di daerah hilir kali Ciasem yang jalurnya juga berliku ini sangat mungkin telah ada terowongan atau gua di dasar sungai. Terowongan atau gua-gua dalam sungai yang terbentuk oleh arus ini kemudian akan menciptakan banyak pusaran. Tak hanya gua dan terowongan, kali Ciasem juga sangat mungkin menciptakan sungai bawah tanah. 

Selain itu, daerah hilir kali Ciasem juga memiliki keunikan karena langsung menuju ke laut Jawa. Saat air laut sedang pasang tinggi, tak jarang arus air di permukaan sungai malah mengalir ke arah yang berlawanan yakni ke selatan, sementara arus di bawahnya tetap ke utara.

Di masa lalu, warga di sepanjang aliran sungai khususnya masyarakat desa Muara sering memanfaatkan fenomena ini. Selain mengandalkan angin laut saat masih menggunakan perahu layar hingga akhir tahun 1970-an, nelayan desa Muara juga kerap memanfaatkan arus air yang mengalir ke hulu ini untuk kembali dari berlayar menangkap ikan.

Tak hanya warga Ciasem, cukup banyak warga desa Muara yang telah menjadi korban dari sungai ini. Seorang penambang pasir bahkan menyebut bahwa dirinya seperti disedot dan ditarik ke dasar sungai saat ia mandi. Awalnya, ia mandi dipinggir namun karena dirasa cukup dangkal penambang pasir ini terus maju ke depan. Ia tidak menyadari hanya tinggal selangkah di depan 'dasar sungai' sudah bersiap menyedot dan menariknya.
Sungai ciasem berhulu di sagala herang
Muara Sungai Ciasem di Desa Muara dan Tanjungtiga
Karena merasa kaget dan tak menduga sebelumnya, ia pun gelagapan dan terasa seperti 'terperosok' ke dasar sungai, padahal ia juga seorang perenang handal. "Kalau tidak ada teman yang menolong mungkin saya sudah hilang. Meski saya sudah biasa berenang, tapi saat itu saya seperti kaget dan sangat berat menggerakan badan," ujar Dastam, pria 79 tahun yang sudah sangat 'akrab' dengan sungai Ciasem sejak tahun 1950-an.

Pertengahan tahun 1970-an, seorang nayaga atau panjak kesenian tradsional Manuk Dadali asal Karawang mengalami hal serupa. Ia sudah diingatkan agar tetap mandi di pinggir, namun nayaga ini mengatakan sungai ini dangkal. Tak lama berselang, ia pun hilang secara misterius. Anehnya, mayatnya kemudian ditemukan tak jauh dari lokasi di bawah perahu milik seorang nelayan desa Muara.

Pada awal 1980-an, warga Desa Muara dan Tanjungtiga juga sangat sering mendapati mayat manusia yang hanyut terbawa arus atau tersangkut pepohonan di pinggir sungai. Namun saat itu, para orang tua mengatakan bahwa mayat manusia yang sebagian tubuhnya terbungkus karung itu adalah bangkai para penjahat atau bandit karena operasi Petrus tahun 1982.

Terlepas dari berbagai mitos yang ada, kali Ciasem memang menyimpan sejuta misteri di dalamnya. Permukaan dan arus air yang tenang, bukan menjadi jaminan bahwa kita akan aman bermain dan berenang ke tengah terlebih ke seberang. Sebagai sungai purba yang mungkin saja sudah berevolusi dan setua usia bumi kita, kali Ciasem adalah sungai yang sangat misterius dan sudah melegenda sejak dahulu kala.

Sebagai sungai yang langsung mengalir ke laut Jawa, bukan tidak mungkin pula jika ada mahluk laut yang tidak kita ketahui bentuk dan keberadaannya lantas berevolusi dan tinggal di muara dan sepanjang daerah hilir sungai ini. Kehidupan dunia bawah air adalah kehidupan yang misterius dan tak terduga, manusia juga hanya bisa mengungkap sebagian kecilnya saja. Sains juga mencatat ada beberapa mahluk yang hidup di dasar air dan tak pernah muncul ke permukaan.
Diam-diam (air yang tenang) menghanyutkan atau lawan kata dari peribahasa air beriak tanda tak dalam, adalah ungkapan yang pas untuk menggambarkan misteri Kali Ciasem yang sangat melegenda. Karena hal itu pula kita diwajibkan untuk menjaganya dari penambangan liar, pestisida, limbah industri maupun rumah tangga, dan jangan lagi membuang sampah ke sungai milik kita. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »