ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Panglima Besar Soedirman, Jenderal Terbesar Sepanjang Sejarah TNI dan Bangsa Indonesia

On December 17, 2016 with No comments

Panglima Besar Jenderal Soedirman Pahlawan Nasional
Soeara Rakjat, Historia. Panglima Besar Soedirman, adalah seorang tokoh militer yang paling berpengaruh sekaligus terdepan dalam perjuangan membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajahan.

Jenderal Soedirman sudah mengabdi dan turut berperang sejak masa pendudukan Jepang maupun kembalinya pasukan Belanda (NICA) yang membonceng pasukan sekutu pasca Perang Dunia II.

Jenderal Besar Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, Jawa Tengah. Soedirman yang berasal dari keluarga rakyat ini lantas diberi gelar Raden oleh suami dari bibinya yaitu Raden Cokrosunaryo seorang camat di daerah tersebut.

Menurut catatan keluarga, Soedirman lahir pada Minggu Pon saat bulan Maulud dalam penanggalan Jawa.

Saat Soedirman lahir, orang tuanya yaitu pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem, sedang tinggal di rumah saudari Siyem yaitu Tarsem di Rembang, Bodas Karangjati, Purbalingga.

Karena kondisi ekonomi yang lebih baik, Suami Tarsem yang seorang camat dan priyayi Jawa ini kemudian mengadopsi Soedirman kecil yang kelak akan menjadi seorang Jenderal perang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Soedirman menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja di Cilacap karena setelah pamannya yang sekaligus ayah angkatnya ini pensiun, mereka lantas kembali ke kampung halamannya.

Cokrosunaryo mendidik Soedirman dengan epik kepahlawanan, etika moral dan budaya serta tata cara priyayi Jawa. Soedirman pun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani.

Selain pendidikan umum, Soedirman dan saudaranya Muhammad Samingan mengenyam pendidikan agama di bawah bimbingan Kyai Haji Qohar.

Soedirman adalah anak yang taat dengan ajaran agama Islam dan selalu tepat waktu menjalankan shalat. Ia bahkan dipercaya untuk selalu mengumandangkan Adzan dan Iqamat.

Berpuluh tahun kemudian, Soedirman pun menjelma menjadi seorang pemimpin yang penuh dedikasi. Bahkan saat menjabat Panglima setelah Indonesia merdeka, Jenderal Besar Soedirman tetap berjuang dan tak peduli dengan sakitnya.

Saat terbaring karena sakit, ia tetap berusaha untuk bisa hadir di tengah-tengah pasukannya.

Saat Belanda kembali menyerang dan menguasai Yogya pada pertengahan Desember 1948, Jenderal Besar Soedirman tetap berusaha untuk maju memimpin pasukan Indonesia. Tak peduli dengan rasa sakitnya, sang Jenderal Besar ini tetap mengatur strategi untuk berperang.

Jenderal Soeharto adalah salah satu perwira muda yang paling dekat dengan Panglima Soedirman. Soeharto yang kala itu memimpin Divisi Wehkreise III ini lantas diberi kepercayaan oleh Panglima Soedirman untuk menjadi pemimpin dalam upaya merebut kembali Yogyakarta yang kala itu menjadi Ibukota Indonesia.

Panglima Besar Jenderal Soedirman meninggal di Magelang pada 29 Januari 1950 dalam usia 34 tahun. Pada tahun 1997, pemerintah RI kemudian memberi gelar kehormatan sebagai Jenderal Besar kepadanya.

Panglima Besar Soedirman adalah pengatur strategi dalam salah satu peristiwa paling bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949. mch
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »