ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Tanpa Impor Pacul, Indonesia Pernah Berswasembada Pangan dan Memiliki Petani Yang Unggul

On October 31, 2016 with 2 comments


Soeara Rakjat, Impor Cangkul atau Pacul, hingga kini masih menuai kontroversi ditengah masyarakat Indonesia. Tak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun perdebatan terkait hard ware di bidang pertanian ini semakin meluas. Tak hanya masyarakat biasa, para pengamat, politisi, aktivis hingga ketua MPR RI pun turut mengkritisi.

Kebijakan impor cangkul sendiri diberlakukan oleh pemerintah dalam rangka mewujudkan salah satu tujuan Nawacita, yakni memberantas peredaran barang (cangkul) ilegal di Indonesia. Selain itu, impor cangkul sendiri bertujuan untuk lebih meningkatkan produksi pertanian khususnya beras.
Menurut pemberitaan yang beredar, cangkul-cangkul dalam negeri masih kurang berkualitas dan belum bisa mendongkrak hasil pertanian khususnya beras. Cangkul dalam negeri yang selama ini ada, dinilai masih belum begitu mampu memenuhi kebutuhan cangkul dan mobilitas para petani Indonesia.

Di sisi lain, banyak kalangan yang menilai bahwa kebutuhan cangkul dalam negeri sebenarnya sudah tak sebesar dahulu lagi. Hal tersebut disebabkan oleh keberadaan berbagai mesin pertanian termasuk traktor yang biasa digunakan untuk membajak atau menggarap sawah. 

Dengan kondisi ini, praktis sejak pertengahan tahun 1980-an secara umum eksistensi cangkul sudah mulai tergantikan oleh mesin modern salah satunya traktor tersebut.

Tak hanya soal membajak sawah, bahkan saat ini masyarakat Indonesia sudah mengenal mesin perontok gabah atau padi. Saat ini, hampir semua daerah di Indonesia terutama di Pulau Jawa sudah menggunakan mesin tersebut. Padahal, hingga pertengahan tahun 2000-an petani Indonesia termasuk Jawa Barat sebagai lumbung padi nasional pun masih merontokan padi secara manual.

Tentunya akan banyak yang bertanya-tanya tentang urgensi dan keuntungan dari impor cangkul ini khususnya bagi para petani. Terlebih, peran dan fungsi cangkul yang begitu dominan hingga awal tahun 1990 sudah tergantikan oleh kehadiran mesin-mesin canggih nan modern dengan beragam bentuk dan kegunaannya.

Namun begitu, pemerintah sendiri tentunya memiliki alasan yang kuat sehingga memberlakukan kebijakan impor cangkul tersebut. Mungkin saja impor cangkul sangat dibutuhkan dalam rangka upaya pemerintah untuk mampu berswasembada dan menghentikan kebijakan impor pangan khususnya beras.

Terkait swasembada pangan, Indonesia sendiri pernah berswasembada beras di era tahun 1980, di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Saat itu, Indonesia memang menjadi salah satu negara tersukses di bidang pertanian. Hampir semua kebutuhan pangan dalam negeri khususnya beras bisa terpenuhi dan dihasilkan oleh para petani di Indonesia sendiri.

Jika memang impor cangkul adalah sebuah kebutuhan yang sangat mendesak, tentunya saat itu adalah waktu yang tepat. Dengan masih terbatasnya ketersediaan mesin bajak atau traktor di berbagai daerah di Indonesia, tentunya kebutuhan cangkul di masa Orde Baru adalah sebuah keniscayaan.

Meski demikian, besarnya kebutuhan akan cangkul bagi para petani dalam negeri tak lantas membuat pemerintah saat itu serta merta mengimpor pacul. Pemerintahan era Orde Baru lebih memilih memberdayakan para pengrajin atau pandai besi baik tradisional maupun skala industri untuk bisa menghasilkan cangkul-cangkul ini.

Selain keberhasilan di bidang pertanian, saat itu adalah masa-masa emas bagi indistri ataupun para pengrajin alat dan perkakas pertanian seperti Pacul, Garu (alat pembersih rumput), Caping (topi lebar dari bambu), Ani-Ani, bengkrong, Pedang (untuk rumput), Sabit atau Arit dan lain sebagainya.
Di era Orde Baru, bangsa Indonesia memang menjadi salah satu yang tersukses di bidang pertanian. Tanpa impor cangkul, ternyata bangsa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto juga pernah berjaya dan bahkan telah mampu berswasembada. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

2 comments

Impor pacul itu terjadi 14 tahun lalu, sebaiknya baca berita dulu baru tanggapi.

Betul pak, pernah ada di zaman Megawati & kini muncul lagi..