ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Legenda Komik Petruk Dan Gareng Dinilai Memiliki Karakteristik Yang Lebih Baik Dari Sinetron Saat Ini

On June 05, 2016 with No comments

Legenda komik karya tatang suhendro

Soeara Rakjat, HistoriaSejak tahun 1970 hingga awal tahun 1990, siapa yang tak mengenal legenda komik Petruk dan Gareng karya Tatang Suhendra. Cerita bergambar dengan tokoh sentral para Punakawan yakni Petruk, Gareng, Bagong dan Ki Lurah Semar sebagai tokoh sesepuh ini begitu membumi dan dikagumi di kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga para orang tua.

Kemasan cerita yang sederhana berlatar kehidupan masyarakat Desa Tumaritis, sebuah desa yang diambil dari kisah pewayangan versi Jawa ini memiliki pesan moral yang begitu kental. Tokoh Petruk sebagai pelaku utama, adalah sosok pemuda yang sederhana namun religius. Semua itu adalah berkat gemblengan Ki Lurah Semar yang sekaligus merupakan orang tuanya.

Petruk walaupun konyol, lucu dan slengean, tetapi digambarkan sebagai seorang pemuda yang gemar membantu warga Desa Tumaritis ketika sedang mengalami kesulitan. Petruk juga dikenal sakti dan mewarisi ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Ki Semar. Ki Semar atau Sanghyang Ismaya dalam versi pewayangan Jawa, adalah anak tertua dari Sanghyang Tunggal, leluhur para dewa yang menguasai jagat raya.

Komik Petruk dan Gareng ini mulai booming sekitar pertengahan tahun 1970 an. Sebelumnya, Tatang Suhendra sendiri pernah membuat komik berlatar dunia persilatan di tahun 1970 an, tetapi kalah pamor oleh Ganesh TH, sang empunya cerita Si Buta Dari Goa Hantu yang juga begitu fenomenal. Badra Mandrawata, adalah pendekar tangguh dari Goa Hantu yang begitu menggemparkan dunia persilatan Indonesia kala itu.

Sejak itulah Tatang Suhendro atau yang lebih beken sebagai Tatang S, ini lantas banting stir dan merilis komik Petruk dan Gareng yang sebagian besarnya bersegmen Komedi-Horor. Komik Petruk dan Gareng betul-betul merepresentasikan kehidupan masyarakat Indonesia saat itu khususnya di pedesaan dan pelosok perkampungan.

Diera tahun 1970 hingga awal 1990, teknologi telekomunikasi memang belum merambah hingga ke pelosok pedesaan. Bahkan saat itu, masih banyak daerah-daerah di seluruh Indonesia yang masih belum dialiri listrik. Tidaklah mengherankan jika komik begitu digemari dan menjadi teman keseharian layaknya gadget dan media sosial saat ini.

Sejak komik Petruk dan Gareng ini dirilis, sejak itu pula karier Tatang S, sebagai Komikus kembali bersinar dan semakin terang benderang. Hampir semua lapisan masyarakat begitu menggemari komik ini. Selain ceritanya yang jenaka, sederhana dan mudah dicerna, harga komik ini pun terbilang murah dan terjangkau.

Komik ini juga begitu mudah kita dapati. Dari toko buku hingga warung kelontong, dapat dipastikan menjual serie komik tersebut. Bahkan saat itu, ada yang menyewakan komik ini layaknya perpustakaan yang berkeliling dari kampung ke kampung dan sekolah-sekolah. Dengan harga yang relatif murah dan terjangkau, komik ini seperti menjadi bacaan 'wajib' bagi anak-anak sekolah dasar hingga menengah di zaman itu.

Karakteristik para tokoh Punakawan di komik ini begitu melekat di hati masyarakat dan para penggemarnya hingga saat ini. Jika kita harus membandingkan, cerita dalam komik ini jauh lebih memiliki kekuatan, karakteristik dan pesan moral yang lebih baik dari mayoritas Sinetron yang ada dan tayang di televisi saat ini.

Berbahagialah bagi anda yang masih menyimpan komik ini sebagai koleksi, dan bahan bacaan diwaktu senggang dan santai. Membaca kembali komik ini, tentunya akan kembali membuka ruang memori kita akan rangkaian peristiwa yang terjadi pada puluhan tahun yang silam. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »