ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Warga Sambut Hangat Aksi Long March Peserta Bela Islam III di Tasikmalaya, Jawa Barat

On November 29, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Aksi Bela Islam III yang akan digelar oleh puluhan ribu umat Islam dan berbagai elemen masyarakat, hingga saat ini makin mengemuka. Di berbagai daerah khususnya di Jawa Barat, umat Islam sudah mulai melakukan berbagai kesiapan dan persiapan.
Long march aksi bela islam III di tasikmalaya soeararakjat.com
Kafilah 212 dari Ciamis dan Tasikmalaya
Seperti yang terjadi di Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat, umat Islam yang terdiri dari para pemimpin pondok pesantren dan juga masyarakat biasa ini melakukan long march untuk kemudian menuju ke Ibukota guna mengikuti aksi Bela Islam III. Aksi jalan kaki ini dilakukan karena tidak ada armada atau PO. Bus yang mau mengangkut mereka.

Menurut kabar yang beredar, PO. Bus sendiri enggan mengangut para peserta Aksi Bela Islam ini karena adanya himbauan agar mereka tidak melayani penumpang yang menyewa bus untuk ke Ibukota yang bertujuan mengikuti Aksi bela Islam III.
Aksi jalan kaki para peserta Bela Islam III di Tasikmalaya, Jawa Barat
Kabarnya, PO Bus yang mau melayani peserta Aksi bela Islam ini akan mendapat sanksi dari pihak-pihak terkait. Selain adanya himbauan kepada PO. Bus, ada himbauan lain kepada Kepolisian di daerah masing-masing agar melakukan pencegahan kepada para peserta Aksi bela Islam III yang hendak berangkat ke Ibukota.

Namun begitu, PO. Bus kabarnya saat ini bersedia untuk mengangkut para penumpang yang akan turut dalam Aksi 2 Desember di Ibukota. Setelah melihat aksi long march yang mulai berlangsung sejak kemarin, beberapa PO Bus akhirnya bersedia mengantar mereka untuk aksi 2 Desember mendatang di Ibukota.

Saat ini, di media sosial beredar ratusan foto maupun video yang menayangkan aksi long march umat Islam yang saat itu tengah berjalan kaki dan berada di kawasan Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat. Aksi long march ini mendapat sambutan cukup hangat dari masyarakat yang berjejer di sepanjang jalan.
Selain mendapat sambutan hangat, para peserta aksi 2 Desember ini juga mendapatkan bantuan logistik berupa makanan maupun minuman yang disediakan oleh warga secara suka-rela disepanjang perjalanan yang dilalui oleh para peserta Aksi Bela Islam III tersebut. BDLV/TM
Hj. Dariah, Legenda Budaya Tarling Klasik dan Salah Satu Biduanita Terbaik di Jawa Barat

On November 28, 2016 with No comments

Hj dariyah tarling cahaya muda soeararakjat
Hj Dariah, Legenda Tarling Klasik
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Hj. Dariah (Almarhum) atau yang lebih sering disebut Mimi Hajah Dariyah, adalah salah satu pesinden terbaik Jawa Barat yang begitu melegenda. Hj Dariah kelahiran Cipunagara, Subang, 1 Agustus 1953 ini begitu dikenal oleh masyarakat Jawa Barat khususnya di pesisir utara berkat kiprahnya bersama Grup Tarling Cahaya Muda, pimpinan H.T. Makmun yang sekaligus merupakan suaminya.

Sejak akhir tahun 1960-an, masyarakat Jawa Barat di pesisir utara dari Cirebon hingga Karawang dan sebagian Bekasi sangat familiar dengan Hj Dariah dan Grup Tarling Cahaya Muda. Hj Dariah merupakan simbol dan maskot Tarling, sekaligus salah satu biduanita terbaik yang pernah ada di Jawa Barat.

Hj Dariah sendiri sudah menunjukan bakat yang luar biasa besar dalam dunia tarik suara sejak masih kanak-kanak, ia sudah menjadi biduan atau sinden seni Jawa-Sunda sejak usia 5 tahun. Sejak muda, Hj Dariah juga aktif dan sering menjadi pesinden utama dalam pagelaran Wayang Kulit, Sandiwara, Kliningan dan tentu saja Tarling.

Menjelang dewasa, Hj Dariah pun semakin populer dan lantas menikah dengan HT. Makmun yang merupakan warga Indramayu. Mereka berdua lantas mendirikan Grup Tarling Cahaya Muda sekitar tahun 1969, di Jatibarang, Indramayu. Sejak itu, karier Hj Dariah dalam dunia Tarling seolah tak terbendung. Hingga saat ini, belum ditemui seorang biduanita atau sinden yang memiliki kemampuan seperti Hj Dariah.

Selain sebagai Sinden Tarling, Mimi Hajah Dariyah juga memiliki kemampuan luar biasa dalam mengaransemen lagu-lagu Tarling. Selain banyak menghasilkan lagu-lagu Tarling, Hj Dariah juga banyak mengorbitkan seniman-seniman Tarling muda potensial seperti Yoyo Suwaryo, Hj Aam Aminah, Itih S, dan beberapa sinden Tarling lain yang pernah menjadi anak didiknya.

Tak hanya meniciptakan lagu-lagu Tarling, Hj Dariah juga sangat piawai dalam menggubah atau mengarang cerita drama Tarling. Drama Tarling adalah pentas drama yang diiringi dengan seni musik Tarling atau Gitar dan Suling. Alur cerita dalam drama Tarling sendiri biasanya berkisah tentang kearifan lokal masyarakat Jawa Barat, dan kadang juga menceritakan kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini, drama Tarling Hj Dariah bersama Cahaya Muda Grup masih sering diperdengarkan oleh sebagian masyarakat Jawa Barat yang masih begitu mencintai budaya Tarling klasik ini. Beberapa kisah seperti Manuk Banjar Petung, Sruet Nyupang Kuntilanak, Ande-Ande Lumut atau Saidah Saeni, adalah lakon tarling yang begitu melegenda. Selain itu lagu-lagu Tarling seperti Enakan atau Manuk Dara Sepasang adalah lagu yang masih sering diputar dan kerap diaransemen ulang oleh seniman Tarling Pantura saat ini.

Selain sebagai pengarang kisah drama Tarling, Hj Dariah juga berperan sebagai pelaku utama sekaligus sinden dalam setiap pagelaran drama Tarling klasik. Kemampuannya memadukan unsur Taling Cirebonan-Dermayon dengan sedikit bumbu berupa nada atau cengkok khas Parahyangan, adalah salah satu kehebatannya. Musik Tarling klasik yang diperagakan oleh Cahaya Muda Grup memang memiliki kekhasan yang membuatnya berbeda dengan grup-grup Tarling lainnya.

Sebagai seorang Pesinden yang lahir di Subang, Jawa Barat, tentunya Hj Dariah juga sangat mahir dan terdengar begitu merdu saat menyanyikan lagu-lagu Sunda. Hal itu dibuktikan saat dirinya berhasil menjadi salah satu Pesinden terbaik dan meraih juara III dalam lomba tembang lagu-lagu Sunda se wilayah Jawa Barat, pada tahun 1975.

Yang lebih mengagumkan, Hj Dariah juga sangat bangga dengan busana adat Jawa Barat, dan masyarakat Jawa pada umumnya. Dalam setiap pagelaran drama Tarling maupun saat menyanykan lagu-lagu Tarling, Hj Dariah akan selalu mengenakan Kebaya, Kain, Selendang, dan terkadang juga sanggul. Hj Dariah adalah seorang maestro Tarling yang begitu mencintai budaya leluhurnya.

Sayangnya, Hj Dariah tak sempat mewujudkan cita-cita mulianya yaitu mendirikan Padepokan Tarling untuk mencetak seniman-seniman Tarling, sekaligus agar kesenian Tarling ini tetap dicintai oleh masyarakat. Hj Dariah menghadap Tuhan yang Esa setelah menderita sakit beberapa waktu lamanya. Ia meninggal dunia pada 18 Oktober 2011, dan dimakamkan di tanah kelahirannya di Cipunagara, Pusakajaya, Subang, Jawa Barat.

Sepeninggal Hj Dariah, tentunya menjadi sebuah kehilangan besar bagi para seniman dan juga masyarakat pecinta budaya Tarling. Hj Dariah adalah legenda seni Tarling klasik dan salah satu pesinden terbaik Jawa Barat, yang sejajar dengan salah satu maestro Tarling asal Cirebon H. Abdul Adjib.

Kesenian Tarling sendiri disebut-sebut masih ada jika merujuk pada kesenian yang berkembang di pesisir utara Jawa Barat saat ini. Namun sayangnya, kesenian yang berkembang saat ini sudah jauh berbeda dan lebih mengedepankan sisi komersil. Sepertinya memang masih belum ada seniman yang akan mampu untuk mengembalikan Kesenian Tarling seperti pada masa jayanya beberapa puluh tahun yang silam.

Tarling klasik sendiri adalah seni tarik suara yang memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tidaklah mengherankan jika saat ini sangat jarang ditemui seniman yang akan mampu membawakan lagu-lagu dalam nada dan cengkok Taling klasik dengan baik, fasih dan mendayu-dayu.
Rendahnya apresiasi generasi muda dan juga para 'seniman' sendiri terhadap Kesenian Tarling, semakin membuat kesenian ini kian tenggelam oleh budaya populer. Namun begitu, kesenian Tarling Klasik ini akan tetap ada, dirawat dan dijaga oleh para pecinta Seni dan Budaya. BDLVTM
Tak Hanya Andalkan Gapura Intan, Anggota Dewan dan Masyarakat Desa Muara Berswadaya Perbaiki Jalan

On November 24, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Program Gapura Intan atau Gerakan Pembangunan Untuk Rakyat bidang Infrastruktur Berkelanjutan, adalah salah satu program yang paling diandalkan oleh Pemkab Subang untuk melakukan pembenahan dan pembangunan bidang infrastruktur yang berada di wilayah kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Subang.
Program gapura intan di desa muara blanakan subang
Progres Gapura Intan di Desa Muara Blanakan
Program ini dicanangkan oleh Pemkab Subang dibawah kepemimpinan Ojang Sohandi-Imas Aryumningsih beberapa tahun lalu. Belakangan, Hj. Imas Aryumningsih yang sebelumnya adalah wakil bupati ini lantas diangkat menjadi Plt. Bupati Subang setelah Ojang Sohandi ditahan KPK karena kasus korupsi BPJS dan pencucian uang.

Karena Gapura Intan adalah program berkelanjutan, tidaklah mengherankan jika pembangunan infrastruktur di wilayah Subang akan berjalan sangat lamban dan secara perlahan-lahan. Dibeberapa tempat, butuh waktu cukup lama untuk membangun infrastruktur khususnya jalan. Tak jarang pula jalan yang panjangnya hanya 1 KM akan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa terselesaikan.

Seperti yang terjadi di Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang. Di desa yang berada di wilayah utara Subang ini masih ada beberapa titik ruas jalan yang hingga saat ini masih belum tersentuh oleh program Gapura Intan tersebut. Meski Gapura Intan sendiri sedang giat digalakan oleh Pemkab, namun masih cukup banyak jalan yang kondisinya memprihatinkan.

Menyikapi masih adanya beberapa titik jalan terutama di Dusun Sindanglaut I & II yang kerap dikeluhkan oleh warganya, Kepala Desa Muara Ita Sudita bersama para tokoh dan elemen masyarakat lantas berinisiatif untuk berswadaya memperbaiki jalan. Lurah Ita, sapaan akrabnya, lantas mengundang seluruh tokoh dan elemen masyarakat Desa Muara untuk membahas kondisi yang ada.

Hasil kesepakatan dalam rapat yang digelar di Aula KUD Mina Bahari Muara pada Rabu 23 November ini menghasilkan beberapa poin yang diantaranya adalah Pemdes dan masyarakat desa Muara akan berswadaya memperbaiki jalan yang selama ini belum bisa tersentuh oleh program Gapura Intan. 

Disepakati bahwa akan ada perbaikan berupa pengurugan atau pengerasan jalan dengan menggunakan batu. Pengadaan 40 truk batu tersebut dilakukan secara lelang dengan perincian sebagai berikut;
  • Pemdes muara 5 mobil, KUD Mina Bahari 5 mobil, Boby Haerul Anwar 5 mobil, Bakul KUD 5 mobil, Karang Taruna 2 mobil, pengusaha es balok 4 mobil, masyarakat 5 mobil, KPD 2 mobil, Ustadz Ayat 1 mobil, BP3 sebanyak 3 mobil, pengusaha angkutan ikan 1 mobil, UD Kacung Jaya 1 mobil dan Bpk Zulfikar 1 mobil
Menurut Ketua Karang Taruna Desa Muara Hartono Syarifuddin, selain jalan di Dusun Sindanglaut yang saat ini menjadi priorotas utama, akan ada perbaikan serupa yang dilakukan di Dusun Sukamanah tepatnya di Blok Pertamina.

"Di luar lokasi (jalan) di Dusun Sindang Laut I & II, H. Sholeh Wahyudi mengalokasikan 5 mobil (batu) di jalan Pertamina Blok H. Karto," ungkapnya saat dibubungi, Kamis 24 November 2016.

H. Sholeh Wahyudi sendiri adalah seorang anggota DPRD Subang dari partai Hati Nurani Rakyat atau Hanura. Selain itu, Ketua Karang Taruna Desa Muara juga menyebut masih ada kekurangan dana yang dibutuhkan untuk upah kerja. BDLV/TM
Sultan Hasanuddin, Kisah Perlawanan Rakyat Gowa dan Jatuhnya Benteng Somba Opu

On November 22, 2016 with No comments

Sultan hasanuddin dan jatungnya benteng somba opu

Soeara
Rakjat, Historia. Sultan Hasanuddin
, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 12 Januari 1631, adalah salah satu sosok Pahlawan Nasional yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sultan Hasanuddin begitu dikenal karena kisah kepahlawanannya yang dengan gagah berani berperang melawan Kompeni Belanda atau VOC dalam usia yang relatif muda.

Karena kekaguman pihak VOC Belanda atas keberanian dan kepemimpinannya mengobarkan perlawanan rakyat Gowa, Sultan Hasanuddin lantas dijuluki sebagai De Haantjes van Het Osten yang berarti Ayam Jantan atau Ayam Jago dari Timur oleh Kompeni Belanda. VOC sendiri adalah singkatan atau kependekan dari Veredeenigde Oostindische Compagnie yang berarti kongsi dagang Hindia Timur.

Sultan Hasanuddin yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Matawang Karaeng Bonto Mangape ini adalah putera kedua dari Sultan Gowa ke 15. Setelah naik tahta sebagai Sultan menggantikan ayahnya, ia kemudian diberi gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, oleh seorang ulama di lingkungan Kesultanan Gowa yakni Syekh Sayyid Jalaluddin. Namun beliau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hasanuddin saja.

Saat itu, kongsi perdagangan Belanda atau VOC yang lebih dikenal Kompeni juga sedang berusaha untuk menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah Nusantara bagian timur. Sementara Kesultanan Gowa sendiri adalah kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan di wilyah timur Indonesia kala itu.

Pada tahun 1666, VOC lantas mengirim armada pasukannya yang dipimpin oleh Laksama Cornelis Janszoon Speelman. VOC berusaha menguasai kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut. Meski berhasil menundukan beberapa kerajaan, tetapi ternyata Kompeni masih belum bisa untuk menaklukan Kesultanan Gowa.

Saat Sultan Hasanuddin naik takhta, beliau lantas berusaha untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah tersebut untuk berperang melawan VOC. Pecahlah peperangan antara Kesultanam Gowa melawan VOC yang berkobar begitu sengit. VOC pun terus menambah kekuatan pasukannya dengan jumlah yang lebih besar dan akhirnya berhasil memaksa Gowa untuk mengadakan sebuah perundingan di Bungaya pada 18 November 1667.

Bagi kedua belah pihak, perjanjian Bungaya sendiri tidak memberikan kepuasan. Dengan perjanjian ini, Gowa sendiri banyak dirugikan karena mulai kehilangan kendali atas wilayah perdagangan yang mereka kuasai selama itu. Sementara VOC Belanda juga tak benar-benar bisa leluasa karena masih belum bisa menguasai Ibukota Kerajaan Gowa yaitu Somba Opu. 

VOC Belanda yang memang berniat menundukan Gowa ini juga terus melakukan blokade ketat untuk melokalisir Somba Opu sebagai pusat kerajaan dan pertahanan Gowa. Pasukan Gowa pun masih terus melakukan beberapa penyerangan yang mengakibatkan meletusnya beberapa pertempuran kecil.

Namun begitu, VOC masih belum berani untuk menyerang frontal ke Somba Opu sebagai pusat pertahanan dan benteng terkuat kerajaan Gowa. VOC masih menunggu bantuan yang didatangkan dari Batavia. Saat bantuan dengan jumlah besar dari Batavia tiba, pada April 1669 pasukan VOC melakukan serangan besar-besran ke Somba Opu. Sultan Hasanuddin sendiri maju sebagai panglima untuk memimpin pasukan Gowa melawan Belanda.

Dengan jumlah bala bantuan yang sangat besar yang didatangkan dari luar, akhirnya Belanda berhasil mendesak pasukan Gowa. Pada awal Juni 1669, pasukan VOC berhasil mendekati tembok Benteng Somba Opu. Dua pekan berselang, tepatnya 15 Juni 1669, VOC melakukan serangan dan pecahlah pertempuran selama 24 jam yang berlangsung dalam dua hari.

Pada tanggal 19 Juni 1669, VOC berhasil membobol tembok bagian depan Benteng Somba Opu dan berhasil menerobos masuk namun mendapat perlawanan kuat dari pasukan Gowa. Meski perlawanan prajurit-prajurit Gowa tak pernah surut, namun akhirnya VOC berhasil menguasai Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669.

Meski Benteng Somba Opu jatuh, namun Sultan Hasanuddin tak pernah menyerah dan tetap tak mau tunduk pada Belanda. VOC pun lantas kembali mengajukan perjanjian perdamaian untuk mengakhiri perang. Sultan Hasanuddin pun menyetujui ajakan Belanda untuk kembali berdamai. Sultan Hasanuddin beserta sisa-sisa pasukannya kemudian mendirikan Benteng Gowa atau dikenal juga sebagai Benteng Anak Gowa.

Sultan Hasanuddin akhirnya turun takhta dan hidup menjadi seorang penyiar agama Islam. Beliau wafat pada 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun. Sultan Hasanudin kemudiam dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK1973, tertanggal 6 November 1973.

Epik atau kisah kepahlawanan Sultan Hasanuddin dan rakyat Gowa yang pantang menyerah ini secara panjang lebar diceritakan oleh seorang sejarawan Belanda, F.W Stapeel dalam sebuah buku yang judulnya menggunakan nama seorang laksamana Belanda yang memimpin pasukan VOC saat menyerang Gowa yaitu Cornelis Janszoon Speelman.

Sultan Hasanuddin, adalah seorang pemimpin yang dengan gagah berani melawan kekuatan bangsa asing yang ingin menguasai dan memonopoli kekayaan dan ekonomi bangsa pribumi di abad 17. Kepemimpinan dan jiwa kepahlawanan Sultan Hasanuddin, tentunya akan sangat langka dan sulit ditemui untuk saat ini.

Bersama beberapa nama seperti Pangeran Diponegoro atau Tuanku Imam Bondjol nama sultan Hasanuddin juga sangat dikenal oleh bangsa Belanda karena keberaniannya. Tentunya kita pun tak bisa membantah jika Sultan Hasanuddin disebut-sebut sebagai pahlawan terbesar bangsa Indonesia khususnya rakyat Gowa di abad 17. BDLV/TM
Sandiwara Radio Saur Sepuh, Legenda Para Pendekar Tangguh di Jawa Dwipa dan Bumi Nusantara

On November 21, 2016 with No comments

Sandiwara radio saur sepuh brama kumbara

Soeara Rakjat, Saur Sepuh, adalah sebuah sandiwara radio yang begitu populer di pertengahan tahun 1980. Saur Sepuh juga disebut Master of the Legend atau legenda terbesar dari sandiwara radio yang pernah ada di Indonesia. Saur Sepuh berkisah tentang perjalanan seorang pendekar sakti mandraguna bernama Brama Kumbara, yang kemudian menjadi raja di Madangkara, sebuah kerajaan di Tatar Sunda.

Sandiwara Radio Saur Sepuh adalah karya besar dari Niki Kosasih, yang disiarkan melalui media radio hampir di seluruh wilayah Indonesia saat itu. Sandiwara ini berlatar Kerajaan Majapahit sebuah kerajaan Hindu-Budha di masa kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk. Serial ini begitu fenomenal dan mampu menghipnotis para pendengarnya. Pada jam-jam tertentu saat Saur Sepuh mengudara, sebagian besar masyarakat kita akan menghentikan aktivitasnya untuk mendengarkannya.

Bagi sebagian masyarakat, saat itu radio juga masih tergolong barang yang langka. Tidaklah mengherankan jika sebagian mereka yang masih belum memiliki radio lantas berkumpul di rumah teman, saudara atau tetangga dan mendengarkan petualangam Brama Kumbara bersama-sama. Selain alur kisah dari serial ini, saat itu juga begitu familiar di telinga masyarakat akan hadirnya beberapa produk iklan yang menjadi sponsornya.

PT Kalbe Farma, adalah perusahaan farmasi yang menjadi mitra utama dari serial yang berdurasi 30 menit di setiap jam siarnya. Beberapa produk obat-obatan pun menjadi sangat populer saat itu. Terlebih, iklan dari produk Kalbe Farma ini juga sebagian besar menggunakan pemeran Saur Sepuh sebagai bintangnya.

Serial Saur Sepuh sendiri tergolong sandiwara radio yang memiliki alur cerita cukup panjang. Saur Sepuh terbagi dalam banyak episode yang dalam setiap episidenya akan ada 60 seri yang disiarkan setiap hari di radio-radio kesayangan masyarakat saat itu. Butuh waktu sekitar dua bulan untuk menghabiskan setiap satu episode, yang terbagi dalam 60 seri yang mengudara setiap hari.

Sandiwara ini melahirkan begitu banyak tokoh-tokoh fenomenal selain tokoh Brama Kumbara sendiri. Mantili, Raden Samba, Patih Gotawa, Kakek Astagina, Jaka Lumayung, Raden Bentar atau Panglima Ringkin, adalah beberapa tokoh yang sangat populer dalam samdiwara ini. Selain mereka, hadir pula tokoh-tokoh antagonis yang tak kalah populer seperti Lasmini, Kijara, Lugina, Gardika dan masih banyak tokoh-tokoh yang lainnya.

Selain tokoh-tokoh tersebut di atas, serial ini juga melejitkan ilmu-ilmu atau ajian kedigdayaan yang dimiliki oleh masing-masing tokoh tersebut. Beberapa ilmu kedigdayaan yang sangat populer saat itu adalah ajian Serat Jiwa, Bayu Bajra, Waringin Sungsang, Gelora Dewata, Sirep Megananda, Srigunting dan ilmu-ilmu kedigdayaan lainnya. 

Masyarakat juga begitu mengenal akan beberapa senjata pusaka yang begitu ampuh dan mematikan seperti Pedang Setan, Pedang Perak, Pedang Biru, Pedang Merah atau pusaka Kujang Mas milik Raden Samba seorang jawara asal Pajajaran.

Ajian Serat Jiwa, adalah ajian yang paling populer karena ajian ini dimiliki oleh banyak pendekar baik dari golongan putih maupun beraliran hitam. Bahkan Brama Kumbara sendiri sempat kalah dan terluka parah saat bertarung dengan Tumenggung Gardika yang menggunakam ajian serat jiwa tingkat 10 saat mengalahkan Brama. 

Brama yang saat itu belum menguasai ajian Serat Jiwa ini bahkan terluka parah. Namun Brama berhasil diselamatkan oleh Rajawali raksasa, Brama kemudian di godok disebuah kawah mendidih di pantai selatan. Tanpa sengaja Brama akhirnya menemukan kitab ajian serat jiwa dan lantas memepelajarinya hingga berhasil mencapai tingkatan sempurna yakni tingkat 10.

Meski dimiliki oleh banyak tokoh termasuk Nenek Gunung Lawu dan muridnya yaitu Lasmini, namun hanya beberapa orang saja yang mampu menguasai ilmu Serat Jiwa ini hingga tingkat ke 10 yang merupakan tingkatan paling sempurna. Ajian serat jiwa tingkatan sempurna hanya dikuasai oleh Kakek Astigina bersama saudara seperguruannya, Tumenggung Gardika, Brama Kumbara dan Jaka Lumayung kakak seperguruan Brama.

Ajian Serat Jiwa yang merupakan ilmu paling hebat saat itu, akhirnya bisa dikalahkan oleh ajian Waringin Sungsang yang diciptakan oleh Panembahan Pasupati dari Gunung Saba. Dua murid utama Panembahan Pasopati yaitu Kijara dan Lugina akhirnya menjadi dua pendekar tangguh yang sangat disegani di dunia persilatan setelah mengalahkan Brama Kumbara.

Brama akhirnya berhasil menciptakan ajian atau jurus Srigunting untuk mengalahkan ilmu Waringin Sungsang. Saat itu, Brama melihat pertarungan ular saba dan burung srigunting. Ular saba sendiri memperagakan ilmu Waringin Sungsang yang begitu ampuh, namun akhirnya dikalahkan oleh burung srigunting yang begitu gesit dan trengginas. Dengan jurus-jurus Srigunting, Brama akhirnya bisa mengalahkan Kijara dan Lugina.

Selain ilmu-ilmu di atas, ada juga ajian-ajian tingkat tinggi lainnya yang begitu tersohor yaitu aji Sirep Megananda dan ajian Gelora Dewata milik Lasmini, kemudian ada juga ilmu Nurus Bumi, yaitu ilmu masuk ke dalam tanah lalu menarik musuh dan membenamkannya. Ajian Nurus Bumi dimiliki oleh Raden Samba, seorang pendekar dan bangsawan asal kerajaan Pajajaran.

Selain itu, Brama juga menciptakan ilmu Lampah Lumpuh setelah ajian Serat Jiwa dan Srigunting miliknya mampu dikalahkan oleh Biksu Kampala asal negeri Tibet. Biksu Kampala datang jauh-jauh dari Tibet hanya untuk menjajal nama besar dan kesaktian Brama, Butuh berpuasa hingga 40 hari 40 malam bagi Brama untuk menguasai ajian Lampah Lumpuh dan mengalahkan Biksu Kampala.

Saur Sepuh juga melejitkan beberapa nama yang begitu populer dalam dunia broadcast saat itu seperti Fery Fadli, Ely Ermawati, Ivone Rose, Bahar Mario dan beberapa nama lainnya. Madangkara sendiri adalah sebuah kerajaan fiktif yang berada di daerah Jawa Barat saat ini. Jika melihat alur ceritanya, Madangkara kemungkinan besar berada di Jawa Barat bagian tengan ke selatan. Dalam bahasa Sunda, Saur Sepuh sendiri berarti 'Kata Orang Tua' yang berarti juga ucapan atau ujaran para leluhur.
Sebagai sandiwara radio yang begitu fenomenal dan pernah menghibur jutaan rakyat Indonesia, tentunya masih begitu banyak masyarakat kita yang hingga kini masih mengingat betul kisah dan petualangan Brama Kumbara dalam serial Saur Sepuh ini. BDLV/TM
Desa Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Salah Satu Desa di Pesisir Utara Subang, Jawa Barat

On November 20, 2016 with 2 comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Desa Tanjungtiga, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, adalah salah satu desa yang terletak di pesisir utara Jawa Barat. Lokasi desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan nelayan ini persisnya berada di bibir pantai  laut Jawa di sekitar Teluk Ciasem.
Desa tanjungtiga blanakan subang jawa barat
Kantor Kepala DesaTanjungtiga, Blanakan, Subang
Desa Tanjungtiga terbagi dalam beberapa dusun yang diantaranya memanjang dari wilayah selatan desa yang berbatasan dengan desa Ciasem Hilir, hingga ke utara di pesisir laut Jawa. Sebagian wilayah desa ini juga memanjang ke arah timur yang berbatasan dengan Kecamatan Sukasari dan sebagian kecil di bagian tenggaranya berbatasan dengan Kecamatan Ciasem.

Di bagian barat desa, terdapat sebuah sungai purba yang cukup besar yakni sungai Ciasem. Letak geografis Desa Tanjungtiga sendiri sebagian besarnya memang memanjang dari selatan ke utara mengikuti alur sungai tersebut. Selain itu, sungai Ciasem juga menjadi pembatas bagi Desa Tanjungtiga dan Desa Muara yang berada di seberang baratnya.

Selain bertani termasuk petani tambak ikan dan udang, sebagian besar masyarakat desa ini juga berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, ada juga penduduk desa Tanjungtiga yang berprofesi sebagai pedagang, buruh, pekerja bangunan dan beragam profesi lain yang biasa ditekuni oleh masyarakat di pedesaan.

Selain bertani termasuk petani tambak ikan dan udang, sebagian besar masyarakat desa ini juga berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, ada juga penduduk desa Tanjungtiga yang berprofesi sebagai pedagang, buruh, pekerja bangunan dan beragam profesi lain yang biasa ditekuni oleh masyarakat di pedesaan.

Selain profesi tersebut di atas, sepuluh tahun terakhir warga desa khususnya kaum wanita juga turut memberdayakan perekonomian. Saat ini, ratusan penduduk desa Tanjungtiga tercatat sebagai pekerja di beberapa pabrik khususnya industri garment yang banyak terdapat di seputaran wilayah Subang. Dengan kondisi ini, kaum wanita juga turut berpartisipasi mengembangkan ekonomi desa khususnya bagi keluarga mereka.
Desa tanjungtiga blanakan subang profil
Alun-alun Desa Tanjungtiga Blanakan Subang
Desa Tanjungtiga memiliki populasi penduduk lebih dari 10.000 jiwa dengan hak pilih sekitar 7000 jiwa dalam setiap ajang pesta demokrasi seperti Pilkada, Pileg, Pilpres maupun Pilkades. Penduduk desa Tanjungtiga tersebar di beberapa dusun yang diantaranya adalah Dusun Sukawera, Sukatani, Sukabaru, Tanjunglaut, Tanjungrasa, Sumursapi I dan Sumursapi II. BDLV/TM
Rumah Makan Ibu Iroh Binong, Subang, Cita Rasa dan Kelezatan Ikan Mas Pindang

On November 20, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat, adalah salah satu daerah tingkat I atau provinsi di Indonesia yang dikenal memiliki beragam sajian kuliner dengan cita rasa yang begitu menggugah selera dan disukai oleh hampir seluruh penduduk di Indonesia.
Pindang ikan mas di rumah makan ibu iroh binong subang
RM Ibu Iroh Binong Subang
Selain dikenal karena banyaknya porsi sayuran hijau dalam menu makanan masyarakat Jawa Barat, ada juga terdapat beberapa menu masakan yang sangat terkenal karena kenikmatannya. Salah satunya adalah sajian ikan tawar yaitu ikan mas yang memang banyak terdapat di wilayah Jawa Barat.

Bersama ikan gurame, Ikan mas adalah ikan yang begitu familiar bagi masyarakat di seluruh pelosok Jawa Barat. Bagi warga Jawa Barat, ikan mas ini biasa diolah dalam berbagai varian menu seperti dipepes, digoreng, dibakar dan juga dibuat pindang. Pindang ikan mas, adalah salah satu ikan pindang olahan yang paling lezat.

Untuk wilayah Kabupaten Subang, pindang ikan mas ini juha sangat mudah untuk didapati. Selain menjadi andalan bagi para ibu rumah tangga, pindang ikan mas juga menjadi menu andalan bagi beberapa rumah makan yang ada di wilayah Subang yang membentang luas dari daerah Bandung di selatan, hingga laut Jawa di wilayah pesisir utaranya.

Bagi masyarakat Subang yang tinggal di daerah Pamanukan, Binong, Pagaden, Subang dan sekitarnya, tentunya mereka sudah tidak asing lagi dengan keberadaan Rumah Makan Ibu Iroh, yang salah satu menu andalannya adalah pindang ikan mas selain beberapa menu nikmat lainnya.

RM Ibu Iroh yang berlokasi di daerah Kecamatan Binong dan berbatasan dengan Kecamatan Pagaden ini tak pernah sepi dari pengunjung. Meski rumah makan ini terkesan sederhana, namun selalu ada saja para pengunjung yang sedang menikmati aneka hidangan salah satunya pindang ikan mas ini.

Rumah makan yang berada di sisi kiri jalan jika dari arah Pamanukan, dan berada di sisi kanan jalan jika anda berkendara dari arah Pagaden atau Subang ini bisa menjadi rujukan saat anda merasa lapar dan kebetulan berada di sekitar daerah tersebut. Selain rasanya yang lumayan nikmat, tentu saja harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau oleh kantong rakyat. BDLV/TM
Samsat Keliling Subang, Layanan Pajak Kendaraan Bagi Warga Pamanukan, Subang dan Sekitarnya

On November 19, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Membayar pajak, tentunya adalah kewajiban bagi kita semua selaku warga negara yang baik dan taat. Setiap warga negara Indonesia, memang diwajibkan untuk membayar pajak baik itu pajak bumi dan bangunan, pajak perusahaan maupun pajak kendaraan bermotor. Pajak sendiri dipergunakan untuk pembangunan dan penyelenggaraan negara kita yang tercinta.
Layanan samsat keliling polres subang mobil
Mobil Layanan Samsat Keliling Subang
Namun begitu, cukup banyak masyarakat di berbagai daerah yang merasa enggan untuk membayar pajak karena proses antrian dan juga jarak tempuh yang cukup jauh dari rumahnya. Bagaimana rasanya jika anda harus menempuh jarak antara 50 - 100 KM dari rumah menuju kantor pajak, sementara di kantor pajak sendiri antrian sudah cukup panjang ?

Untuk itulah pemerintah kemudian berusaha menjemput bola dengan membuka layanan pajak online yang biasa berkeliling ke berbagai tempat sesuai jadwalnya. Seperti halnya layanan SIM Keliling, pihak Kepolisian dan Dispenda juga kini membuka layanan pajak kendaraan keliling atau yang biasa disebut Samsat Keliling.

Untuk wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, layanan Samsat keliling sendiri terbagi dalam beberapa jam kerja yang masing-masing mengambil lokasi dan waktu yang berbeda-beda setiap pekannya. Jadawal Samsat Keliling Subang ini mencakup wilayah Pamanukan, Binong, Tambak dahan, Jalan Cagak, Tanjung Siang, Cisalak, Pusakanagara dan sekitarnya. 
Jadwal Layanan samsat Keliling Subang
Jadwal Samsat Keliling Kabupaten Subang sendiri untuk minggu pertama dan minggu ketiga di setiap bulannya akan mengambil lokasi di:
  • Pamanukan, setiap hari Senin dan Selasa
  • Tanjungsiang, setiap hari Rabu
  • Cisalak, setiap hari Kamis, dan
  • Jalan Cagak, setiap hari Jumat
Untuk minggu kedua dan minggu keempat di setiap bulannya, layanan Samsat Keliling akan mengambil lokasi di:
  • Pamanukan, setiap hari Senin dan Selasa
  • Pusakanagara setiap hari Rabu 
  • Tambakdahan, setiap hari Kamis, dan
  • Wates/Binong, setiap hari Jumat
Layanan Samsat Keliling Subang ini tentunya bertujuan untuk lebih memudahkan masyarakat yang memiliki kewajiban untuk membayar pajak. Selain jadwal tersebut diatas, masyarakat juga bisa menghubungi petugas di nomor 0812 8760 0291 untuk lebih memudahkan atau jika sewaktu-waktu jadwal mengalami perubahan.
Layanan Samsat Keliling ini biasanya mengambil lokasi di tempat-tempat yang paling strategis seperti kantor kecamatan, pasar, perempatan, pos polisi maupun tempat dan pusat keramaian lainnya. BDLV/TM
Pencak, Seni Beladiri Buhun Warisan Karuhun, Jawara-Jawara Silat Jawa Barat

On November 18, 2016 with No comments

Sejarah pencak silat di jawa barat

Soeara Rakjat, Jawa Barat. Silat, Pencak Silat, atanapi Pencak mun cek urang Jawa Barat, mangrupi salah sahiji seni beladiri asli Indonesia. Kusus urang Sunda, salain Pencak oge sering nyebatna teh ulin (permainan : bhs Indonesia). Di Tatar Sunda khususna, seueur pisan paguron-paguron silat nu mangrupikeun warisan karuhun jeung jawara-jawara Sunda buhun nu geus kaceluk ka awaun-awun kawentar ka janapriya.

Baheula mangsana jaman penjajahan Walanda jeung Jepang, ieu paguron-paguron silat teh mineung jadi bebentengna rahayat Indonesia di Jawa Barat ti kamurkaan bangsa deungeun. Kahebatan jawara Sunda teh tos kabeja ka unggal nagara, malah cek beja nu beunang dipercaya mah Si Pitung oge nu pituin jawara Betawi eta teh diajar silatna ku jawara Sunda nu ngagem ulin Cimande.

Silat Cimande, memang eta salah sahiji ulin buhun nu pang kahotna di Tatar Sunda. Kiwari, ulin Cimande teh cenah mah geus kabagi dina sababaraha ratus kembang termasuk nu dikembangkeun ku Si Pitung di wewengkon Betawi. Sakawitna Cimande teh aya tilu kembang nyaeta Sera atawa aliran Monyet, Pamacan nyaeta aliran Maung, jeung Trumbu alias tarung iteuk (pertempuran tongkat). Silat Cimande ieu dipupuhuan ku Mbah Kahir dina tungtung tahun 1700.

Salain Cimande, aya deui nyaeta Silat Sabandar nu aslina mah ti Pagaruyung, Sumatera. Di Pagaruyung oge memang seueur jago-jago silat nu kahot, pan Tuanku Imam Bondjol salah sahiji pahlawan nasional oge aslina teh ti Pagaruyung. Bisana disebut Sabandar, kusabab eta aliran silat ti Pagaruyung teh dikembangkeun di Kampung Sabandar, Karang Tengah, Cianjur.

Masih di wewengkon Cianjur, aya deui Silat Cikalong. Ieu aliran Silat Cikalong dipupuhuan ku Haji Ibrahim atawa Raden Jaya Perbata, nu tilar dunya taun 1908. Aliran Silat Cikalong geus nyebar ka sakumna wewengkon Sunda di Jawa Barat. Silat ieu oge sering disebutna teh Ulin Maen Po Cikalong, jurus-jurus silat Cikalong oge geus disaluyukeun (diadopsi dan diadaptasi) ku sababaraha paguron silat Sunda sapertos Pusaka Siliwangi, Paguron Silat Panglipur jeung sajabana.

Mangsa kiwari, seueur oge jawara-jawara Sunda nu ngadegkeun paguron-paguron silat, sapertos Pak Ujang Jayadiman nu dina taun 1982 ngadegkeun Paguron Silat Riksa Budi Kiwari, di Bandung. Sanajan kaasup paguron nu anyar, tapi ieu paguron teh geus hasil nyiptakeun jago-jago silat anu berprestasi nepi ka tingkat internasional komo deui tingkat nasional mah.

Nyaritakeun para jawara jeung paguron silat nu aya di Tatar Sunda mah moal angeus tujuh poe tujuh peuting oge, kusabab loba pisan para jawara jeung jago silatna. Apanan carita Brama Kumbara jeung Si Rawing teh nyaritakeun para jawara ti Tatar Sunda. Sanajan eta carita rekaan tapi pasti aya benerna oge, da moal aya catur mun tampa bukur.

Kahebatan para karuhun jeung jawara Sunda teh geus kabuktikeun dina mangsa jaman Pajajaran atawa Karajaan Sunda. Pajajaran teh hiji-hijina Karajaan di pulo Jawa anu teu bisa dielehkeun atawa ditalukeun ku Majapahit baheula. Matak oge, moal aya ngaran jalan Hayam Wuruk jeung Gajah Mada di puseur dayeuh Jawa Barat sapertos Bandung, Bogor jeung kota-kota nu sejena.
Jawa Barat salaku bumi Siliwangi, memang beunghar pisan ku jawara jeung paguron-paguron silat nu jurus-jurusna matak pikareueuseun kana manah dulur salembur, tapi matak seber kana hate bangsa deungun. Pan urang Sunda mah ngabogaan Sima Aing Sima Maung tea, eta sima teh minangka warisan ti karuhun-karuhun urang teuteureuh Hyang Prabu Siliwangi mangsa baheula. BDLV/TM
Tuanku Imam Bondjol, Ulama, Pejuang dan Pahlawan Terbesar Indonesia Asal Sumatera Barat

On November 18, 2016 with No comments

Tuanku imam bondjol pahkawan nasional asal sumatera barat

Soeara Rakjat, Historia. Muhammad Shahab atau Tuanku Imam Bondjol, adalah pemimpin Pagaruyung yang juga merupakan seorang Ulama sekaligus pejuang yang pernah dengan gagah berani memimpin kaum Padri berperang melawan Belanda dalam sebuah peperangan yang dahsyat dan dikenal sebagai Perang Padri.

Tuanku Imam Bondjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat pada tahun 1772. Beliau wafat pada 6 November 1864 dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa. Tuanku Imam Bondjol tercatat sebagai salah satu pahlawan terbesar bagi bangsa Indonesia karena perjuangannya yang berusaha mengusir Belanda dari ranah Minang semasa Perang Padri.

Seperti halnya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa II, Tuanku Imam Bondjol juga mengobarkan semangat jihad kaum Paderi dan rakyat Minangkabau pada umumnya untuk mengusir penjajahan Belanda. Tuanku Imam Bondjol lantas diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tertanggal 6 November 1973.

Sejak lahir dari rahim seorang ibu bernama Hamatun, Tuanku sudah dididik dengan berbagai disiplin ilmu agama yang sangat kuat dan kental. Ayah beliau, yaitu Khatib Bayanuddin merupakan seorang alim ulama terkemuka sekaligus tokoh dan pemimpin masyarakat di Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Selain nama Tuanku Imam Bondjol, beliau juga memperoleh beberapa gelar diantaranya adalah Tuanku Imam, Tuanku Malim Basa dan Peto Syarif. 

Beliau menjadi pemimpin kaum Padri setelah Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam, yang merupakan pemimpin tertinggi dari Harimau nan Salapan menunjuk Muhammad Shahab atau Tuanku Imam Bondjol ini sebagai Imam atau pemimpin bagi kaum Padri di Bondjol. Sejak itulah nama Tuanku Imam Bonjol begitu melekat pada diri Muhammad Shahab ini.

Perang Padri sendiri awalnya dilandasi oleh keinginan para pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung yang ingin menerapkan syariat Islam dengan berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits. Para pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan ini lantas meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Namun setelah melakukan beberapa perundingan, tak ada kata sepakat baik dari kelompok ulama atau Kaum Padri maupun dari Kaum Adat ini. Seiring dengan itu di beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung pun bergejolak, yang akhirnya pada tahun 1815 Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung. Pecahlah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar, yang mengakibarkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan Pagaruyung.

Untuk menghadapi kaum Padri, kaum Adat lantas bekerja sama dengan pihak Belanda. Pada 21 Februari 1821, kaum Adat lantas menandatangani sebuah perjanjian dengan Belanda di Padang. Dengan perjanjian ini, Belanda akhirnya mendapat hak untuk bisa masuk dan menguasai wilayah pedalaman Minangkabau. Selain kaum Adat, perjanjian ini juga dihadiri oleh sisa-sisa keluarga dari dinasti Kerajaan Pagaruyung yang saat itu sudah berada di Padang.

Pertempuran pertama antara kaum Padri dengan Belanda yang bersekutu dengan kaum Adat pun pecah saat pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema menyerang daerah Simawang dan Sulit Air pada April 1821. Penyerang pasukan Belanda ini adalah atas perintah langsung Residen Belanda saat itu yaitu James du Puy.

Namun begitu, Belanda sangat kesulitan untuk menundukan pasukan Padri yang pimpinan para ulama ini. Selain itu, Belanda juga sedang kesulitan untuk membiayai perang di Eropa dan juga sedang berusaha memadamkan benih-benih Perang jawa II, atau perang Diponegoro. Menghadapi ketangguhan kaum Padri, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch di Batavia lantas mengajak kaum Padri yang saat itu dipimpin oleh Tuanku Imam Bondjol untuk berdamai melalui Perjanjian Masang pada tahun 1824.

Namun bukanlah Belanda jika tidak melanggar janjinya, penyerangan pasukan Belanda ke wilayah Pandai Singkek, menjadi pertanda bahwa perang Padri ini akan terus berkobar. Pada 1833, kaum Adat akhirnya menyadari kesalahan mereka dan lantas bergabung dengan kaum Padri untuk memerangi Belanda. Kaum Adat sangat menyesal telah melibatkan Belanda dalam konflik yang akhirnya justeru sangat menyengsarakan rakyat Minangkabau sendiri.

Kaum Padri dan kaum Adat pun akhirnya bersatu dan mewujudkan sebuah konsesnsus bersama yakni Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah yang berarti Adat berdasarkan Agama, dan Agama berdasarkan Kitabullah. Peristiwa bersatunya Kaum Padri dan Kaum Adat ini dikenal dengan Plakat Puncak Pato yang terjadi di Tabek Patah. 

Saat itu, ada sebuah ungkapan penyesalan dari Tuanlu Imam atas semua peristiwa yang terjadi di antara kaum Padri dan kaum Adat selama itu. Tuanku berujar, Adopun hukum Kitabullah banyak lah melampaui dek ulah kito juo. Baa dek kalian?. Ujaran Tuanku dalam bahasa Minang ini jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih adalah 'Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana fikiran kalian?'.

Sejak bersatunya kaum Padri dan kaum Adat, Belanda pun mulai melakukan penyerangan besar-besaran. Pasukan Belanda lantas mengepung benteng Padri di Bondjol selama enam bulan lamanya sejak Maret hingga Agustus 1837. Dalam penyerangan kali ini, Belanda melibatkan pasukan yang sebagian besarnya adalah pasukan pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Ambon, Bugis, Madura dan Jawa. Penyerangan ini melibatkan sekitar 148 perwira Belanda-Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 pasukan Belanda-Eropa dan sekitar 4.130 tentara bayaran pribumi.

Lebih dari itu, bantuan pasukan pun terus didatangkan dari Batavia. Pada Juli 1837, bala bantuan Belanda yang terdiri dari orang Eropa dan Afrika pun tiba di Padang dengan menggunakan kapal Perle. Setelah bantuan tiba, Belanda pun kembali melakukan pengepungan dan semakin mempersulit kedudukan Tuanku Imam. Namun begitu, Tuanku Imam tetap berjuang dan tetap tidak mau tunduk atau menyerah pada Belanda.

Terhitung hingga tiga kali Belanda mengganti komandan perangnya untuk bisa merebut Bondjol, sebuah nagari kecil dengan bentengnya yang terbuat dari tanah liat dan di kelilingi oleh parit-parit ini. Setelah melakukan pengepungan dan pertempuran berkepanjangan, Belanda pun akhirnya bisa menguasai Benteng Bondjol pada 16 Agustus 1837.

Pada Oktober 1837, Belanda mengundang Tuanku Imam untuk berunding di Palupuh. Namun setibanya di Palupuh, Tuanku Imam langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Tuanku Imam lantas dipindahkan ke Ambon, dan kemudian dipindahkan lagi ke Lotak, Minahasa. Tuanku Imam meninggal pada tanggal 8 November 1864, dan dimakamkan di tempat pengasingannya.

Tuanku Imam Bondjol, adalah salah satu pahlawan terbesar bagi bangsa Indonesia. Jika saja saat itu tak ada kaum pribumi yang membantu, belum tentu Belanda akan mampu untuk menundukan Tuanku. Kekalahan Tuanku Imam Bondjol, adalah karena tidak adanya rasa persatuan dan kesatuan dari bangsa pribumi di seluruh kepulauan Nusantara saat itu.

Seperti halnya Pangeran Diponegoro dalam dahsyatnya kecamuk Perang Jawa II, kekalahan Tuanku Imam Bondjol juga adalah karena harus berperang dengan pasukan Belanda yang sebagian besarnya adalah pasukan pribumi bayaran dari kepulauan nusantara.

Atas jasa-jasanya terhadap bangsa Indonesia, nama Tuanku Imam lantas diabadikan sebagai nama Jalan, Sekolah dan berbagai lembaga pendidikan agama Islam. Selain itu, jiwa dan semangat perjuangan yang mulia Tuanku Imam juga masih selalu bersama rakyat Indonesia yang dilukiskan dalam mata uang RI pecahan Rp 5000. BDLV/TM
Joko Waras, Bocah Ini Menderita Penyakit Langka Yang Harus Segera Mendapat Bantuan Untuk Kesembuhan

On November 18, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Untuk kesekian kalinya, pemandangan mengharukan kembali terjadi dan menghampiri masyarakat Indonesia khususnya para Netizen di ranah maya. Adalah seorang bocah dari kalangan keluarga sederhana yang menderita penyakit langka yang harus segera mendapatkan bantuan untuk kesembuhannya.
Joko waras derita penyakit Hydrocipalus
Joko Waras, bocah penderita hydrocephalus
Joko Waras, begitulah bocah ini dipanggil. Menurut seorang aktivis  yang selama ini berkecimpung dalam dunia sosial khususnya untuk lansia yang terlantar, pihaknya akan turut membantu untuk biaya dan kesembuhan Joko Waras. Meski hal ini tidak berkaitan dengan orang-orang jompo dan kaum dhuafa, namun aktivis tersebut merasa bahwa Joko Waras juga sangat membutuhkan bantuan yang sama.

Joko Waras sendiri menderita penyakit langka yang dalam istilah kedokteran biasa disebut hydrocephalus, yaitu pembesaran di bagian kepala karena adanya cairan yang berlebihan. Penyakit ini biasanya bawaan lahir atau diderita sejak bayi masih dalam kandungan.

"Cepet sembuh adek Joko Waras. Mari berdonasi meringankan beban mereka. Bukan target dhuafa, tapi melihat yang seperti ini hatipun juga tak tega. Yang ingin meringankan beban keluarga adek Joko Waras, bisa melalui Dhuafa Ponorogo yang nantinya akan kami salurkan secepatnya," ujar salah satu petugas Rumah Dhuafa Ponorogo.
Menderita penyakit langka, Joko Waras butuh bantuan secepatnya
Selama ini, memang marak kasus-kasus pelayanan kesehatan yang kurang bisa menyentuh keluarga pra sejahtera. Karena itulah saat ini cukup banyak pihak-pihak yang mencoba untuk membantu meringankan beban mereka. Jika berniat membantu, anda bisa mencoba menghubungi keluarga Joko Waras atau petugas rumah dhuafa  ini. BDLV/TM
Meski Fisik Tak Sempurna Pedagang Jaket Anak Ini Tetap Istiqomah Dalam Shalat Berjamaah

On November 17, 2016 with No comments

Pria cacat tetap rajin bekerja

Soeara Rakjat, Sejak kemarin, para Netizen di jejaring sosial Fecebook diharu-biru oleh sebuah postingan yang sangat menyentuh hati dan begitu menginspirasi. Adalah seorang pria paruh baya yang memiliki anggota badan tidak sempurna namun tetap berusaha untuk bisa menjalankan ibadah khususnya shalat berjamaah.

Pria asal Bogor yang merupakan seorang penjual jaket untuk anak ini tetap bekerja mencari nafkah dan juga selalu berusaha untuk segera mencari Masjid atau Mushola untuk bisa menunaikan shalat berjamaah. Tentunya ini adalah pemandangan yang sangat langka yang sekaligus bisa menjadi cermin agar kita lebih termotivasi.

Adalah seorang Netizen bernama Erlina Binjai yang pertama kali mengunggah beberapa foto sekaligus video ke akun Facebook miliknya. Saat mengunggah foto dan video tersebut, Erlina juga mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap pria tersebut. Dia juga berharap agar suatu saat bisa kembali berjumpa dengan sang penjual jaket yang shaleh ini.

"Hari ini saya ketemu dengan seorang bapak yang luar biasa. Namanya pak Hendra, beliau dari Bogor turun di stasiun Cawang, lalu berjalan kaki menjajakan dagangannya. Tadi saya bertemu beliau di kawasan Tebet," tulis Erlina Binjai.

Yang lebih mengagumkan, Erlina juga menulis bahwa bapak ini terlihat bergegas mencari Masjid untuk Shalat begitu azan berkumandang. " Dengan keterbatasannya, beliau tetap mencari nafkah yang halal. Lebih salut lagi ketika azan berkumandang beliau buru-buru untuk shalat berjamaah," begitulah rasa haru sekaligus kekaguman yang dirasakan oleh Erlina Binjai.
Tentunya apa  yang diposting oleh Erlina Binjai ini mengundang beragam tanggapan yang sangat positif dari para Netizen. Postingan tertanggal 15 November 2016 inipun sudah disukai puluhan ribu Netizen dan sudah dibagikan secara ulang hingga 14 ribu kali. BDLV/TM
Sohibul Hikayat, Carita Sunda Klasik Kyai Haji Ahmad Kopeah Beureum, Garapan Kyai Balap Bogor

On November 16, 2016 with No comments

Sohibul Hikayat carita sunda kyai ahmad, kyai balap bogor

Soeara Rakjat, KH Muhammad Arief Sholeh atanapi Kyai Balap, mangrupi salah sahiji ulama ti Tatar Sunda nu paling sohor di antara ulama-ulama nu liana. Mangpuluh taun ka tukang, Kyai Balap sohor pisan kusabab ngajadikeun dongeng atanapi carita Sunda salaku media dakwah.

Aya sababaraha carita Sunda nu diguar ku Kyai Balap, salah sahiji nu pangsohorna nyaeta dongeng Kyai Haji Ahmad. Baheula, sekitar tahun 1980, carita Kyai Ahmad jadi dongeng nu paling dipikareueus ku masyarakat Jawa Barat khususna umat Islam boh di lembur komo deui di kota. Salain carita kyai Ahmad, aya carita nu sejen sapertos Kyai Hasan Basri, Budak Hideung, Tukang Bakul, Siti Aisyah jueng sajabana.

Sakabeh carita atanapi dongeng kyai Balap, biasana meunang ngareka dumasar kana kitab-kitab kuning anu biasa dipake ku para santri zaman baheula. Lian ti sok ngahaleuangkeun syair-syair Sunda dina wanda klasik, waktu ngadongeng oge kyai Balap teh resep pisan ngahaleuangkeun syair-syair dina bahasa arab nu biasa sok dihaleungkeun ku para santri jeung ulama.

Salah sahiji syair nu milu sohor basa kyai Balap masih ngadakwah nyaeta Shalawat Mukhtar. Shalawat Muhktar mangrupi salah sahiji shalawat dina langgam Sunda klasik anu memangna resep pisan dihaleuangkeun ku Kyai Balap boh waktu ngadongeng komo deui keur caramah di mana wae anjeuna sok ngahadiran uleman kanggo dakwah.

Ari kyai Ahmad teh nyaritakeun hiji budak umur 11 tahun nu kolotna jauh tina ajaran agama. Bapana Ahmad teh hobina maen atawa judi, ngadu hayam bari jeung ngedul pisan. Jadi Ahmad teh ti leuleutik geus sangsara kurang dahar kurang make, ku alatan eta, Ahmad teh jadi tukang ngeuseup sapope. Hasilna, ditukerkeun kana beas, kana lauk, kana uyah jeung samara.

Dina hiji wanci, Ahmad teh papendak jeung hiji santri, tuluy weh Ahmad teh diajak masantren ku eta mang santri. Nya Ahmad teh balik teras bebeja ka kolotna yen manehna teh hayang masantren. Tadinamah kolotna nyaram, pokna teh teu gaduh ongkosna. Salain eta, bapana Ahmad geus ngarasa ngeunaheun kusabab tara ikhtiar neangah pakasaban lantaran geus aya Ahmad nu usaha jadi tukang mancing.

Ku keukeuhna Ahmad hayang masantren, akhirna kolotna mere idin ka Ahmad. Sanaos ku kitu, bapana Ahmad mere syarat mun Ahmad maksa hayang masantren. Syaratna, Ahmad kudu ngirimkeun kerak kanggo dahareun indung jeung bapana unggal Ahmad tas ngaliwet di pasantren.

Akhirna Ahmad teh mangkat ka pasantren bari jeung teu mawa bekel, ngan make calana nu beuratna kira-kira saklio kusabab rea teuing ku tambal. Di pasantren, Ahmad teh gawena tempa tempo bae, mun ningal kulah mama ajengan kosong Ahmad teh geuwat mangalakeun cai, boh kitu deui di pawon, Ahmad teh teu kalelked milarian suluh mun ningal pawon mama ajengan teu aya suluhan.

Kira-kira 16 tahun lawasna Ahmad di pasantren, Anjeuna geus pasagi pisan ku elmu-elmu agama. Sajaba ti Qur'an jeung Hadits, Ahmad teh geus masagi dina mangrupi elmu nu aya dina sakabeh kitab kayaning tafsir Munir, Jalalain, Madroqi Tanjir, Minhajul Abidin jeung sajabina.

Gancangna carita, Ahmad nu geus jadi ajengan tur masagi ku pangarti teh ahirna mulir ka lembur. Barang nepi ka imahna, Kyai Ahmad teh diusir ku bapana. Tuluy weh kyai Ahmad teh nyieun langgar atanapi Mushola leutik ditukangeun imah kolotna. Lawas ku lawas, eta langgar teh jadi pasantren nu sohor jeung loba pisan santrina,
Dulur, Sohibul Hikayat Carita Sunda Kyai Ahmad teh minangka pengeling-eling tur panggeuing pikeun urang tur sakabeh muslimin wal muslimat di Indonesia khususna di Jawa Barat. Saha-saha nu daek nulung kana agama Allah, Insyaallah bakal dibere kahirupan nu mulya boh di dunia komo deui di akherat. BDLV/TM
Petani dan Ahli Agama, Ternyata Menjadi Pekerjaan Yang Paling Membahagiakan di Dunia

On November 15, 2016 with No comments

Menjadi petani adalah pekerjaan bahagia

Soeara Rakjat, Hidup di dunia, tentunya menuntut kita untuk terus bekerja agar bisa memenuhi seluruh keperluan dan kebutuhan. Beragam profesi dan pekerjaan pun akan di geluti oleh umat manusia di seluruh dunia. Menjadi dokter, pilot, insinyur, pedagang, pekerja bangunan hingga polisi dan petani tentunya akan mereka tekuni.

Namun tahukah anda pekerjaan atau profesi apa yang paling memberikan rasa kebahagiaan bagi yang menggelutinya ? Menurut sebuah lembaha survei di Inggris yang pernah di muat di BBC, pekerjaan sebagai ahli agama seperti pendeta, ulama, rahib, biksu dan sebagainya, adalah pekerjaan yang paling membahagiakan. Profesi sebagai petani, menyusul di urutan berikutnya.

Profesi sebagai uUama (khusus di Indonesia), di sebut sebagai profesi yang paling membahagiakan karena ulama (yang sebenarnya) terbebas dari rasa keinginan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Ulama lebih nengedepankan pengabdian dengan berharap akan mendapatkan balasan kebaikan dari Tuhan. Ulama yang sudah benar secara keilmuan, juga akan terbebas dari persaingan atau kompetisi dalam dunianya.

Begitu juga dengan petani. Pekerjaan ini dianggap terbebas dari berbagai konflik yang biasa dihadapi oleh para pekerja, khususnya para profesional yang bekerja di perkantoran maupun yang menggeluti dunia perniagaan. Menjadi petani konon disebut-sebut sebagai pekerjaan mandiri yang tidak bergantung kepada orang lain. Menjadi petani hanya perlu memperbaiki dan menggali potensi di bidangnya, tanpa perlu memikirkan kerasnya persaingan.

Menjadi ahli agama dan petani, disebut-sebut juga terbebas dari konflik kepentingan. Saat pekerjaan lain betul-betul menguras energi pelakunya karena kerasnya persaingan, menjadi ahli agama dan petani malah bekerja dengan santai dan seperti memiliki dunianya sendiri. 

Yang mengagumkan, ahli agama dan petani juga konon sangat dibutuhkan orang lain. Ahli agama dibutuhkan karena sisi kereligiusannya yang diyakini akan mampu memberi spirit, advis dan dorongan kepada orang lain untuk selalu berbuat kebaikan. Sementara petani dibutuhkan orang karena apa yang dihasilkan (berupa pangan) bisa menjadi sumber penghidupan.

Selain ahli agama dan petani, di urutan berikutnya ada instruktur senam atau kebugaran. Selain itu, pekerjaan di bidang seni juga disebut-sebut sebagai profesi yang paling memberikan kebahagiaan terlepas berapun penghasilannya. Lalu apa profesi atau pekerjaan yang sedang anda geluti saat ini ? BDLV/TM
Penampakan Awan Aneh di Brastagi, Medan, Menjadi Viral dan Gemparkan Media Sosial

On November 15, 2016 with No comments

Video awan aneh di medan gemparkan netizen

Soeara Rakjat, Saat ini, para Netizen di jejaring sosial khususnya Facebook, digemparkan oleh beredarnya sebuah video yang menayangkan penampakan awan yang cukup aneh. Penampakan awan ini cukup mengebohkan warga sekitar, merekapun langsung berusaha mengabadikannya dengan gadget miliknya masing-masing.

Sekilas penampakan awan ini memang terlihat cukup aneh dan sedikit menyeramkan. Selain suasana yang sedikit gelap karena mungkin menjelang senja atau bisa saja karena sinar matahari tertutup oleh awan tersebut, penampakan awan ini juga terlihat memilki aura mistis yang luar biasa kuat.

Hingga saat ini, para Netizen masih terus memperbincangkan penampakan awan aneh tersebut. Banyak yang menduga-duga terkait awal mulanya dan penyebab dari kejadian yang cukup langka di Indonesia ini.
Video yang awalnya diunggah oleh seorang pengguna akun Facebook ini sudah tayang sedikitnya 1 juta kali. "Gak tahu apa yang barusan terjadi di Brastagi Medan," ujar seorang Netizen yang terlihat pertamakali mengunggahnya. BDLV/TM
Pondok Bakso Dua Dara Cikampek Mall, Dengan Harga Yang Merakyat Tapi Rasa Pejabat

On November 14, 2016 with No comments

Bakso dua dara cikampek mall

Soeara Rakjat, Jawa Barat. Pondok Bakso Dua Dara, adalah salah satu pondok atau kedai bakso yang sudah sangat populer khususnya bagi mereka warga Karawang, Purwakarta dan Subang yang sering  mengunjungi Cikampek Mall. Meski pondok bakso ini berada di luar area Mall, namun masyarakat kadung menyebutnya sebagai bakso Dua Dara Cimall.

Lalu apa yang membuat pondok bakso ini terasa begitu istimewa dan selalu dipenuhi oleh para pengungjung ? Selain kualitas rasa yang memang prima, harga yang ditawarkanpun relatif murah di kelasnya. Selain menawarkan beberapa varian hidangan bakso beserta lontong dan kerupuk, pondok bakso ini juga menawarkan aneka minuman segar yang cukup menggugah selera.


Harga bakso di pondok ini cukup murah yaitu di kisaran harga Rp 13.000 dan Rp 18.000 untuk bakso istimewa. Hidangan bakso di pondok ini juga bisa dijadikan sebagai hidangan untuk makan siang ataupun malam karena disediakan pula lontong ukuran sedang. Bakso Istimewa ditambah lontong dan es buah segar adalah salah satu menu andalan dari pondok bakso ini.

Sekilas, Pondok Bakso Dua Dara memang terlihat sederhana dan hanya seukuran warung bakso pada umumnya. Namun saat anda memasuki pondok bakso ini, anda anda akan berdesakan dengan para pengunjung lainnya yang sedang menikmati aneka hidangan di pondok bakso tersebut.

Tentunya anda merasa penasaran jika belum pernah mencobanya. Tak ada salahnya untuk anda mengunjungi pondok bakso yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No 65, Cikampek, sekaligus mencicipi aneka hidangannya. BDLV/TM
Azzahra Skincare Cikampek, Klinik Perawatan dan Kecantikan Kulit Untuk Pria dan Wanita

On November 14, 2016 with 1 comment

Azzahra skincare simpang jomin cikampek

Soeara Rakjat, Azzahra Skincare, adalah salah satu klinik kecantikan khususnya perawatan kulit yang berlokasi di Simpang Jomin, Cikampek, Karawang, Jawa Barat. Azzahra Skincare sudah cukup ternama bagi sebagian masyarakat Karawang, Purwakarta hingga Subang.

Selain Azzahra Skincare 1, yang berlokasi di Cikampek sebagai cabang utamanya, klinik kecantikan Azzahra juga membuka beberapa cabangnya seperti di daerah Purwakarta di sekitar Situ Beuleud, kemudian di daerah Cilamaya yang lokasinya persisnya tak jauh dari SPBU Cilamaya, Karawang.

Dengan tenaga-tenaga handal di bawah pengawasan langsung dr. Ratna Juwita, klinik kecantikan atau Azzahra Skincare menawarkan beragam metode perawatan bagi kesehatan dan kecantikan kulit baik pria maupun wanita. Selain perawatan yang prima, harga yang ditawarkan juga relatif murah dan terjangkau.
Untuk mendapatkan perawatan yang memuaskan, anda bisa mendatangi langsung klinik kecantikan kulit Azzahra baik di Cikampek, Purwakarta maupun Cilamaya. Anda juga bisa menghubungi Azzahra Skincare untuk mengetahui informasi lebih lanjut melalui nomor 0260-8389845. BDLV/TM
Diguyur Hujan, Warga Desa Muara, Blanakan Subang, Kembali Bersiaga Hadapi Banjir

On November 13, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Warga Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, kembali harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan akan terjadinya banjir akibat dari turunnya hujan. Hujan yang mengguyur sejak sore tadi, telah membuat beberapa wilayah di desa ini kembali tergenang.
Desa muara, blanakan subang banjir
Banjir di Desa Muara, Blanakan, Subang
Hujan dengan intensitas sedang dan ringan ini hingga saat ini masih terus turun. Warga pun diminta untuk tetap waspada menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Terlebih, hujan juga sepertinya masih akan terus berlangsung hingga malam hari ini, atau bahkan mungkin hingga menjelang pagi hari nanti.

Saat ini, beberapa tempat di desa Muara sudah mulai tergenang. Seperti di  pertigaan desa yang berada di Dusun Suka Mulya, di lokasi yang persisnya adalah land mark Desa Muara ini juga tak luput dari genangan. Di sekitar Masjid Nurul Huda ini genangan air cukup tinggi, hal ini tentunya sangat merepotkan bagi para pengendara motor maupun pejalan kaki.

Sementara itu, di Pintu Air Desa Muara ketinggian air juga terpantau sudah hampir mencapai batas maksimal. Selain debit air yang cukup tinggi, arus air di pintu air yang berbatasan langsung dengan Desa Langen Sari ini juga cukup deras dan kuat.
Menyikapi kondisi ini, tentunya warga diminta untuk kembali waspada. Jika hujan masih terus turun sampai malam nanti bahkan hingga esok hari, bukan tidak mungkin jika banjir akan kembali terjadi. BDLV/TM
Kode Pos Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat

On November 13, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Kode Pos, adalah sebuah kode atau serangkaian angka yang menjadi identitas alamat pada daerah tertentu di suatu wilayah. Kode Pos sangat dibutuhkan saat ada surat atau paket berupa barang atau benda yang hendak dikirimkan kepada seseorang di suatu tempat.
Kode pos kecamatan ciasem, kabupaten subang, jawa barat
Jalan Babakan Ciasem, Subang Jawa Barat
Dengan Kode Pos, surat atau barang akan lebih mudah untuk dikirimkan ke alamat dan orang yang dituju. Di Indonesia, Kode Pos biasanya merujuk pada daerah Kecamatan atau Kawedanan, yang membawahi beberapa kelurahan atau desa.

Untuk wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, tentunya terdapat cukup banyak kode pos karena wilayah Subang sendiri terbagi dalam puluhan Kecamatan yang tersebar dari daerah paling selatan yang berbatasan dengan wilayah Bandung, hingga di utara yang berbatasan dengan laut Jawa.

Selain membentang dari utara ke selatan, wilayah Subang juga memanjang dari daerah barat dan timur. Di daerah barat, wilayah Subang berbatasan langsung dengan Purwakarta dan sebagian Karawang, sementara wilayah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Malajengka, Indramayu dan Sumedang.

Kecamatan Ciasem, adalah salah satu daerah administratif atau wilayah kecamatan yang berada di bagian utara Subang, Jawa Barat. Kode Pos Kecamatan Ciasem adalah 41256. BDLV/TM
Kode Pos Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat

On November 13, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Kode Pos, adalah sebuah kode atau serangkaian angka yang menjadi identitas alamat pada daerah tertentu di suatu wilayah. Kode Pos sangat dibutuhkan saat ada surat atau paket berupa barang atau benda yang hendak dikirimkan kepada seseorang di suatu tempat.
Kode pos kecamatan pamanukan subang jawa barat
Toserba Yogya Pamanukan, Subang, Jawa Barat
Dengan Kode Pos, surat atau barang akan lebih mudah untuk dikirimkan ke alamat dan orang yang dituju. Di Indonesia, Kode Pos biasanya merujuk pada daerah Kecamatan atau Kawedanan, yang membawahi beberapa kelurahan atau desa.

Untuk wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, tentunya terdapat cukup banyak kode pos karena wilayah Subang sendiri terbagi dalam puluhan Kecamatan yang tersebar dari daerah paling selatan yang berbatasan dengan wilayah Bandung, hingga di utara yang berbatasan dengan laut Jawa.

Selain membentang dari utara ke selatan, wilayah Subang juga memanjang dari daerah barat dan timur. Di daerah barat, wilayah Subang berbatasan langsung dengan Purwakarta dan sebagian Karawang, sementara wilayah timurnya berbatasan dengan Kabupaten Malajengka, Indramayu dan Sumedang.

Kecamatan Pamanukan, adalah salah satu daerah administratif atau wilayah kecamatan yang berada di bagian utara Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kode Pos Kecamatan Pamanukan adalah 41254. BDLV/TM