ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Kisah Kepahlawanan Pangeran Diponegoro dan Kekuatan Mistis Keris Kyai Kanjeng Bondoyudo

On December 13, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Historia. Pangeran Diponegoro, terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar, adalah salah satu Pahlawan Nasional paling dikenal karena perjuangannya melawan Belanda. Diponegoro bahkan dinobatkan sebagai pahlawan terbesar tanah Jawa abad 19.
Pangeran diponegoro dan kesaktian keris bondoyudo
Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Indonesia
Tentunya gelar pahlawan dan popularitas yang hingga kini tetap disandang bukanlah sebuah isapan jempol. Pangeran Diponegoro adalah satu-satunya bangsawan Jawa yang berani maju berperang melawan Belanda saat itu. Meski sebelum Perang Jawa II berkobar sudah ada pemberontakan dan perlawanan, namun baru hanya Pangeran Diponegoro yang mampu mengobarkan peperangan dalam skala besar.

Diponegoro adalah pemimpin perang modern pertama dalam sejarah Indonesia. Selain mahir melakukan gerilya, Pasukan Diponegoro juga sangat terorganisir dan didesain seperti tentara Utsmaniyah. Diponegoro bahkan mampu mempersenjatai pasukannya layaknya tentara Eropa.

Jika memandang gambar Pangeran Diponegoro yang pertamakali dilukis oleh Adrian Johanes Bik sekitar April 1830 di Batavia sebelum Diponegoro dibuang ke Manado, tentunya kita sepakat bahwa jiwa dan semangatnya tetaplah ada. Dengan baju koko tanpa kerah, sorban dan selendang, Diponegoro tampak begitu gagah. Terlebih ada sebilah keris pusaka ampuh yang terselip di dadanya, itulah keris pusaka Kyai Bondoyudo.

Keris Bondoyudo, bukanlah sembarang keris. Bondoyudo ditempa saat perang sedang berkobar dan pasukan Diponegoro banyak meraih kemenangan. Pada awal masa perang sekitar Juni 1825, Diponegoro selalu mengenakan keris pusaka kyai Abijoyo yang sangat dikeramatkan dan jarang beliau kenakan.

Dalam babadnya, Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa keris Bondoyudo ditempa dengan melebur tiga pusaka lain yang salah satunya adalah sebilah cundrik atau belati yang bahannya bukan berasal dari alam fana. Cudrik yang sebelumnya selalu dikenakan oleh Raden Ayu Maduretno, istri kesayangan Diponegoro ini berasal dari anak panah Sarutomo yang ia dapatkan saat berada di Parangkusumo.

Sebelumnya, pada sekitar 1805 Diponegoro melakukan perjalan suci ke pantai selatan sesaat setelah ia melakukan perjalan suci ke masjid-masjid dan bermukim bersama para santri di beberapa pesantren di selatan Yogya. Ia mengganti nama dewasanya Raden Mas Ontowiryo dengan nama Islam yaitu Ngabdulrahim.

Dalam Perjalanan ke Pantai Selatan Diponegoro juga sempat singgah di gua Siluman yang dihuni oleh para lelembut penjaga spiritual tanah Jawa. Beberapa riwayat menghubungkan gua ini dengan keris kyai Nogo Siluman yang kemudian disita dan dihadiahkan kepada Raja Belanda Willem I (memerintah 1813-1840) sebagai lambang kemenangan perang. Keris Nogo Siluman juga disebut-sebut sebagai ibunya segala pusaka tanah Jawa.

Ia kemudian meneruskan perjalanan ke pantai selatan dan kemudian memasuki gua Langse yang sangat wingit. Setelah tinggal beberapa hari di gua Langse yang berada di bibir pantai selatan dan sempat bertemu ratu kidul, Pangeran Diponegoro kemudian mandi air panas di sebuah gua yang ada di Parangtritis.

Sekedar catatan, Gua Langse memang dikenal sebagai gua yang dikeramatkan. Beberapa riwayat menuliskan bahwa Sultan Agung Mataram, Panembagan Senopati, Ir. Soekarno, Panglima Soedirman hingga Mantan Presiden Soeharto pernah tirakatan di gua ini.

Diponegoro kemudian beristirahat di sebuah pondok di Parangkusumo, dan saat itulah suara gaib yang menurutnya diyakini suara kanjeng Sunan Kalijogo kembali terdengar. Sunan Kalijogo datang untuk memberi kabar tentang keruntuhan tanah Jawa dalam tiga tahun mendatang. 

"Wiwit bubrah tanah Jawi," begitulah yang pertamakali terdengar. Pangeran Diponegoro kemudian diminta untuk merubah nama Ngabdulrahim dengan Ngabdulkamit. Ia juga diberi pesan untuk menjaga ayahnya agar bisa naik takhta. Lebih dari itu, sang Pangeran diwanti-wanti untuk menolak gelar putra mahkota dan harus diberikan ke adiknya.

Sunan Kalijogo juga mengatakan bahwa suatu tanda akan diberikan kepadanya dalam bentuk sebuah mata panah bernama Sarutomo. Diponegoro kemudian melihat sebuah panah dalam bentuk kilat atau cahaya yang lantas menancap menembus batu tempat ia berbaring. Sebelum menghilang, Sunan Kalijogo memberi pesan terakhir:
  • "Tidak ada yang lain: Engkau sendiri hanya sarana, namun itu tidak akan lama, hanya agar terbilang di antara para leluhur. Ngabdulkamit, selamat tinggal, engkau harus pulang ke rumah!"
Diponegoro pun bergegas kembali dan setibanya di Tegalrejo, ia langsung menempa mata panah Sarutomo pemberian Sunan Kalijogo ini menjadi sebuah cundrik atau belati kecil yang kemudian selalu dibawa-bawa oleh Istrinya Raden Ayu Maduretno.

Di penghujung tahun 1827, dalam babadnya Diponegoro menulis bahwa ia melebur tiga buah pusaka yang salah satunya cundrik pusaka untuk membuat sebilah keris pusaka yang kemudian ia beri nama kyai kanjeng Bondoyudo. Selain Cundrik diyakini bahwa keris pusaka kyai Abijoyo juga turut dilebur. 

Keris inilah yang selalu setia menemaninya hingga akhirnya menemui masa-masa sulit pasca pertempuran Gawok yang termashyur itu. Kyai Bondoyudo selalu menjadi penyemangat dirinya dan juga pasukannya dalam mengobarkan peperangan melawan Belanda.

Saat itu, Pangeran Diponegoro seperti tak mempan oleh peluru dan berkali-kali lolos dari kepungan pasukan Belanda. Diponegoro bahkan mampu lolos saat dirinya sudah terkepung oleh pasukan gerak cepat Brigade 11 Belanda yang dimpimpin Michels. Ia juga tak pernah tertangkap meski kepalanya disayembarakan dan dihargai ribuan Gulden. Hingga akhirnya, Pangeran Diponegoro terjebak pada Maret 1830.

Selain keris Bondoyudo, ada beberapa benda pusaka miliknya yang disita dan dibawa ke Belanda yang diantaranya adalah Tombak Cokro dan Tombak Rhonda. Beberapa tahun terakhir, pusaka milik Pangeran Diponegoro termasuk salinan asli buku biografinya dan juga pelana kuda lalu dikembalikan ke Indonesia setelah beratus tahun berada di Eropa.
Kisah kepahlawanan Diponegoro dan kekuatan mistis Keris Kyai Kanjeng Bondoyudo tetap menjadi bahasan menarik bagi para sejarawan. Keris ini dikubur bersama jasad sang Pangeran di pemakaman umum Kampung Melayu, Makassar. Saat menjalani sisa usianya sebagai tahanan di Benteng Fort Rotterdam, ia kemudian menulis Babad Diponegoro yang sangat legendaris. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »