TERPOPULER

ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Google+ Badge

Powered by Blogger.

Rumah Masa Depan, Masa Lalu Yang Tak Terlupakan, Film Seri Legendaris Tayang Minggu Siang di TVRI

On December 10, 2016 with No comments

Rumah masa depan film jadul tvri minggu siang

Soeara Rakjat, Jawa Barat. Era 80-an, tepatnya sekitar tahun 1984, siapa tak mengenal film Minggu siang di TVRI berjudul Rumah Masa Depan. Film ini begitu legendaris karena mengangkat kehidupan masyarakat pedesaan yang sarat akan nilai dan pesan moral yang kental. Film di era Orde Baru ini memang bertujuan memberi dedikasi dan 100% memiliki pesan yang edukatif.

Rumah Masa Depan berkisah tentang Desa Cibeureum, di Cianjur, Jawa Barat. Di desa tersebut, tinggalah satu keluarga yang terdiri dari tiga generasi yaitu kakek-nenek yang diperankan oleh Hamid Arief dan Wolly Sutinah (Mak Wok), Bapak Sukri dan Ibu Sukri diperankan oleh Dedy Sutomo dan Aminah Cendrakasih dan anak-anak mereka Bayu (Septian Dwicahyo) dan Gerhana yang diperankan oleh Andi Ansi.

Secara garis besar, film ini menceritakan tentang sebuah kehidupan keluarga yang sederhana namun idealis khas pedesaan. Keluarga Pak Sukri adalah keluarga yang bijak karena peran kakek dan nenek, sekaligus anak-anak mereka Bayu dan Gerhana yang patuh dan meski berasal dari keluarga sederhana namun mereka sangat cerdas dan penuh intelektualitas.

Film ini mengedepankan bagaimana pentingnya musyawarah untuk mufakat seperti yang biasa dilakukan oleh keluarga ini saat mendapati masalah. Hal itu tergambar saat terjadi gesekan atau perselisihan namun mereka mampu menyelesaikan secara bijak. Kakek-nenek yang kolot, ayah-ibu yang idealis dan anak-anak yang cerdas, menjadi contoh bijak bagi semua keluarga Indonesia kala itu.

Selain menceritakan keluarga Bayu, tentu saja film ini juga memunculkan tokoh-tokoh antagonis yang kerap berselisih dengan keluarga Bayu. Seperti keluarga Suwito yang diceritakan sebagai orang paling kaya di Desa Cibeureum yang lantas memunculkan Bu Suwito yang kerap memicu konflik. Bu Suwito diperankan oleh Mieke Widjaja.

Meski demikian, warga desa Cibeureum semuanya baik dan ramah. Bahkan bu Suwito yang digambarkan sebagai ibu-ibu yang suka menggosip, tukang bikin runyam atau rempong dalam bahasa kekinian, juga akhirnya sadar. Bu Suwito yang sok modern, sok paling tahu dan sok gaul ini juga akhirnya meminta maaf setelah menyadari semua kesalahannya.

Selain kehidupan dalam keluarga, alur besar film ini juga bercerita tentang kehidupan Bayu dan Gerhana di Sekolah mereka masing-masing. Bayu yang saat itu bersekolah di SMP dan Gerhana yang menginjak usia SD, adalah dua siswa yang kecerdasannya diatas rata-rata. Mereka selalu menjadi pionir bagi kawan-kawannya di kelas. Film ini juga memunculkan nama Sangaji, Si Anak Jenius yang berasal dari keluarga tidak mampu.

Episode pertama dari film adalah Neneku Manis Jangan Menangis. Episode ini mencerita tentang mak Wok yang merasa kesepian tinggal di kota Metropolitan. Saat jatuh sakit, mak Wok lantas kembali ke desa dan hidup bersama anak cucunya. Setelah mak Wok pindah ke desa, alur cerita tentang kehidupan desa yang lebih baik dan tenang daripada di Jakarta pun mengalir deras. Kisah ini diyakini sebagai upaya pemerintah Orde Baru agar masyarakat lebih membangun desanya ketimbang harus berurbanisasi ke kota-kota.

Salah satu episode lain yang cukup membekas adalah, Yang Lepra Yang Terhina. Dalam episode ini, diceritakan tentang pak Kosin yang menderita penyakit Lepra dan dikucilkan oleh sebagian warga. Namun karena bantuan keluarga Bayu, pak Kosin yang merupakan pengrajin tanah liat (gerabah) ini kemudian mendapat perlakuan yang baik dari warga. Keluarga Pak Sukri adalah perekat kebersamaan dan persatuan warga Cibeureum.

Film ini juga banyak menghadirkan bintang tamu ternama seperti Tino Karno, Mila Karmila, Soekarno M. Noor, dan bahkan sang sutradara Ali Shahab yang hadir sebagai tokoh dunia pendidikan. Saat itu, Ali Shahab begitu memberi perhatian pada seorang anak yatim yang putus sekolah tetapi malah menang cerdas-cermat karena anak yatim ini berjualan majalah yang selalu dibaca dan lantas menjadi sumber ilmunya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan nyata, membaca buku adalah jendela dunia.

Film ini dirilis pada tahun 1984, setelah sebelumnya pada 1983 diadakan pertemuan diantara para pengisi acara TVRI. Semua sepakat bahwa film seri Rumah Masa Depan akan digarap sepenuhnya oleh kelompok diluar instansi TVRI. Ditunjuklah PT September Promotion (Sepro) untuk menggarap film yang cukup legendaris ini.

Sutradara Ali Shahab sendiri mengakui bahwa film ini terinspirasi oleh Serial A Little House on the Prairie yang berkisah tentang keluarga Michael Landon, dan juga tayang di TVRI. Sayangnya, film seri Rumah Masa Depan tidak bertahan lama karena saat itu TVRI tidak menerima tayangan iklan untuk sponsor. Rumah Masa Depan murni dibiayai TVRI dan diproduksi PT Sepro.

Meski demikian, film seri ini begitu membekas dan disebut-sebut sebagai salah satu film paling edukatif. Kehadiran aktor-aktor penuh karakter pun menjadi jaminan akan kualitas Rumah Masa Depan. Saat film ini tayang disetiap Minggu siang, penulis sendiri masih duduk di salah satu bangku Sekolah Dasar di Jawa Barat. BDLV/TM
-->
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »