ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

PKI, Dipa Nusantara Aidit, Revolusi Mental Dan Generasi Indonesia Masa Kini

On May 10, 2016 with No comments

Revolusi mental dn aidit dan pki

Soeara Rakjat, Historia. Partai Komunis Indonesia atau PKI, adalah partai yang dinyatakan terlarang di bumi nusantara. Pemerintah pun melarang berkembangnya ideologi komunisme di Indonesia karena dinilai tidak sesuai dengan Pancasila, sebagai dasar negara kita.

PKI sendiri sudah ada sebelum Indonesia merdeka, Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda yang kemudian berubah nama menjadi PKI ini kembali bangkit dan muncul di panggung politik Indonesia di era tahun 1950 an. Dipa Nusantara Aidit muncul sebagai tokoh muda potensial bagi partai berhaluan kiri ini.

DN Aidit sebenarnya bernama asli Achmad Aidit, cukup beragam versi akan asal-usul hingga hari kematian dari Aidit ini. Secara umum Aidit diyakini lahir pada tanggal 30 Juli 1923, di Tanjung Pandan, Bangka Belitung.

Ahmad Aidit kemudian mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit, konon penggantian nama ini agar Aidit bisa lebih membumi di nusantara Indonesia. Agar sesuai dengan semboyan Revolusi Mental dari ajaran Marxisme ini.

Sejak tahun 1955, PKI menjadi salah satu kekuatan politik di Indonesia, Aidit pun dinilai memiliki kedekatan yang cukup erat dengan Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno.

Pada tahun 1965, PKI telah menjadi partai terbesar di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Aidit, PKI bahkan menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia dibawah Russia dan China. PKI pun terus menunjukan eksistensinya di Indonesia, hingga kemudian terjadilah peristiwa berdarah G-30-S PKI.

Peristiwa 30 September inilah yang menjadi titik balik awal keruntuhan PKI. Pemerintahan Orde Baru yang berkuasa beberapa tahun kemudian lalu menyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia adalah partai terlarang.

PKI sendiri tercatat pernah memberontak pada tahun 1948, yang lebih dikenal dengan Peristiwa Madiun. Pemberontakan PKI dan beberapa partai haluan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat ini bisa diredam oleh TNI, khususnya Divisi Siliwangi.

Belakangan ini, begitu marak suara-suara yang menginginkan agar PKI di maafkan dan dipulihkan nama baiknya. Beberapa waktu yang lalu bahkan sempat diadakan Simposium Tragedi  1965 di Jakarta, meski acara ini banyak menuai penolakan dari berbagai kalangan masyarakat.

Terakhir, Pemerintahan Presiden Jokowi bahkan berniat melakukan 'bongkar-bongkar' kuburan yang diduga sebagai kuburan massal dari warga atau simpatisan PKI. Banyak pula yang meyakini bahwa PKI hanyalah sebagi korban.

Benarkah PKI sebagai korban? Sementara di sisi lain banyak masyarakat terutama para ulama dan santri di berbagai kota di pulau Jawa yang juga mengaku menjadi korban PKI. Jika dicermati, masih lebih banyak yang menganggap PKI sebagai pelaku ketimbang sebagai korban.

Maraknya penggunaan atribut PKI oleh generasi muda saat ini telah menimbulkan rasa kekhawatiran dari banyak kalangan. Publik pun menilai banyak diantara mereka yang belum tentu memahami sejarah atau peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam itu.

Tragedi 1965, adalah peristiwa kelam dalam sejarah bangsa Indonesia, banyak dari kita yang sebenarnya tidak menginginkan peristiwa itu diungkit kembali. Mengungkit tragedi 1965, berarti mengungkit luka lama.

Akan lebih bijak jika kita bersatu padu membangun bangsa dalam kerangka Pancasila. Karena Pancasila sebagai dasar negara sudah betul-betul mengakomodir kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Jika saat ini dirasa masih ada ketimpangan dan ketidakadilan, itu hanya semata-mata karena faktor kekuasaan. Rezim dan kepemimpinan boleh saja datang silih berganti, namun ideologi Pancasila dan NKRI haruslah tetap abadi. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »