ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Riwayat Haryo Penangsang, Keris Pusaka Setan Kober dan Rajah Kalacakra Yang Melegenda

On December 11, 2016 with No comments

Haryo penangsang keris setan kober dan rajah kalacakra

Soeara Rakjat, Historia. Haryo Penangsang atau Arya Penangsang, adalah salah satu tokoh yang paling melegenda dalam budaya Jawa. Adipati Jipang yang sering juga disebut sebagai Arya Jipang atau Ji Pang Kang ini memerintah pada pertengahan abad ke 15. Penangsang juga terkenal karena pernah memerintahkan seorang pengikutnya untuk membunuh Sunan Prawoto Raja Demak IV.

Saat melakukan upaya pembunuhan, Penangsang membekali orang suruhannya bernama Rangkut dengan sebilah keris pusaka ampuh kyai Setan Kober. Meski berhasil membunuh Sunan Prawoto dengan keris Setan Kober, namun Rangkut sendiri tewas saling tikam dengan Sunan Prawoto.

Pembunuhan terhadap Sunan Prawoto ini dilatar belakangi oleh balas dendam. Sepeninggal Pati Unus, Raja Demak II, memang terjadi perebutan kekuasaan diantara sesama keluarga kerajaan. Ayah Penangsang yaitu Raden Kikin atau Pangeran Sekar yang juga saudara kandung Trenggono ini kemudian dibunuh di pinggir sungai oleh Prawoto putera dari Trenggono. Trenggono sendiri akhirnya naik takhta menjadi Raja Demak III.

Setelah berhasil membalas dendam pada Prawoto, Penangsang pun menjadi Raja Demak V, dan memboyong pusat pemerintahan Kerajaan Demak ke Jipang (kini daerah sekitar Cepu, Blora, Jawa Tengah) yang kemudian lebih dikenal sebagai Demak Jipang. Haryo Penangsang adalah Raja Demak terakhir sebelum akhirnya runtuh dan digantikan oleh Kesultanan Pajang.

Pemerintahan Haryo Penangsang juga tidak berlangsung lama. Pada 1554, Penangsang tewas oleh Sutawijaya atau Jaka Tingkir dalam sebuah peperangan legendaris yang terjadi di dekat Bengawan Sore. Sutawijaya adalah anak dari ki ageng Pemanahan yang bersama Ki Penjawi memimpin pasukan Pajang menyerbu Jipang atas suruhan Hadiwijaya.

Hadiwijaya sendiri enggan memerangi Penangsang karena ia merasa hanya menantu dari kerajaan Demak, sementara Penangsang secara sah adalah garis keturunan keluarga kerajaan demak. Namun Hadiwijaya didesak oleh adik Sunan Prawoto yaitu Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa di gunung Danaraja. Ratu Kalinyamat menjanjikan bahwa sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, ia akan memberi wilayah Demak dan Jepara jika Hadiwijaya mampu mengalahkan Penangsang.

Hadiwijaya lantas membuat sayembara untuk mencari prajurit yang berani membunuh Penangsang yang kemudian disanggupi oleh Ki Penjawi, Ki Pemanahan dan putranya Sutawijaya. Dibawah pimpinan Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Sutawijaya, maka berangkatlah pasukan Pajang menyerbu Jipang yang saat itu merupakan Kotaraja kerajaan Demak-Jipang. 

Atas nama Hadiwijaya, Pajang juga mengirim surat tantangan yang dibawa oleh pemelihara kuda Penangsang yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Ki Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Jipang begitu marah, sementara adiknya yaitu Arya Mataram, berusaha untuk meredam amarah kakaknya. Namun karena terlanjur emosi, Penangsang tetap berangkat ke medan perang dengan menaiki kuda jantan yang gagah perkasa berjuluk Gagak Rimang.

Saat melihat Sutawijaya mengendarai kuda betina, Gagak Rimang pun begitu bernafsu mengejar dan langsung melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang pun pecah di dekat Bengawan Sore. Dalam pertempuran ini, perut Arya Penangsang robek terkena tombak pusaka kyai Plered milik Sutawijaya. Namun kesaktian yang dimiliki oleh Penangsang tak membuatnya roboh. Penangsang lantas melilitkan ususnya yang terburai pada gagang keris Setan Kober yang terselip di pinggangnya.

Karena kehebatannya, meski dengan usus yang terburai tetapi Penangsang akhirnya berhasil meringkus Sutawijaya. Namun saat mencabut keris untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong oleh keris Setan Kober. Haryo Penangsang akhirnya tewas oleh senjata pusakanya sendiri.

Sebelum pecah peperangan, Penangsang pernah mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk membunuh Hadiwijaya. Namun semuanya berhasil dikalahkan oleh Adipati Pajang ini. Hadiwijaya bahkan mengembalikan orang-orang suruhan Penangsang, sekaligus menghadiahi mereka dengan pakaian kebesaran prajurit Pajang.

Hadiwijaya lantas balas mendatangi Penangsang untuk mengembalikan keris Setan Kober, dan sempat terjadi pertengkaran hebat diantara keduanya. Tak hanya bertengkar, bahkan keduanya juga sudah bersiap untuk mengadu ilmu namun berhasil dilerai dan didamaikan oleh Sunan Kudus. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa keris pusaka Setan Kober sebenarnya adalah milik Sunan Kudus yang diberikan kepada Penangsang.

Sebelumnya, Sunan Kudus juga membuat Rajah Kalacakra dan berpesan kepada Penangsang agar Hadiwijaya diusahakan bisa duduk diatas dampar yang sudah dirajah. Namun atas saran abdi dalemnya, Hadiwijaya menolak dan malah berhasil memaksa Penangsang untuk duduk di dampar. Karena meduduki dampar yang sudah dirajah, Sunan Kudus lantas menyuruh Penangsang untuk berpuasa selama 40 hari untuk menghilangkan tuah rajah Kalacakra.
Nama Haryo Penangsang sendiri banyak diriwayatkan dalam beberapa babad yang ditulis ulang dalam bahasa Jawa baru pada sekitar abad 19. Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, Haryo penangsang digambarkan sebagai sosok yang gagah berani dan sakti mandraguna. Selain itu, Keris Setan Kober, Rajah Kalacakra dan kuda Gagak Rimang juga begitu melegenda dalam persepsi dan budaya masyarakat Jawa. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »