ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Desa Muara Kini Mulai Diserbu Para Pemudik Yang Kembali Ke Kampung Halamannya

On June 29, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa BaratDesa Muara, adalah sebuah desa yang terletak dipesisir utara Laut Jawa. Desa yang mayoritas penduduknya adalah petani dan nelayan ini begitu mengandalkan sektor pertanian baik sawah maupun petani tambak dan udang.
Jalan desa muara blanakan subang
Jalan raya Desa Muara Blanakan Subanh
Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, pulau Jawa khususnya, saat ini penduduk desa Muara juga sedang bersiap menyambut datangnya hari raya Iedul Fitri atau Lebaran. Tanpa terasa, Lebaran memang sudah di depan mata.

Kondisi desa Muara pun kini sedikit nampak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Saat ini cukup banyak kendaraan dari luar kota, maupun wajah-wajah baru dari mereka yang kini tinggal untuk sementara di desa Muara. Sebagian warga desa Muara yang kembali memang turut membawa serta keluarganya masing-masing.

Saat ini, memang cukup banyak warga yang tinggal di berbagai kota yang telah kembali ke desa Muara. Mereka yang selama ini merantau dan mengadu nasib di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lainnya di indonesia, kini telah kembali ke kampung halamannya.

Kerinduan kepada orang tua, saudara, dan tanah kelahirannya tentu akan membuat mereka merasa harus kembali ke desa Muara yang dicintainya. Selain itu, Lebaran juga bisa dijadikan ajang silaturahmi dengan sahabat dan teman sepermainan dimasa kanak-kanak.

Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, saat ini memang terlihat lebih semarak dari biasanya. Warga desa pun merasa bahagia, karena banyak diantara saudara-saudara mereka yang selama ini tinggal nun jauh disana, kini telah kembali ke Desa Muara. BDLV/TM
Warga Subang Tangkap Pocong Jadi-Jadian Yang Berkeliaran Dan Meresahkan

On June 25, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Subang. Kesemarakan bulan Ramadhan, selalu disambut antusias dan diisi dengan berbagai kegiatan postif oleh masyarakat khususnya yang beragama Islam. Namun begitu, ada juga hal-hal yang mengganggu kekhusyukan Ibadah puasa kita, seperti petasan dan ulah iseng sebagian orang.
Pocong palsu, gadungan, jadi-jadian ditangkap warga subang
Warga Kalijati Subang tangkap pocong gadungan
Seperti yang terjadi di Subang, Jawa Barat, pada hari Sabtu, 25 Juni 2016, sekitar pukul 00 tengah malam. Ada sebuah peristiwa 'mistis' yang cukup meresahkan warga dan para pengguna jalan, yaitu hadirnya Pocong jejadian di tengah malam yang gelap nan menyeramkan.

Aksi Pocong jelmaan ini memang cukup meresahkan bagi warga yang melintas di jalan raya Subang-Purwakarta, yang memang sepi dan dipenuhi pepohonan di kiri dan kanan jalan ini. Beruntung personel TNI dan warga akhirnya berhasil menangkap Pocong Gadungan tersebut.

Tertangkapnya Pocong ini diungkap oleh M Fauzi Hamdan yang kemudian menginformasikan peristiwa tersebut melalui akun Facebooknya. Setelah tertangkap, Pocong Gadungan tersebut lantas menjalani pemeriksaan dan diamankan di pos Virgo I, untuk menghindari amukan massa.

Saat diinterogasi, pemuda bernama Rizki Fajar Ramadhan, yang beralamat di Kampung Babakan Jakarta, RT 22 RW 06 ini mengaku hanya iseng untuk menakuti warga maupun para pengendara yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.

Kawasan Lanud Suryadarma memang dikenal sepi, cukup banyak lahan kosong yang ditumbuhi pepohonan besar yang terlihat menyeramkan. Lokasi ini memang cukup sempurna untuk Pocong jadi-jadian melakukan aksinya. Namun begitu, kawasan ini juga selalu berada dalam pengawasan aparat TNI AU.

Belakangan ini, konon cukup banyak warga yang mengaku melihat pocong di sekitar Klinik Angkasa, Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang. Dengan tertangkapnya Pocong ini, warga pun merasa yakin bahwa yang selama ini mereka takuti hanyalah Pocong imitasi.  BDLV/TM
Rumah Masih Terendam Banjir, Warga Desa Muara Gunakan Jembatan Bambu

On June 20, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa BaratHujan yang mengguyur Desa Muara, pada Sabtu 18 Juni 2016 kemarin, hingga kini masih menyisakan dampaknya. Dibeberapa tempat, genangan air masih terjadi dan masih merendam badan jalan maupun sebagian rumah warga.


Seperti yang terjadi di dusun Sindang Laut I dan II, Desa Muara, dipemukiman penduduk yang terletak di ujung utara desa ini banjir masih saja merendam sebagian jalan dan rumah warga. Warga pun cukup kesulitan dalam melakukan kegiatan atau aktivitasnya.

Disini, beberapa warga bahkan telah membuat jembatan darurat dari bambu atau kayu yang diperuntukan bagi kepentingan dan aktivitas kesehariannya. Hal itu mereka lakukan karena antara rumah dan jalan yang ada masih terendam air yang cukup tinggi.

Melihat kondisi ini, cukup banyak warga yang merasa prihatin dan bersimpati atas kondisi yang dialami oleh saudara dan tetangga mereka. Warga pun berharap kepada pihak-pihak terkait untuk segera memberikan bantuannya.

Dari foto yang beredar, kondisi warga di Dusun Sindang Laut ini memang cukup memprihatinkan, "Karena air tak kunjung surut, sebagian warga membuat jembatan dari bambu untuk menuju rumah masing-masing," ujar Kasan Kobel seorang warga Sindanglaut, merasa prihatin.


Selain menyulitkan, genangan air yang merendam baik halaman maupun rumah warga tentunya akan membawa dampak buruk. Selain kotor dan kumuh, dipastikan akan banyak bibit-bibit penyakit yang ditimbulkan akibat dari genangan air tersebut.

Meski banjir kali ini terbilang lumayan besar, namun sampai saat ini masih belum ada perwakilan dari Pemkab Subang maupun dinas terkait yang hadir membantu atau sekedar datang untuk mengunjungi lokasi banjir ini. BDLV/TM
Jalan Berlubang Dan Tergenang Hingga Berhari-Hari, Warga Desa Muara, Di Pantura Subang Mengeluh

On June 19, 2016 with No comments


Soeara RakjatHujan yang mengguyur deras Desa Muara, pada Sabtu 18 Juni dini hari kemarin, telah memicu genangan air dimana-mana. Tak sedikit ruas jalan yang terendam air, dan menimbulkan genangan yang lebih mirip dengan kubangan.
Jalan desa muara tergenang saat musim hujan
Jalan Desa Muara Blanakan masih terendam
Saat ini, meski hujan telah berhenti dan cuaca kembali normal, akan tetapi genangan air masih saja terjadi. Dibeberapa titik, genangan air ini akan berlangsung selama berhari-hari bahkan hingga seminggu kadang lebih lama lagi.

Hal ini dikarenakan rendahnya badan jalan, hingga air akan tertahan dan tak bisa mengalir ke saluran atau drainase. Badan jalan yang lebih rendah dari saluran, otomatis akan membuat air stagnan dan menimbulkan genangan atau kubangan.

Selain kondisi jalan di Dusun Sindang Laut sebagai yang paling parah, salah satu ruas jalan yang dinilai memprihatinkan oleh warga adalah di Dusun Sukamulya, Desa Muara. Disini genangan akan selalu muncul disetiap turun hujan, dan air akan sulit sulit surut, karena tertahan di badan jalan.

Yang lebih memprihatinkan, genangan air ini akan berlangsung cukup lama. Itu karena air yang tak bisa dibuang kemana-mana, dan hanya akan surut atau kering ketika sinar matahari benar-benar panas dan terik  membakar bumi.

Warga pun sudah terlalu sering mengeluh terkait genangan air ini. Meski kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, akan tetapi hingga saat ini masih belum ada perubahan yang signifikan. Pernah dilakukan pengurugan jalan secara swadaya, akan tetapi hal ini masih belum memberi dampak yang maksimal.

Jalan di Dusun Sukamulya ini adalah jalan utama yang menjadi akses satu-satunya bagi warga desa Muara. Praktis, warga pun tak memiliki pilihan lain dan terpaksa melalui jalanan yang lebih mirip kubangan ini dengan suka rela.

Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung, warga Desa Muara, Kecamatan Blanakan, saat ini sangat berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Subang, segera turun tangan.  BDLV/TM
Jalan Berubah Bagai Lautan, Warga Desa Muara Meminta Perhatian Dari Pemkab Subang

On June 18, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa BaratHujan yang terus mengguyur desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, telah membuat beberapa ruas jalan di desa ini tergenang. Dibeberapa titik, genangan air bahkan cukup tinggi dan menutupi seluruh badan jalan hingga tampak bagai lautan.

Sejak Sabtu dinihari pukul 02:30 WIB, hujan deras dengan intensitas besar terus turun dan baru mereda sekitar pukul 10 siang. Tentu saja hal ini membuat banyak tempat di desa yang terletak di ujung utara Kabupaten Subang ini kembali tergenang.

Genangan air yang paling parah terjadi di dusun Sindang Laut I dan II, disini genangan air hampir menutupi ruas jalan yang ada. Warga yang melintas pun merasa kewalahan, banyak kendaraan yang kemudian mati mesin karenanya.
Seorang Netizen lantas mengunggah beberapa fhoto terkait banjir yang terjadi di dusun Sindang Laut I dan II ini ke akun Facebook miliknya. "Inilah motor dan mobil amfibi yang lewat empang, bukan jalan Muara," tulis akun Facebook Asef Saefullah, merasa prihatin.

Desa Muara :

Jalanan di Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang ini memang cukup memprihatinkan. Selain banyak yang rusak, jalanan di desa ini juga kerap tergenang. Tak hanya di musim hujan, jalan di dusun ini memang sering tergenang karena rendahnya badan jalan.

Masyarakat sendiri sudah sangat bosan dengan kondisi ini. Pemerintah desa pun sudah berkali-kali menyampaikan keluhan kepada Pemerintah Kabupaten Subang, namun hingga saat ini masih belum ada penanganan hingga masih banyak jalan yang tetap rusak dan tergenang.  BDLV/TM
Diguyur Hujan, Inilah Kondisi Jalan Di Desa Muara Saat Ini

On June 18, 2016 with No comments


Soeara RakjatHujan yang terus turun dan mengguyur Desa Muara, sejak dini hari tadi, mau tak mau membuat jalanan kembali tergenang di beberapa titik. Warga pun kembali mengeluhkan kondisi yang tidak diinginkan ini.

Sejak sekitar pukul 02:30 WIB dini hari jelang Sahur, hujan lebat sudah mulai turun, hujan mulai sedikit mereda pada sekitar pukul 10 siang ini. Namun begitu, cuaca di sekitar Desa Muara sepertinya masih mendung disertai rintik gerimis, dan berpotensi masih adanya hujan lebat yang akan kembali turun.

Sebagai wilayah yang kerap menjadi langganan banjir, Desa Muara pun harus kembali waspada. Hujan yang masih turun hampir disebagian besar wilayah Subang dan sekitarnya, bisa saja akan kembali membuat desa Muara terendam.

Saat ini, dibeberapa titik sudah mulai terlihat genangan air yang merendam badan jalan, diantaranya di Dusun Sukamulya, Desa Muara. Kondisi jalan di Dusun Sukamulya memang masih sangat memprihatinkan, jalan inipun selalu tergenang di setiap musim hujan.

Ruas jalan yang berbatasan dengan dusun Sukaasih ini memang sudah rusak parah, warga pun berharap agar pemerintah daerah segera memperbaikinya. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, namun hingga saat ini masih belum ada langkah maksimal dari pemerintah daerah Kabupaten Subang.

Baik masyarakat maupun pemerintah Desa Muara sendiri sudah melaporkan kondisi ini ke Pemkab Subang, namun hingga hari ini masih belum ada perubahan. Saat ini, masyarakat dan Pemdes Muara hanya bisa menunggu langkah dari pemerintah, sambil melakukan upaya perbaikan secara swadaya dan alakadarnya.


Meski begitu, jalan di Desa Muara juga tidak semua rusak, di Sukamanah dan Sukaasih sebagian besar jalan sudah lebih baik. Hal itu karena sudah adanya perbaikan berupa pengecoran atau Hotmix. Pemerintah Desa Muara pun sudah meminta kepada Pemda agar memberi perhatian lebih tehadap persoalan infrastruktur ini.

Selain Desa Muara, Desa Langensari dan Blanakan juga saat ini mengalami hal yang sama. Cukup banyak jalanan yang tergenang, bahkan dibeberapa titik air sudah memasuki rumah warga. BDLV/TM
Prihatin Dengan Kondisi Indonesia, Netizen Ini Curhat Dan Gemparkan Jagat Maya

On June 16, 2016 with No comments

Netizen curhat kondisi negara di facebook


Soeara Rakjat, Untuk kesekian kalinya, seorang Netizen, warga negara Indonesia mengeluarkan  unek-unek di sosial media. Dalam curhatannya kali ini, Netizen ini mengaku begitu prihatin dan sudah sangat kesal melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang aneh dan pertama terjadi, sebelumnya sudah cukup sering warga negara Indonesia mengeluarkan 'Curahan Hatinya' di jagat maya, mengingat sudah tidak ada lagi yang mau mendengar keluh kesah mereka di dunia nyata.

Atas dasar keresahan hatinya inilah Netizen tersebut lalu membuat sebuah pernyataan yang isinya begitu menggugah hati kita semua, para pengisi alam maya. Berbagai permasalahan, dari mulai bobroknya mentalitas generasi muda, kacaunya dunia pendidikan, maraknya korupsi dan carut marutnya hukum turut dikritisi.

Dalam 'Testimoni' nya tersebut, Netizen ini bahkan turut menyinggung nama Zaskia Gotik, sang Duta Pancasila dan Sonya D, yang karena mengaku anak pejabat dan memaki Polwan lalu malah dijadikan Duta Narkoba. Turut disinggung pula seorang guru yang ditahan gara-gara mencubit anak didiknya.

Seolah memiliki perasaan yang sama, gayung pun lantas bersambut. Netizen lain pun turut mengamini pernyataan dari Irfan Atar'asi ini, jika dicermati kita pun sepertinya memang sangat sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh pemilik akun Facebook dengan Nick Name Irfan Atar'asy ini.

Hingga saat ini, TS dari Netizen ini sudah ribuan kali dibagikan dan mendapat beragam tanggapan. Mayoritas Netizen merasa sepakat dengan apa yang diungkap oleh pemuda yang tinggal di kota Kediri ini. mch
8 Juni 1921, Jenderal Besar Soeharto Lahir Di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta

On June 08, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Historia. Tanggal 8 Juni, adalah salah satu tanggal yang memiliki makna tersendiri, terutama bagi keluarga mendiang Jenderal Soeharto. Pada tanggal ini hampir satu abad yang lalu, salah satu orang paling berpengaruh di Republik ini dilahirkan.

Rabu, 8 Juni 1921, adalah hari kelahiran dari Soeharto, mantan petinggi militer, sekaligus sebagai Presiden Republik Indonesia. Soeharto Lahir di Kemusuk, Bantul, DI Yogyakarta dari seorang Ibu bernama Soekirah dan ayahnya bernama Kertosoediro.

Lahirnya soeharto musemum soeharto di bantul
Soeharto kecil masuk sekolah dasar pada usia 8 tahun, dan tercatat sebagai siswa di Sekolah Dasar Pedes Yogyakarta. Setelah menamatkan sekolah menengah di Yogya, Soeharto pun menjadi siswa Sekolah Militer di Gombong.

Pada 1941, Soeharto terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah. HM. Soeharto, secara resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Sejak itulah Pak Harto mulai resmi berdinas, hingga kelak menjadi petinggi TNI.

Pak Harto yang kala itu berusia 26 tahun lalu menikah dengan Siti Hartinah, 24 tahun, seorang putri dari Mangkunegaran. Pernikahan ini dilangsungkan pada tanggal 26 Desember 1947, di Solo. Dari pernikahan ini, Pak Harto dan Ibu Tien dikaruniai enam orang putera dan puteri.

Sejak itu pula karier militer Pak Harto terus menanjak, Soeharto muda memang menunjukan bakat yang istimewa dalam bidang militer. Pak Harto telah menapaki jalan panjang seorang tentara, yang kemudian menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini.

Pak Harto memulai karier militer dengan pangkat Sersan tentara KNIL, Soeharto muda juga pernah memimpin PETA, komandan Brigade Garuda Mataram, menjadi komandan Resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, Soeharto berhasil memimpin pasukan Indonesia merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan Belanda, yang lebih di kenal sebagai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Soeharto muda juga pernah menjadi pengawal Panglima Besar Soedirman, dan pernah pula menjadi Panglima Mandala dalam pembebasan Irian Barat.

Menurut berbagai catatan, HM. Soeharto memang menjalani jalan panjang nan berliku hingga kemudian bisa menjadi orang nomor satu di negeri ini. Kiprah dan prestasi Soeharto selama menjadi anggota TNI adalah pernah menjadi:
  • Komandan Brigade Garuda Matara
  • Komandan Resimen Infanteri 15,  berpangkat Letnan Kolonel
  • Panglima Korps Tentara I Cadangan  Umum Angkatan Darat
  • Panglima Komando Mandala  Pembebasan Irian Barat
  • Panglima Komamdo Strategis Angkatan  Darat atau Pangkostrad, dan
  • Panglima Kopkamtib
Pak Harto diangkat menjadi Presiden ke 2 RI pada tahun 1966 dan menjabat hingga 32 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri pada Mei 1998. Pak Harto meninggal dunia pada 27 Januari 2008, dan dimakamkan di Astana Giribangun tepat di samping makam Ibu Tien Soeharto. 

Bertahun-tahun sudah HM. Soeharto meninggalkan bangsa Indonesia, meninggalkan kita semua sebagai rakyatnya. Semoga Tuhan membalas apa yang pernah beliau perjuangkan dan mengampuni atas segala kekhilafan. BDLV/TM
Sambut Ramadhan, Komunitas Warga Indonesia Di Singapura Gelar Kontes Batik

On June 07, 2016 with No comments

Soeara Rakjat. Bulan Ramadhan, adalah bulan yang selalu dinanti-nantikan oleh setiap pemeluk agama Islam. Kaum Muslim diseluruh dunia akan menyambut kehadiran bulan Seribu Bulan ini dengan penuh suka cita dan rasa bahagia.

Hal inipula yang sedang dirasakan oleh warga Indonesia yang berada di Singapura. Di Kota Singa yang merupakan negara tetangga terdekat Indonesia, memang cukup banyak terdapat Warga Negara Indonesia yang tinggal dan bermukim disana.

Dengan berbagai kepentingan, WNI ini tinggal dan merasa cukup nyaman berada di Singapura. Mereka tinggal disana karena bekerja, menempuh pendidkan atau berubahnya status kewarganegaraan setelah mereka menikah dengan warga negara tersebut.

Menyambut Ramadhan kali ini, WNI yang ada di Singapura lantas menggelar kontes Batik Indonesia. Kontes ini bertujuan untuk mengenalkan khazanah budaya Indonesia, dalam balutan yang lebih Islami. Seluruh panitia, juri maupun para peserta kesemuanya adalah warga Indonesia yang mayoritas berasal dari Pulau Jawa.

Acara ini diprakarsai oleh Sanggar Rias Anggun & Cinta Bunda Collections, yang pengelolanya memang berasal dari kota Mendoan, Banyumas, Jawa Tengah. Kontes Batik yang di gelar pun adalah Batik khas Banyumasan, acara kontes batik ini sendiri dilangsungkan pada hari Minggu, 5 Juni 2016 lalu.

Menurut Melawati, seorang peserta yang pada kesempatan kali ini berhasil meraih tempat pertama, "Kontes batik kali ini terasa begitu istimewa, karena tepat sehari menjelang puasa. Ini adalah anugerah untuk kami semua," papar Melawati melalui pesan singkat.

Menurut perempuan berparas ayu asal Temanggung, Jawa Tengah ini, dirinya tidak terlalu memikirkan gelar sebagai juara. Menurutnya, yang lebih utama adalah pelestarian budaya dan bisa bersilaturahmi dengan rekan dan sahabatnya yang juga turut menjadi peserta.

Melawati yang meraih gelar Queen Of Batik ini tampil begitu mempesona berkat polesan tangan terampil dari Khasanah Alya Chairunnisa. Sementara sahabat karibnya, yaitu Aisyah Afiqah yang meraih tempat kedua, juga tak kalah menawan setelah di rias oleh Nabillah Arnanda.

Sebagian Warga Indonesia yang ada di Singapura memang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Indonesia. Mereka terlihat begitu aktif menyelenggarakan event-event yang berkaitan dengan budaya dan warisan leluhur bangsa Indonesia.

Acara yang berorientasi pada pelestarian budaya, sudah sepatutnya mendapat apresiasi dari kita semua. Acara bernilai historis dan positif ini tentu akan bisa mengubah paradigma warga dunia, khususnya warga Singapura terhadap para Imigran dan warga Indonesia pada umumnya.

Well, semoga kalian semua bisa menjadi duta bangsa dan mampu mengharumkan nama Indonesia.  BDLV/TM
Ponpes Al Wathoniyah Desa Muara, Mencetak Generasi Yang Islami

On June 06, 2016 with No comments


Soeara RakjatPondok Pesantren Al Wathoniyah, adalah sebuah lembaga pendidikan agam Islam yang berlokasi di Dusun Suka Mulya, Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Al Wathoniyah adalah satu-satunya pesantren yang masih tetap eksis di Desa Muara.
Ponpes al wathoniyah desa muara blanakan subang
Kegiatan Khotmil Qur'an di Ponpes Al Wathoniyah Desa Muara
Pesantren ini didirikan oleh Kyai Watho Fadhilah (alm), yang mendapat dukungan penuh dari masyarakat desa di akhir tahun 1980-an. Cita-cita mulia Kyai Watho hingga kini masih tetap dilestarikan oleh anak didik dari kyai jebolan Ciwaringin, Cirebon tersebut.

Hingga akhir tahun 1990 an, lembaga pesantren memang menjadi tempat pavorit bagi para orang tua yang ingin mendidik anaknya. Masyarakat Desa Muara kala itu memandang bahwa pondok pesantren tidak kalah penting dari sekolah reguler pada umumnya.

Banyak warga Desa Muara yang memasukan anak mereka ke pondok pesantren yang ada di Jawa Barat, seperti Tasikmalaya dan Ciwaringin, Cirebon. Selain pesantren di Jawa Barat, cukup banyak juga warga desa yang memondokan anaknya ke pesantren di daerah Jawa Tengah bahkan hingga Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Kondisi inilah yang menjadi salah satu motivasi bagi almarhum Kyai Watho Fadhillah untuk mendirikan sebuah pondok pesantren di Desa Muara. Gayung pun bersambut, niat mulia sang Kyai ini mendapat respon positif dari masyarakat desa. Sejak itulah Pondok Pesantren Al Wathoniyyah berdiri.

Ponpes Al Wathoniyyah sendiri cukup banyak mencetak kader atau santri yang hingga kini beberapa diantaranya menjadi penggerak syiar Islam di Desa Muara. Hal ini tentu cukup membanggakan, ditengah arus modernisasi yang begitu kuat dan massif, Desa Muara masih memiliki benteng terakhir dalam dunia pendidikan agama Islam, yaitu Al Wathoniyyah.

Eksistensi Ponpes Al Wathoniyyah tentu tak lepas dari dukungan dan support dari masyarakat Desa Muara sendiri. Al Wathoniyyah akan semakin menjadi lembaga pendidikan agama Islam yang besar dan kuat, seiring dengan dukungan masyarakat seperti saat sekarang ini.

Kondisi zaman yang memang sudah berubah, tentu menuntut kita semuanya untuk semakin memberi perhatian lebih pada dunia pendidikan agama Islam. Keberadaan Pondok Pesantren Al Wathoniyyah pun akan tetap terjaga sebagai warisan untuk generasi kita di masa depan.

Memasuki bulan suci Ramadhan, dimana setiap Masjid, Langgar dan Mushala di Desa Muara melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, mari kita bersama-sama dan saling bahu membahu menjaga Silaturohim untuk menjadikan Desa Muara menjadi Desa yang Islami. BDLV/TM
Jalan Desa Muara Banjir, Warga Menuntut Pemerintah Segera Turun Tangan

On June 06, 2016 with No comments


Soeara RakjatDesa Muara, adalah salah satu desa yang terletak di wilayah utara Kabupaten Subang. Desa Muara terletak di Kecamatan Blanakan, salah satu kecamatan yang lokasi persisnya berada di pesisir utara Laut Jawa.
Banjirvdesa muara blanakan subang banjir
Jalan Desa Muara Blanakan banjir
Saat ini, infrastruktur yang ada di Desa Muara dinilai masih kurang memadai. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya jalan yang berlubang dan tergenang di saat musim hujan. Warga pun banyak mengeluh atas kondisi memperihatinkan ini.

Meski saat ini kondisi jalan di Desa Muara secara umum relatif sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi di beberapa titik masih ada ruas jalan yang kondisinya memprihatinkan dan segera memerlukan perbaikan.

Salah satu ruas jalan yang perlu mendapat perhatian adalah di dusun Sindang Laut I dan II. Di dua dusun tersebut kondisi jalan memang mengkhawatirkan, kondisi ini diperparah dengan seringnya badan jalan yang tergenang air, baik saat turun hujan maupun rob atau air pasang.

Masyarakat pun menuntut agar pemerintah segera melakukan upaya perbaikan, salah satunya dengan meninggikan badan jalan. Hal itu dikarenakan badan jalan yang ada selama ini memang kerap tergenang.

Pemkab Subang sendiri telah mencanangkan program Gapura Intan atau Infrastruktur Berkelanjutan. Namun begitu, pembangunan masih dirasa terhambat, terlebih Bupati Subang sendiri saat ini sedang menjalani penahanan KPK, yang sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap program tersebut.

Meski begitu, masyarakat Desa Muara saat ini merasa sedikit bergembira. Itu karena saat ini pemerintah pusat sudah mengalokasikan Dana Desa, yang diantaranya adalah diperuntukan bagi pembangunan yang ada disetiap desa.

Dengan kondisi ini, banyak warga yang berharap agar Dana Desa tersebut bisa dialokasikan untuk membuat pembangunan di desa menjadi lebih baik. "Jalan depan rumah saya ada hujan gak ada hujan banjir terus, tolong bapak-bapak perhatikan," keluh seorang warga Desa Muara.

Namun begitu, jalan desa bukanlah menjadi tanggung jawab pemerintah desa. Baik dari sisi pembangunan maupun perawatan, jalan utama yang ada di desa adalah mutlak tanggung jawab dari pemerintah daerah Kabupaten Subang.  BDLV/TM
Menikmati Indahnya Senja Di Teluk Jakarta, Jakarta Kini Milik Siapa ?

On June 05, 2016 with No comments

Menikmati indahnya senja, jakarta kini milik siapa

Soeara Rakjat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, memang selalu menyimpan berjuta kisah di dalamnya. Gemerlapnya Ibukota, akan menarik siapa saja untuk tinggal dan mengadu nasib serta keberuntungannya. Jakarta adalah kota impian bagi setiap warga Indonesia yang merasa hidup di kampung halamannya tidak bahagia.

Padahal sejatinya, Jakarta adalah konon kota yang kejam dan tidak mengenal belas kasihan. Peribahasa menyatakan, Kejamnya Ibu Tiri Tapi Tak Sekejam Ibukota, dan telah terbukti sudah, cukup banyak dari saudara-saudara kita yang akhirnya tersia-sia hidup di Ibukota.

Cukup banyak saudara Indonesia kita yang akhirnya terpaksa menempati bantaran kali, rel kereta api hingga kolong jembatan demi untuk bertahan hidup di kota Metropolitan. Yang lebih menyedihkan, mereka pun akhirnya digusur karena dinilai melanggar dan menempati tanah tanpa hak dan kepemilikan.

Namun dibalik itu semua, Jakarta juga menyimpan sejuta pesona dan keindahan bahkan 'kenikmatan' hingga kemaksiatan. Jika anda memiliki uang datanglah ke Jakarta, karena disana anda akan menemukan syu(u)rga yang sebenar-benarnya.

Selain itu, Jakarta juga banyak menawarkan sejuta pesona bagi anda para pencinta alam dan keindahan. Meski Jakarta dikenal sebagai kota yang panas, macet dan berdebu, namun dibeberapa tempat masih ada keindahan dan keramahan yang ditawarkan.

Kawasan Teluk Jakarta, adalah sebuah kawasan yang bisa anda coba untuk menemukan sisi lain Ibukota. Dari Cilincing, Priok, kawasan Ancol, pelabuhan Sunda Kelapa, hingga Muara Angke, anda akan merasakan sensasi keindahan ditengah penuh sesaknya kota Metropolitan.

Teluk Jakarta, memang sudah dikenal sejak dahulu kala. Jauh-jauh hari sebelum Jakarta berdiri, atau bahkan sebelum nama Batavia melegenda, Teluk Jakarta adalah pusat dan lalu lintas perdagangan di jaman kerajaan Nusantara. Sunda Kelapa, sudah dikenal sejak jaman Kerajaan Pajajaran bahkan hingga Tarumanegara.

Menikmati Indahnya Senja di Teluk Jakarta, tentunya memiliki pengalaman dan pemahaman tersendiri. Teluk Jakarta adalah warisan dari para leluhur kita bangsa Indonesia, bangsa yang dikenal karena keberaniannya dalam mengarungi samudera dengan cara dan peralatan yang sederhana.

Keberadaan berbagai kelompok dan suku bangsa Nusantara di kawasan Teluk Jakarta, adalah menjadi bukti bahwa nenek moyang kita adalah pelaut-pelaut handal. Dahulu kala, para leluhur dan orang tua mereka pula yang dengan gigih memperjuangkan Teluk Jakarta terbebas dari cengkeraman penjajahan.

Dimasa kini, Teluk Jakarta sudah dipenuhi oleh bangunan mewah berupa Apartemen, Hotel, resort hingga tempat peristirahatan. Bahkan pemerintah juga berencana akan mengurug Teluk Jakarta, karena dirasa sudah tidak ada lagi lahan atau tempat bagi mereka para 'penduduk' yang bermukim di sekitar Teluk Jakarta.
Disisi lain, cukup banyak warga yang lahir dan dibesarkan dikawasan Teluk Jakarta yang akhirnya harus rela meninggalkan tanah kelahirannya. Mereka harus rela meninggalkan Teluk Jakarta yang dicintainya, sebagian dari mereka bahkan kini tinggal jauh dari kampung halaman dan kehilangan mata pencaharian asli sebagai nelayan.

Penggusuran demi penggusuran yang terjadi di sekitar Teluk Jakarta, tentunya menjadi bukti bahwa Ibukota lebih kejam dari Ibu tiri. Beberapa puluh tahun ke depan, sepertinya akan sulit melihat perkampungan nelayan tradisional yang merupakan ikon Teluk Jakarta, sejak dahulu kala.

Namun begitu, Jakarta masih tetap dan akan semakin ramah kepada mereka yang memiliki banyak uang. Uang memang bisa melakukan segalanya, bahkan dengan uang, lautan Teluk Jakarta pun bisa di ubah menjadi daratan. Tak peduli siapa dan dari mana mereka berasal, asal memiliki uang, tentu mereka bisa tinggal.

Cukup banyak kawan dan sahabat nelayan kita yang dahulu tinggal di Teluk Jakarta, yang selalu berbagi kisah dan cerita, namun kini entah dimana rimbanya. Teluk Jakarta memang tetap indah, namun kita tak tahu lagi siapa yang memilikinya ?   BDLV/TM
Gerindra Gelar Bazaar, Harga-Harga Langsung Jungkir-Balik Tak Meroket Lagi

On June 05, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Sehari menjelang bulan Ramadhan, pemerintah masih merasa kesulitan untuk membuat harga-harga kebutuhan pokok menjadi jungkir-balik atau lebih murah dan terjangkau. Hingga saat ini, harga beberapa komoditas kebutuhan warga masih meroket tinggi.
Hal ini tentu membuat prihatin banyak kalangan, banyak pihak yang merasa bahwa saat ini masyarakat memang betul-betul sangat membutuhkan murahnya harga pangan atau sembako.

Hal inilah yang kemudian mendorong partai Gerindra untuk melakukan operasi pasar, yang melibatkan Koperasi Garudayaksa Nusantara atau KGN. KGN adalah koperasi binaan partai Gerindra dan di bawah kendali langsung Prabowo Subianto, selaku Ketua Umum Gerindra.

Tentu saja hal ini disambut sangat antusias oleh masyarakat khususnya warga DKI Jakarta. Masyarakat pun merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Bazaar yang mengambil tema Pasar Garuda ini memang terasa sangat membantu warga ditengah meroketnya harga-harga.

"Silahkan yang di Jakarta melipir, harga daging Rp 85ribu/kg sesuai target Pak Jokowi," tulis akun Facebook Vienna Morgan, memberi himbauan.

Namun menurut Vienna Morgan, murahnya harga-harga ini bukan karena kinerja pemerintah. Murahnya harga di Pasar Garuda adalah berkat Koperasi yang berada dibawah naungan partai Gerindra dan didirikan langsung oleh Prabowo Subianto.

Sembako : 
Daging Sapi Meroket Capai Rp 160 Ribu 
Gula Pasir Meroket Tembus Rp 16 Ribu

Untuk saat ini, Koperasi Garudayaksa Nusantara sendiri masih terbatas di kota-kota tertentu. Namun Koperasi binaan Prabowo Subianto tersebut bertekad bahwa dalam beberapa waktu ke depan, Pasar Garuda akan mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Saat ini, publik memang masih menanti janji pemerintah yang akan menjungkir-balikan harga pangan jelang Puasa dan Lebaran. Publik pun merasa heran, dengan keberadaan Tol Laut yang hingga hari ini masih belum mampu membuat harga pangan menjadi lebih murah dan terjangkau. BDLV/TM
Bantu Santri Membeli Domba, Dedi Mulyadi Semakin Dikagumi Warga Subang

On June 05, 2016 with No comments


Soeara RakjatSosok Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, saat ini memang sering menjadi perbincangan masyarakat Kabupaten Subang. Dedi Mulyadi yang kabarnya memang asli kelahiran Subang ini begitu familiar bagi masyarakat di dua Kabupaten 'bersaudara' ini.
Dedi mulyadi bantu santri blanakan, subang beli domba
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di Ponpes Al-Wathoniyah Desa Muara
Hal tersebut tentu tak lepas dari kiprah Dedi Mulyadi yang memang memiliki kepekaan dan empati yang tinggi, baik itu terhadap masyarakat Kabupaten Subang terkebih lagi pada warga Purwakarta. Dedi memang dikenal sangat dekat dengan warganya.

Seperti yang terjadi saat Dedi Mulyadi menghadiri sebuah acara di salah satu pondok pesantren di sekitar Kecamatan Blanakan. Meski Blanakan, bukanlah wilayah yang menjadi tanggung jawabnya sebagai bupati, tetapi Dedi Mulyadi mau menyempatkan diri untuk menghadiri acara tersebut.

Tak hanya menghadiri, Dedi Mulyadi bahkan memberi sumbangan untuk kepentingan pesantren tersebut. Ketua Golkar Jawa Barat ini juga menyantuni seorang santri, yang tentu saja membuat bahagia seluruh hadirin yang ada.

Jelang akhir acara Khotmil Qur'an di Pondok Pesantren Al Wathoniyah ini, Dedi sempat diberi kesempatan oleh panitia untuk memberikan sambutan ataupun pesan dan kesannya. Saat berada di atas panggung inilah Dedi kemudian memanggil seorang santri untuk naik ke panggung bersamanya.

Saat di atas panggung, Dedi pun bertanya kepada santri tersebut, "Apakah bapak di rumah punya domba ?," santri langsung menjawab tidak. Dedi pun kemudian bertanya kembali, apakah mau kalau nanti di belikan domba ? Dengan polos, santri ini langsung menjawab mau.

Mendengar jawaban sang santri ini, Bupati Purwakarta pun merogoh sakunya dan memberikan sejumlah uang kepada santri tersebut. Setelah dihitung, nominal uang pemberian Bupati Dedi Mulyadi tersebut berjumlah sekitar Rp 3 juta lebih.

Tentu saja anak santri ini begitu bergembira, hadirin yang ada pun terhanyut dalam suasana haru bercampur bahagia. Kemurahan hati Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, telah menggugah hati seluruh hadirin dan kita semuanya. 

Dedi Mulyadi memang patut menjadi contoh bagi para pemimpin di daerah lain. Kesediaannya membaur dengan warga masyarakat, tentu semakin menjadikan Dedi Mulyadi mengerti betul apa yang menjadi kemauan rakyat. mch
Legenda Komik Petruk Dan Gareng Dinilai Memiliki Karakteristik Yang Lebih Baik Dari Sinetron Saat Ini

On June 05, 2016 with No comments

Legenda komik karya tatang suhendro

Soeara Rakjat, HistoriaSejak tahun 1970 hingga awal tahun 1990, siapa yang tak mengenal legenda komik Petruk dan Gareng karya Tatang Suhendra. Cerita bergambar dengan tokoh sentral para Punakawan yakni Petruk, Gareng, Bagong dan Ki Lurah Semar sebagai tokoh sesepuh ini begitu membumi dan dikagumi di kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga para orang tua.

Kemasan cerita yang sederhana berlatar kehidupan masyarakat Desa Tumaritis, sebuah desa yang diambil dari kisah pewayangan versi Jawa ini memiliki pesan moral yang begitu kental. Tokoh Petruk sebagai pelaku utama, adalah sosok pemuda yang sederhana namun religius. Semua itu adalah berkat gemblengan Ki Lurah Semar yang sekaligus merupakan orang tuanya.

Petruk walaupun konyol, lucu dan slengean, tetapi digambarkan sebagai seorang pemuda yang gemar membantu warga Desa Tumaritis ketika sedang mengalami kesulitan. Petruk juga dikenal sakti dan mewarisi ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Ki Semar. Ki Semar atau Sanghyang Ismaya dalam versi pewayangan Jawa, adalah anak tertua dari Sanghyang Tunggal, leluhur para dewa yang menguasai jagat raya.

Komik Petruk dan Gareng ini mulai booming sekitar pertengahan tahun 1970 an. Sebelumnya, Tatang Suhendra sendiri pernah membuat komik berlatar dunia persilatan di tahun 1970 an, tetapi kalah pamor oleh Ganesh TH, sang empunya cerita Si Buta Dari Goa Hantu yang juga begitu fenomenal. Badra Mandrawata, adalah pendekar tangguh dari Goa Hantu yang begitu menggemparkan dunia persilatan Indonesia kala itu.

Sejak itulah Tatang Suhendro atau yang lebih beken sebagai Tatang S, ini lantas banting stir dan merilis komik Petruk dan Gareng yang sebagian besarnya bersegmen Komedi-Horor. Komik Petruk dan Gareng betul-betul merepresentasikan kehidupan masyarakat Indonesia saat itu khususnya di pedesaan dan pelosok perkampungan.

Diera tahun 1970 hingga awal 1990, teknologi telekomunikasi memang belum merambah hingga ke pelosok pedesaan. Bahkan saat itu, masih banyak daerah-daerah di seluruh Indonesia yang masih belum dialiri listrik. Tidaklah mengherankan jika komik begitu digemari dan menjadi teman keseharian layaknya gadget dan media sosial saat ini.

Sejak komik Petruk dan Gareng ini dirilis, sejak itu pula karier Tatang S, sebagai Komikus kembali bersinar dan semakin terang benderang. Hampir semua lapisan masyarakat begitu menggemari komik ini. Selain ceritanya yang jenaka, sederhana dan mudah dicerna, harga komik ini pun terbilang murah dan terjangkau.

Komik ini juga begitu mudah kita dapati. Dari toko buku hingga warung kelontong, dapat dipastikan menjual serie komik tersebut. Bahkan saat itu, ada yang menyewakan komik ini layaknya perpustakaan yang berkeliling dari kampung ke kampung dan sekolah-sekolah. Dengan harga yang relatif murah dan terjangkau, komik ini seperti menjadi bacaan 'wajib' bagi anak-anak sekolah dasar hingga menengah di zaman itu.

Karakteristik para tokoh Punakawan di komik ini begitu melekat di hati masyarakat dan para penggemarnya hingga saat ini. Jika kita harus membandingkan, cerita dalam komik ini jauh lebih memiliki kekuatan, karakteristik dan pesan moral yang lebih baik dari mayoritas Sinetron yang ada dan tayang di televisi saat ini.

Berbahagialah bagi anda yang masih menyimpan komik ini sebagai koleksi, dan bahan bacaan diwaktu senggang dan santai. Membaca kembali komik ini, tentunya akan kembali membuka ruang memori kita akan rangkaian peristiwa yang terjadi pada puluhan tahun yang silam. BDLV/TM
Bupati Purwakarta Hadir Di Ponpes Al Wathaniyah Desa Muara, Blanakan, Subang

On June 03, 2016 with No comments


Soeara RakjatBupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, kembali menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Kabupaten Subang. Setelah sebelumnya sering membantu warga Subang yang mendapat kesulitan, Dedi Mulyadi kini kembali hadir ditengah masyarakat khususnya warga Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
Dedi mulyadi hadir di ponpes al wathoniyah muara subang
Dedi Mulyadi bersama sesepuh Ponpes Al Wathoniyah
Kehadiran Dedi Mulyadi kali ini adalah dalam rangka acara Khotmil Qur'an di Pondok Pesantren Al Wathoniyah, Desa Muara, Blanakan. Kehadiran Dedi Mulyadi disambut begitu antusias oleh warga dan seluruh hadirin yang ada, warga pun berebut ingin menyalaminya.

Dalam suasana penuh kekeluargaan ini, Dedi Mulyadi terlihat duduk di barisan kursi terdepan disamping Haji Abdul Muthalib, seorang tokoh masyarakat Desa Muara, yang sekaligus merupakan penasihat dari Pondok Pesantren tersebut. Disebelah kanan Dedi, tampak hadir pula seorang Anggota DPRD Kabupaten Subang, Boby Haerul Anwar SIP.

Sementara itu Bupati Subang, Ojang Sohandi sendiri tidak bisa hadir karena sedang menjalani pemeriksaan dan penahanan oleh KPK. Namun begitu, pihak Pesantren mengaku sudah mengundang Wakil Bupati Subang, Hj Imas Aryumningsih, tetapi karena satu dan lain hal, orang nomor dua di Kabupaten Subang tersebut tidak bisa hadir.
"Kami sudah mengundang baik itu Wakil Bupati Subang, maupun Bupati Purwakarta. Beliau (Wakil Bupati Subang) tidak bisa hadir karena kesibukan, kalau Kang Dedi Alhamdulillah bisa hadir," ujar Ratno Hartono Syarifudin, Ketua Karang Taruna Desa Muara, dan salah satu Panitia Pelaksana, melalui pesan singkat kepada tim redaksi Soeara Rakjat.

Selain menyempatkan diri untuk hadir, dalam kesempatan ini Dedi Mulyadi juga memberikan bantuan finansial untuk Pondok Pesantren Al Wathonniyah. Lebih dari itu, Bupati Purwakarta ini bahkan memberi santunan kepada seorang santri dari keluarga kurang mampu sebesar Rp 3 juta, untuk membeli tiga ekor domba.

Bupati Purwakarta, Dedi Muyadi memang dikenal memiliki kepekaan dan empati yang sangat tinggi terhadap warga. Tak hanya masyarakat Purwakarta, bahkan masyarakat Kabupaten Subang dan sekitarnya pun sudah sering mendapat bantuan dari Dedi Mulyadi ini.

Acara Khotmil Qur'an Pondok Pesantren Al Wathoniyyah, Desa Muara, Blanakan, Subang ini sendiri mendatangkan penceramah kondang asal DKI Jakarta, Ustadz Fikri Haikal MZ, putra dari mendiang KH Zainuddin MZ, atau Da'i sejuta umat.  BDLV/TM