ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Sultan Hasanuddin, Kisah Perlawanan Rakyat Gowa dan Jatuhnya Benteng Somba Opu

On November 22, 2016 with No comments

Sultan hasanuddin dan jatungnya benteng somba opu

Soeara
Rakjat, Historia. Sultan Hasanuddin
, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 12 Januari 1631, adalah salah satu sosok Pahlawan Nasional yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sultan Hasanuddin begitu dikenal karena kisah kepahlawanannya yang dengan gagah berani berperang melawan Kompeni Belanda atau VOC dalam usia yang relatif muda.

Karena kekaguman pihak VOC Belanda atas keberanian dan kepemimpinannya mengobarkan perlawanan rakyat Gowa, Sultan Hasanuddin lantas dijuluki sebagai De Haantjes van Het Osten yang berarti Ayam Jantan atau Ayam Jago dari Timur oleh Kompeni Belanda. VOC sendiri adalah singkatan atau kependekan dari Veredeenigde Oostindische Compagnie yang berarti kongsi dagang Hindia Timur.

Sultan Hasanuddin yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Matawang Karaeng Bonto Mangape ini adalah putera kedua dari Sultan Gowa ke 15. Setelah naik tahta sebagai Sultan menggantikan ayahnya, ia kemudian diberi gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, oleh seorang ulama di lingkungan Kesultanan Gowa yakni Syekh Sayyid Jalaluddin. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hasanuddin saja.

Saat itu, kongsi perdagangan Belanda atau VOC yang lebih dikenal Kompeni juga sedang berusaha untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah Nusantara bagian timur. Sementara Kesultanan Gowa sendiri adalah kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan di wilyah timur Indonesia kala itu.

Pada tahun 1666, VOC lantas mengirim armada pasukannya yang dipimpin oleh Laksama Cornelis Janszoon Speelman. VOC berusaha menguasai kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut. Meski berhasil menundukan beberapa kerajaan, tetapi ternyata Kompeni masih belum bisa untuk menaklukan Kesultanan Gowa.

Saat Sultan Hasanuddin naik takhta, beliau lantas berusaha untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut untuk berperang melawan VOC. Pecahlah peperangan antara Kesultanam Gowa melawan VOC yang berkobar begitu sengit. VOC pun terus menambah kekuatan pasukannya dengan jumlah yang lebih besar dan akhirnya berhasil memaksa Gowa untuk mengadakan sebuah perundingan di Bungaya pada 18 November 1667.

Bagi kedua belah pihak, perjanjian Bungaya sendiri tidak memberikan kepuasan. Dengan perjanjian ini, Gowa sendiri banyak dirugikan karena mulai kehilangan kendali atas wilayah perdagangan yang mereka kuasai selama itu. Sementara VOC Belanda juga tak benar-benar bisa leluasa karena masih belum bisa menguasai Ibukota Kerajaan Gowa yaitu Somba Opu. 

VOC Belanda yang memang berniat menundukan Gowa ini juga terus melakukan blokade ketat untuk melokalisir Somba Opu sebagai pusat kerajaan dan pertahanan Gowa. Pasukan Gowa pun masih terus melakukan beberapa penyerangan yang mengakibatkan meletusnya beberapa pertempuran kecil.

Namun begitu, VOC masih belum berani untuk menyerang frontal ke Somba Opu sebagai pusat pertahanan dan benteng terkuat kerajaan Gowa. VOC masih menunggu bantuan yang didatangkan dari Batavia. Saat bantuan dengan jumlah besar dari Batavia tiba, pada April 1669 pasukan VOC melakukan serangan besar-besran ke Somba Opu. Sultan Hasanuddin sendiri maju sebagai panglima untuk memimpin pasukan Gowa melawan Belanda.

Dengan jumlah bala bantuan yang sangat besar yang didatangkan dari luar, akhirnya Belanda berhasil mendesak pasukan Gowa. Pada awal Juni 1669, pasukan VOC berhasil mendekati tembok Benteng Somba Opu. Dua pekan berselang, tepatnya 15 Juni 1669, VOC melakukan serangan dan pecahlah pertempuran selama 24 jam yang berlangsung dalam dua hari.

Pada tanggal 19 Juni 1669, VOC berhasil membobol tembok bagian depan Benteng Somba Opu dan berhasil menerobos masuk namun mendapat perlawanan kuat dari pasukan Gowa. Meski perlawanan prajurit-prajurit Gowa tak pernah surut, namun akhirnya VOC berhasil menguasai Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669.

Meski Benteng Somba Opu jatuh, namun Sultan Hasanuddin tak pernah menyerah dan tetap tak mau tunduk pada Belanda. VOC pun lantas kembali mengajukan perjanjian perdamaian untuk mengakhiri perang. Sultan Hasanuddin pun menyetujui ajakan Belanda untuk kembali berdamai. Sultan Hasanuddin beserta sisa-sisa pasukannya kemudian mendirikan Benteng Gowa atau dikenal juga sebagai Benteng Anak Gowa.

Sultan Hasanuddin akhirnya turun takhta dan hidup menjadi seorang penyiar agama Islam. Beliau wafat pada 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun. Sultan Hasanudin kemudiam dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK1973, tertanggal 6 November 1973.

Epik atau kisah kepahlawanan Sultan Hasanuddin dan rakyat Gowa yang pantang menyerah ini secara panjang lebar diceritakan oleh seorang sejarawan Belanda, F.W Stapeel dalam sebuah buku yang judulnya menggunakan nama seorang laksamana Belanda yang memimpin pasukan VOC saat menyerang Gowa yaitu Cornelis Janszoon Speelman.

Sultan Hasanuddin, adalah seorang pemimpin yang dengan gagah berani melawan kekuatan bangsa asing yang ingin menguasai dan memonopoli kekayaan dan ekonomi bangsa pribumi di abad 17. Kepemimpinan dan jiwa kepahlawanan Sultan Hasanuddin, tentunya akan sangat langka dan sulit ditemui untuk saat ini.

Bersama beberapa nama seperti Pangeran Diponegoro atau Tuanku Imam Bondjol nama sultan Hasanuddin juga sangat dikenal oleh bangsa Belanda karena keberaniannya. Tentunya kita pun tak bisa membantah jika Sultan Hasanuddin disebut-sebut sebagai pahlawan terbesar bangsa Indonesia khususnya rakyat Gowa di abad 17. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »