ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Antara Gelar Pahlawan Dan Kiprah Soeharto Sejak Zaman Perjuangan

On May 26, 2016 with 1 comment


Soeara Rakjat, Historia. Nama HM. Soeharto, hingga saat ini masih menjadi salah satu yang paling sering di perbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Soeharto yang berkuasa kurang lebih selama 32 tahun ini memang banyak meninggalkan kesan mendalam bagi sebagian besar rakyatnya.

Tak sedikit pula masyarakat yang menganggap bahwa Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia terbaik hingga saat ini. Meski banyak yang menilai Soeharto otoriter, namun masyarakat menganggap bahwa itu hanya sebuah langkah atau upaya untuk menciptakan suasana yang aman dan damai.

Soeharto yang memang berlatar belakang militer, tentu memiliki disiplin dan ketegasan yang kuat. Karena itu pula, banyak kalangan yang menyebut bahwa HM. Soeharto adalah seorang diktator.

Soeharto adalah tokoh yang mungkin dibenci sebagian orang namun juga sangat di rindukan oleh sebagian rakyat Indonesia, terutama bagi mereka yang hidup di pedesaan. Selain disebut sebagai bapak pembangunan, Soeharto juga sangat dekat dengan kaum tani Indonesia.

Sepintas Soeharto sangat mirip dengan gaya kepemimpinan Saddam Husein, di Iraq. Sama-sama berlatar belakang militer dan sama-sama berkuasa hingga tiga dekade lebih. Sadam Husein juga banyak dibenci namun Saddam juga sangat dirindukan oleh rakyat Iraq saat ini.

Saddam sendiri turun dari kekuasaan pasca serbuan tentara Multi Nasional pimpinan Amerika Serikat dan Inggris. Saddam dinilai sebagai diktator yang menurut negara-negara barat banyak melakukan pelanggaran HAM dan memiliki senjata biologi meskipun sebagian besar tuduhan yang dialamatkan padanya tidak terbukti.

Namun apa yang terjadi setelah Saddam jatuh? Alih-alih mendapatkan kedamaian, Iraq malah menjadi ajang pertumpahan darah dan pembantaian. Tidaklah salah jika banyak rakyat Iraq yang kini merindukannya. Bagaimanapun, Saddam dinilai telah mampu menciptakan perdamaian bagi mayoritas rakyat Iraq. Kondisi Iraq saat ini yang jauh dari rasa aman adalah sebagai bukti bahwa Saddam lebih berhasil menciptakan rasa kedamaian.

Hal yang sama dalam konteks yang berbeda juga kini sedang terjadi di Indonesia. Tak sedikit yang menilai bahwa situasi keamanan dan kenyamanan saat ini tidak lebih baik dari masa-masa sebelumnya, khususnya zaman Soeharto atau Orde Baru.

Banyak pula yang mengatakan bahwa mereka merasa lebih sejahtera di zaman Orde Baru jika dibanding saat ini. Hal inilah yang kemudian memunculkan istilah 'masih penak zamane Soeharto' bagi sebagian besar kalangan masyarakat Indonesia.

Soeharto sendiri mengundurkan diri pasca terjadi desakan-desakan dari aktivis yang menginginkan agar dirinya mundur pada pertengahan Mei 98 silam. Soeharto yang dituduh Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ini akhirnya dengan suka rela meningalkan jabatan yang selama 32 tahun diembannya.

Apakah sepeninggal Soeharto Korupsi, Kolusi dan Nepotisme atau KKN ini lalu sirna dan musnah dari bumi Indonesia? Ternyata tidak, grafik angka korupsi masih tetap tinggi, begitu pula dengan Kolusi dan Nepotisme yang masih tetap saja terjadi hingga hari ini.

Beberapa waktu yang lalu muncul gagasan agar Soeharto diberi gelar Pahlawan. Hal ini pun masih menimbulkan perdebatan di kalangan elit-elit politik negeri ini. Sebagian dari mereka tidak menyetujui Soeharto diberi gelar sebagai pahlawan.

Hal yang berbeda justeru terjadi dikalangan masyarakat Indonesia, sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa Soeharto sangat layak dianugerahi gelar pahlawan. Suara rakyat tentu akan berbeda dengan suara para elit politik. Suara rakyat adalah murni suara hati nurani, sementara para elit dan pejabat tentu memiliki agenda dan kepentingan sendiri-sendiri.

Layak atau tidaknya Soeharto diberi gelar pahlawan, tentu itu bisa dilihat dari kiprah Soeharto sejak awal, yakni di masa perjuangan. Soeharto adalah seorang tentara dan komandan militer di zaman pendudukan Belanda dan Jepang, yang telah berkali-kali terlibat dalam pertempuran.

Sejak naik menjadi pemimpin negeri ini Soeharto juga dinilai telah banyak menorehkan prestasi. Indonesia juga kala itu dinilai sebagai salah satu kekuatan signifikan di Asia, padahal saat itu Indonesia adalah sebuah negara yang belum lama merdeka.

Hal itulah yang kemudian melahirkan banyaknya desakan agar Soeharto diberi gelar pahlawan. Kuatnya desakan agar Soeharto diberi gelar pahlawan datang dari arus bawah rakyat Indonesia, rakyat pun berharap agar Soeharto secepatnya dianugerahi gelar sebagai pahlawan.

Namun begitu, rakyat juga tidak bisa memaksa kepada pemerintah saat ini agar Soeharto di beri gelar Pahlawan. Tanpa gelar pahlawan sekalipun Soeharto sesungguhnya sudah dianggap sebagai pahlawan oleh mayoritas rakyat Indonesia. Soeharto bahkan dianggap sebagai Presiden terbaik bagi mereka.

Gelar pahlawan hanyalah sebuah gelar penghormatan yang terkadang rancu. Cukup banyak orang-orang yang mendapatkan gelar pahlawan padahal mereka samasekali tidak pernah terlibat langsung dalam perjuangan yang sesungguhnya.
Mungkin pemerintah saat ini memang belum berniat memberi gelar pahlawan, namun rakyat juga tidak akan pernah lupa dengan perjuangan Soeharto untuk bangsa Indonesia. Andai sejarah dirubah sekalipun, nama Soeharto akan tetap terpatri dan lekat dihati sebagian besar rakyat Indonesia. BDLV/TM
Netizen : Syarat Doktor Honoris Causa Minimal Selesai Menempuh Pendidikan S1

On May 25, 2016 with No comments

Soeara Rakjat, Ketua Umum PDI Perjuangan, Hajjah Megawati Soekarnoputri, beberapa waktu lalu di anugerahi sebuah gelar kehormatan. Presiden RI ke 5 ini di anugerahi gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Politik dan Pemerintahan.

Hal ini tentu membawa surprise tersendiri bagi putri sang Proklamator RI ini. Selain Megawati, PDIP dan segenap simpatisannya turut berbahagia dan berbangga pula atas anugerah Doktor Honoris Causa dari Unpad ini.

Hal yang sama juga dirasakan oleh para Netizen di ranah maya Indonesia, sebagian dari mereka terlihat begitu bangga melihat tokoh idolanya ini. Gelar Doktor Honoris Causa memang hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang dinilai memiliki prestasi dan kontribusi yang besar.

Namun begitu, cukup banyak juga para Netizen yang mempertanyakan tentang layak atau tidaknya Megawati mendapat gelar ini. Menurut mereka, penyandang gelar Doktor Honoris Causa seharusnya minimal pernah menempuh dan menyelesaikan jenjang pendidikan S1.

Menurut Viena Morgan, seorang pengamat Sosial Media yang juga seorang Dosen ini menyebutkan, bahwa hal ini sesuai dengan peraturan dari Kemendikbud. Menurutnya Gelar S1 sudah harus di raih terlebih dahulu sebelum seseorang di anugerahi gelar Doktor Kehormatan.
"Syarat penerima penghargaan Honoris Causa adalah sudah lulus menempuh jenjang pendidikan minimal S1," ujar Viena Morgan, melalui akun Facebooknya.

Hingga saat ini, cukup banyak para Netizen yang turut mempertanyakan akan layak atau tidaknya Megawati meraih gelar ini. Hal ini tentu menimbulkan sedikit perdebatan, karena tidak sedikit juga para Netizen yang menganggap bahwa Megawati sangat layak menerima gelar ini.

Masih belum jelas apakah aturan Kemendikbud yang sudah di rubah, atau mungkin juga gelar itu diberikan karena memang Megawati sendiri yang memiliki gelar S1 atau bahkan lebih tinggi lagi. BDLV/TM
Marak Tindak Kejahatan Oleh Remaja, Reformasi Dinilai Gagal Mendidik Anak Bangsa?

On May 23, 2016 with 2 comments

Soeharto dan para siswa sekolah
Presiden bersama Ibu Tien dan Wapres Tri Sutrisno saat berdialog dengan para siswa/foto istimewa
Soeara Rakjat, Historia. Belakangan ini, publik di kejutkan oleh kasus asusila disertai pembunuhan yang dilakukan oleh para remaja, yang diantaranya berusia belasan tahun. Rakyat pun bertanya-tanya, ada apa dengan bangsa Indonesia?

Bangsa kita memang kini telah berubah secara drastis, banyak para remaja kita yang entah mengapa kini memiliki karakter 'jahat' dan brutal. Sesuatu yang sepertinya sangat janggal dan langka, terutama bagi mereka yang merasakan masa-masa remaja di tahun 70, 80 hingga awal 1990 an.

Remaja masa kini boleh saja bangga dengan pesatnya kemajuan zaman. Era digital telah membawa manusia dalam lompatan besar sejarah, dan membuat remaja masa kini jauh lebih moderen daripada remaja-remaja beberapa puluh tahun sebelumnya.

Namun remaja di era 70, 80 dan 1990-an, juga patut berbangga, karena mereka juga disebut-sebut sebagai generasi emas bangsa Indonesia. Di era Orde Baru, Indonesia masih dipandang sebaga salah satu kekuatan utama di kawasan Asia.

Lalu apa yang membuat banyak remaja di masa kini begitu gampang melakukan tindak kejahatan yang tergolong sangat sadis? Tentunya itulah yang menjadi pertanyaan kita semua dan seluruh rakyat Indonesia.

Kita pun hampir tak percaya jika kasus asusila disertai pembunuhan sadis ini dilakukan oleh anak remaja yang diantaranya berusia belasan tahun. Mungkinkah bangsa Indonesia kini telah gagal dalam mendidik generasi-generasi mudanya?

Pertanyaan seperti itu akan terasa wajar jika melihat kondisi saat ini. Kasus pemerkosaan massal, kasus gagang pacul dan kasus bambu runcing, adalah cermin dari semuanya. Kasus-kasus pemerkosaan yang disertai pembunuhan tersebut dipandang sangat sadis, bahkan oleh dunia Internasional.

Banyak masyarakat yang kini mulai mempertanyakan dunia pendidikan kita. Namun tak bisa di pungkiri bahwa dunia pendidikan kita kini telah berubah. Banyak pra guru atau tenaga pengajar yang kini merasa tak bisa lagi 'mengontrol' karakter dan mental anak didiknya secara langsung.

Para guru kini hanya bertugas mengajarkan mata pelajaran tanpa perlu turut membentuk karakter dan mental para muridnya. Para guru saat ini bisa dipidanakan, dan dinilai melanggar Hak Asasi Manusia jika melampaui kewenangannya yang hanya sebagai penyampai mata pelajaran.

Tentu kita sudah tahu bahwa beberapa waktu yang lalu ada seorang guru yang ditahan pihak Kepolisian, gara-gara mencubit anak didiknya yang sangat mungkin berbuat salah. Para orang tua sepertinya telah lupa bagaimana susahnya mendidik dan mengajar anak-anak mereka.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi belajar mengajar di era Orde baru, atau beberapa puluh tahun yang lalu. Dahulu, para guru memiliki kewenangan dan wibawa yang sangat besar di hadapan siswa atau murid-muridnya. Guru bahkan dipandang memiliki pengaruh lebih tinggi dari orang tuanya.

Hal itu tentu tak lepas dari kurikulum mata pelajaran yang ada saat itu. Waktu itu, murid-murid tak hanya dijejali dengan pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Inggris, IPS dan mata pelajaran lainnha. Para murid juga akan betul-betul diajari karakter, moral dan budaya bangsa Indonesia.

Tak hanya di sekolah, bahkan pemerintah mengadakan Ekstra Kurikuler, penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, atau P4 salah satunya. Para murid yang beranjak ke usia remaja akan bergabung dengan masyarakat, kemudian digembleng dengan pelajaran karakter dan moral bangsa yang sesuai dengan pancasila.

Dengan program tersebut, remaja masa lalu relatif jauh lebih baik dalam sisi mental dan karakter. Remaja masa lalu memiliki sifat tenggang rasa yang lebih besar. Mereka lebih memiliki rasa patuh dan hormat kepada orang yang lebih dewasa, pada guru dan orang tuanya.

Namun sejak era Reformasi bergulir, pelajaran-pelajaran tersebut telah banyak dikurangi, beberapa diantaranya bahkan dihapus. Banyak pihak yang menilai bahwa pelajaran tersebut adalah Doktrin dari Orde Baru. Padahal jika dibandingkan dengan remaja saat ini, remaja di era Orde Baru memiliki karakter, mental dan moral yang sedikit lebih baik.

Kenakalan remaja memang sudah ada sejak dahulu kala, namun kini kenakalan tersebut sepertinya sudah bergeser ke arah tindak kriminal. Remaja masa kini pun sudah tak lagi menghormati orang yang lebih tua atau dewasa, bahkan mereka juga tak hormat pada guru dan orang tuanya.

Saat ini, banyak pihak yang mendorong agar pelajaran moral dan karakter bangsa kembali digalakan seperti dahulu kala. Sepertinya ilmu saja memang tidak cukup untuk membentuk karakter remaja kita agar lebih baik dari saat ini.
Euforia era Reformasi juga sepertinya turut berperan dalam membentuk karakter remaja masa kini. Remaja yang hampir tak lagi mengenali dan mencintai karakter dan budaya bangsanya. BDLV/TM
Gedung KPK Kembali Dikepung Aktivis, Salim Hutadjulu : Tangkap Koruptor

On May 20, 2016 with No comments


Soeara RakjatSeperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, bahwa tanggal 20 Mei, sebagai hari Kebangkitan Nasional akan diwarnai oleh maraknya aksi demonstrasi. Sejumlah tokoh, aktivis dan mahasiswa pun turun ke jalan melakukan aksi dan orasi di hari ini.
Sorak.in akt7vis salim hutadjulu kepung kpk
Salim Hutadjulu, aktivis nasional
Selain di Istana, Balai Kota dan DPR MPR, gedung KPK juga tak luput dari aksi massa. Sejumlah aktivis dan mahasiswa terlihat begitu bersemangat berorasi, untuk menyuarakan aspirasi.

Mereka menuntut lembaga anti rasuah ini untuk bekerja lebih cepat profesional, tidak mandul. Aktivis menilai, bahwa KPK belakangan ini seperti kehilangan gairah untuk mengungkap kasus-kasus besar, dan cenderung lebih mengejar kasus 'recehan'.

Hadir pula di tengah aksi masa ini seorang tokoh yang cukup senior dan begitu familiar bagi para aktivis. Tokoh Malari 1974, Salim Hutadjulu, dengan senyumnya yang khas tampak begitu bersemangat di tengah-tengah aksi.

Melalui akun Facebooknya, Salim mengungkapkan bahwa Koruptor adalah musuh bersama, "Kita harus tetap konsisten dan konsekuen menjadikan koruptor sebagai musuh bersama, dan menuntut agar KPK betul-betul melakukan tugas dan fungsinya," tulis Salim.

Selain itu, para aktivis ini juga menuntut agar KPK segera menetapkan Gubernur DKI Jakarta Basuka Tjahaja Purnama atau Ahok, sebagai tersangka. Aktivis menilai, sudah cukup bukti-bukti untuk menjadikan Ahok sebagai tersangka dalam kasus Sumber Waras maupun Reklamasi.

Saat ini, masyarakat memang merasa sangat khawatir dengan masih maraknya tidak kejahatan korupsi di Indonesia. Publik pun menuntut agar Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK mampu bekerja secara lebih maksimal.  BDLV/TM
Hari Ini, Sri Bintang Pamungkas Dan Tokoh Malari Sambangi DPR RI

On May 18, 2016 with 1 comment


Soeara RakjatTanggal 20 Mei, memiliki sejarah penting di republik ini dan selalu saja di peringati oleh para aktivis dan mahasiswa. Di setiap tahun, dapat di pastikan mereka akan menggelar aksi untuk menyikapi dan mengkritisi berbagai persoalan di negeri ini.
Tokoh aktivis sambangi gedung dpr ri soeararakjat.com
Sri Bintang, Salim Hutadjulu dan tokoh aktivis sambangi DPR RI
Seperti halnya 20 Mei sebelumnya, 20 Mei kali inipun sepertinya akan di warnai oleh aksi. Di media sosial, seperti Facebook maupun Twitter, cukup banyak bertebaran pernyataan sikap untuk menggelar aksi pada 20 Mei ini.

Seperti halnya yang terjadi di sore hari ini, di pintu gerbang DPR RI sudah terlihat adanya spanduk maupun banner tentang aksi 20 Mei. Tak hanya itu bahkan terlihat pula sekelompok orang yang sedang 'meninjau' kesiapan aksi yang akan di gelar beberapa hari ke depan nanti.

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan Sri Bintang Pamungkas, seorang tokoh yang tak gentar mengkritisi pemerintahan secara frontal. Siapa pula yang tak kenal dengan Salim Hutadjulu, selain sebagai tokoh Malari 74, sepak terjang Salim begitu di kenal publik dan para Netizen di  jagat maya Indonesia.
Sri Bintang Pamungkas dan Salim Hutadjulu
Sore ini, Sri Bintang, Salim Hutadjulu dan beberapa tokoh lainnya sedang berada di sekitar gedung DPR RI. Menurut Salim Hutadjulu, mereka sedang melihat kesiapan dan persiapan dalam menggelar aksi 20 Mei nanti.

"Hari ini saya dan Bung Sri Bintang Pamungkas, bersama-sama Aktivis lainnya menggeruduk gedung DPR-MPR, dan sekaligus persiapan aksi besar-besaran," tulis akun Facebook tokoh Malari 74, Salim Hutadjulu.

Baik Sri Bintang maupun Salim Hutadjulu memang sudah di kenal sebagai aktivis sejak era Orde Baru. Bukan sekali dua kali ini saja mereka melakukan aksi, mungkin sudah puluhan, bahkan hingga ratusan kali mereka menggelar aksi demonstrasi.

Menggelar aksi atau melakukan demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Di negara demokrasi seperti Indonesia, menyuarakan aspirasi dalam bentuk demonstrasi tentu tidak melanggar aturan karena hal tersebut telah di jamin oleh konstitusi dan perundang-undangan. BDLV/TM
AH Nasution, Jenderal Besar Yang Selamat Dari Peristiwa G 30 S PKI

On May 18, 2016 with 5 comments


Soeara Rakjat, Historia. Kontroversi tentang peristiwa G 30 S, hingga kini masih dan makin menguat kepermukaan. Banyak pihak yang kemudian berusaha 'meluruskan' sejarah, meskipun kita atau bahkan mungkin mereka sendiri juga tidak atau belum tentu tahu apakah sejarah tentang peristiwa G 30 S ini memang benar-benar bengkok?
Ah nasution jenderal besar yang selamat dari peristiwa g 30 s pki
Jenderal Besar Abdul Haris Nasution
Jika berbicara tentang kisah G 30 S, tentu kita tidak bisa lepas dari para korban maupun pelakunya. Salah satu korban yang selamat dari peristiwa G 30 S, adalah Jenderal Abdul Haris Nasution. AH Nasution selamat dari target penculikan, sementara putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya Lettu Pierre Tendean, menjadi korban.

AH Nasution berhasil meloloskan diri melalui jalan belakang dan bersembungi di halaman tetangganya. Dengan pergelangan kaki yang patah, tepat pukul 06.00 WIB, Nasution lantas kembali ke rumah dan meminta kepada ajudannya agar Ia dibawa ke Departemen Pertahanan dan Keamanan. Nasution kemudian mengirimkan pesan khusus kepada Soeharto di Markas Kostrad.

Lolosnya AH Nasution dari upaya penculikan, tentu bisa dijadikan sebagai referensi bagi kita yang hanya merupakan para 'pembaca' sejarah, jika kita ingin betul-betul mencermati peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam ini.

AH Nasution, merupakan seorang Jenderal Besar, sebuah gelar kehormatan yang terhormat dalam dunia militer, yang di Indonesia hanya disandang oleh tiga nama. Gelar Jenderal Bintang Lima hanya dimiliki oleh Panglima Besar Soedirman, Abdul Harris Nasution, dan HM Soeharto.

AH Nasution tentu memiliki wibawa dan kekuasaan yang besar di TNI, Nasution merupakan pejuang sejati dan pernah terjun langsung dalam kancah peperangan sebelum dan sesudah bangsa Indonesia merdeka tahun 1945.

Nasution pertamakali bergabung di dunia militer pada tahun 1940, saat itu belanda membuka lowongan untuk korps perwira cadangan dan menerima orang pribumi Indonesia. Hal itu di lakukan belanda karena saat itu sebagian Eropa termasuk Belanda sedang diduduki pasukan Nazi dibawah pimpinan Adolf Hitler.

Nasution pun lalu dipromosikan menjadi Kopral, tiga bulan kemudian menjadi Sersan. AH Nasution pun meniadi perwira di KNIL, atau Koninklijk Nederlands-Indisce Leger. Sejak itu, Nasution pun aktif dan terlibat sebagai tentara lapangan.

Menjadi anggota tentara Belanda atau KNIL, memang menjadi satu-satunya cara untuk bisa mengenyam pendidikan militer kala itu. Nasution pun tak sendiri, karena banyak pula pribumi Indonesia yang turut bergabung.

Sejak Indonesia merdeka 1945, Nasution bergabung dengan militer Indonesia, saat itu Tentara Keamanan Rakyat atau TKR. Mei 1946, Nasution nenjadi Panglima Regional Divisi Siliwangi. Nasution lalu mengembangkan teori perang teritorial, yang kini menjadi doktrin Tentara Nasional Indonesia.

Sejak itu, karier militer Nasution pun terus menanjak. Pada 1948, Nasution pun lalu menjadi wakil Panglima TKR, posisi Nasution kala itu menjadi wakil Jenderal Soedirman, Panglima Besar militer Indonesia. Meski bukan Panglima, tetapi Nasution pernah menjalani peran sebagai panglima angkatan bersenjata dalam Peristiwa Madiun 1948.

Lalu munculah Gerakan 30 September 1965, yang membawa tragedi memilukan bagi keluarga Nasution, dimana putrinya Ade Irma Suryani Nasution menjadi korban. Jika ini sebuah konspirasi, tentu bukan sesuatu yang sulit bagi Nasution untuk mengungkap kebenaran saat itu juga.

Sebagai Kepala Staf ABRI dan salah satu Dewan Jenderal, tentu Nasution masih memiliki kewenangan dan kekuasaan yang besar dalam militer Indonesia. Siapa pula yang tega membiarkan puteri kayangannya menjadi korban tanpa memberikan perlawanan?

Tentu kita semua sudah hapal betul pada kisah pagi hari 1 Oktober 1965, ketika terjadi penculikan pada perwira-perwira tinggi TNI. Kisah Jenderal Besar AH Nasution sebagai korban selamat, tentu bisa menjadi acuan berfikir bagi kita yang ingin kembali 'mengingat-ingat' peristiwa ini.

Banyak yang menuduh bahwa peristiwa G 30 S, adalah konspirasi yang dilakukan oleh penguasa rezim Orde Baru. Namun nyatanya Nasution sendiri yang menjadi korban justeru begitu dekat dengan Soeharto, bahkan Nasution sendiri yang mengirim pesan langsung kepada Soeharto di markas Kostrad bahwa dirinya selamat dari upaya penculikan.

Jenderal AH Nasution pula yang memerintahkan Mayjen Soeharto untuk mencari keberadaan Presiden Soekarno, menghubungi Panglima Angkatan Laut RE Martadinata, komandan Korps Marinir R Hartono, dan Kepala Kepolisian Sotjipto Joedodiharjo, Soeharto pun di perintah untuk mengamankan situasi keamanan Ibukota.

Jika ini di anggap sebuah sejarah yang salah, lalu mampukah mereka yang menganggap ini salah memberikan bukti yang valid dan otentik? Bukankah tidak masuk akal jika seorang pejuang sejati seperti AH Nasution, lalu membiarkan konspirasi ini dengan putri kesayangannya yang menjadi korban?

Sementara baik secara jabatan, pengaruh dan hierarki dalam tubuh TNI, AH Nasution adalah atasan Soeharto. Jika memang ini adalah sebuah rekayasa? tentunya saat itu juga Nasution bisa melakukan segalanya. Terlebih, setelah peristiwa G 30 S, Nasution menjadi salah satu jenderal paling senior di tubuh TNI.

Jenderal Nasution adalah salah satu orang paling berjasa di republik ini, beliau juga adalah salah satu penasihat utama Bung Karno. Nasution adalah salah satu orang yang bersama Bung Karno yang telah memperjuangkan integrasi Irian Jaya ke dalam Indonesia pasca kemerdekaan.

Jenderal Besar Nasution menjadi salah satu saksi dan pelaku utama sejarah sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Pahit getirnya perjuangan memerdekakan bangsa Indonesia tentu beliau rasakan betul, bahkan puteri kesayangannya pun harus menjadi korban dalam peristiwa 30 September 1965.

Tidak mengherankan jika para perwira tinggi TNI yang merupakan para junior dan suksesor saat ini begitu menaruh hormat terhadap Jenderal Nasution. AH Nasution merupakan salah satu guru bangsa dan orang tua bagi para pejuang-pejuang Indonesia.

Prabowo Subianto, dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Jenderal Nasution. Sebagai junior, Prabowo tak pernah merasa lupa terhadap Nasution. Menurut berbagai catatan, Prabowo adalah satu-satunya orang luar selain anggota keluarga yang diundang secara khusus oleh Nasution menjelang akhir hayatnya.
Setengah Abad berlalu sudah, sepertinya fakta sejarah tidak mungkin bisa dirubah jika melihat perjuangan para pendahulu kita yang begitu berdarah-darah. Semoga perjuangan mereka, termasuk Jenderal Besar Abdul Haris Nasution untuk bangsa Indonesia tak pernah sia-sia. BDLV/TM
Barisan Muda PKS Merapat, Beri Sinyal Dukung Yusril ?

On May 16, 2016 with No comments


Soeara RakjatKonstelasi politik jelang Pilkada DKI 2017, kian hari kian menghangat. Berbagai upaya terus di lakukan oleh para kandidat, baik partai politik, maupun para kandidat yang maju dari jalur perseorangan atau jalur Independen.

Tak terkecuali juga dengan Yusril Ihza Mahendra. Salah satu calon kuat di Pilkada DKI ini terus melakukan berbagai upaya komunikasi dan deal-deal baik dengan partai maupun elemen masyarakat lainnya.


Yusril, yang secara resmi sudah di nyatakan sebagai salah satu calon dari partai Gerindra ini ternyata masih secara intens terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, guna memperkuat dukungan terhadap dirinya.

Gema Keadilan, salah satu sayap PKS, di kabarkan sedang melakukan 'silaturahim' dengan Yusril. Hal ini tentu menarik perhatian kita semua, mengingat PKS sendiri secara resmi masih belum menentukan calonnya untuk DKI 2017 nanti.

"Yusril usai berdialog dengan DPP Gema Keadilan, sayap Pemuda PKS kemarin di Jakarta," tulis akun twitter @Yusrilihza_Mhd.

Mungkin masih terlalu dini untuk menyebut bahwa ini adalah sebuah bentuk dukungan. Akan tetapi ini adalah sebuah sinyal positif, dan bukanlah sesuatu yang mustahil jika PKS nantinya mendukung Yusril.

Partai Keadilan Sejahtera sendiri memiliki suara yang cukup signifikan di DKI. PKS adalah partai kader yang solid dan memiliki militansi yang kuat. Jika PKS nantinya benar-benar mendukung Yusril, tentu itu adalah sesuatu yang luar biasa.

PKS juga di kenal memiliki kader internal yang mumpuni, pada 2012 lalu PKS mengusung Hidayat Nur Wahid di Pilgub DKI. Namun begitu, PKS juga tidak menutup kemungkinan untuk mendukung Yusril, mengingat di antara keduanya memiliki visi dan arah perjuangan yang relatif sama.

Siapapun nanti yang akan di calonkan, semua bergantung pada elektabilitas, popularitas, dan kredibilitas masing-masing calon. Semua masih terus berubah seiring waktu yang berjalan.  BDLV/TM
Jenderal Soeharto, Masih Dianggap Sebagai Presiden Terbaik Indonesia

On May 16, 2016 with No comments


Soeara RakjatReformasi 1998, telah berhasil 'menumbangkan' Orde Baru, dan memunculkan Orde 'semu' Reformasi. 18 tahun sudah Reformasi berjalan, dan delapan tahun sudah HM Soeharto, meninggalkan kita bangsa Indonesia.

Apa yang telah kita hasilkan setelah masyarakat Indonesia begitu larut dalam Euforia kebebasan yang sebebas-bebasnya ? Berakhirnya kepemimpinan Orde Baru yang konon di kenal Otoriter, telah membawa kita pada fase baru yaitu zaman kebebasan.

Sayangnya tidak sedikit dari kita yang sering kebablasan dalam menyikapi kebebasan tersebut. Bangsa Indonesia pun kini sudah hampir kehilangan identitasnya. Bangsa Indonesia yang di kenal ketimuran dan santun, kini sepertinya mulai berubah drastis, terutama di kalangan generasi muda.

Maraknya tawuran antar pelajar, supporter sepakbola, dan warga antar kampung, sepertinya bukan lagi sesuatu yang aneh. Pergesekan-pergesekan yang kerap menimbulkan korban jiwa terasa kian marak, saling hujat dan caci maki pun semakin mengerak, sesuatu yang sangat di sayangkan tentunya.

Saat ini, bangsa Indonesia boleh bangga dengan kebebasan pers, demokrasi dan hak-hak politik. Kini rakyat di beri kebebasan untuk bersuara, memilih partai hingga Kepala Daerahnya. Namun sayang kebebasan tersebut sepertinya masih belum memberi dampak signifikan pada kehidupn dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Lalu munculah istilah atau slogan yang menyatakan bahwa era Soeharto masih lebih baik dari saat ini. Sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa stabilitas baik keamanan, politik dan ekonomi masih lebih baik dari pada kebebasan mutlak bagi rakyat seperti sekarang ini.

Rakyat Indonesia kini seprtinya memang memiliki kebebasan sangat mutlak, mutlak tidak di beri subsidi, mutlak menentukan nasibnya sendiri, dan mutlak memperjuangkan kepentingannya sendiri. Bahkan menghadapi MEA, rakyat Indonesian juga mutlak tanpa adanya perlindungan dan proteksi dari pemerintah saat ini.

Hal ini bukan hanya sekedar wacana maupun opini belaka, banyak dari lembaga survey yang kemudian mencoba menjaring aspirasi rakyat tersebut. Hasilnya pun luar biasa, ternyata masih banyak masyarakat yang menyatakan bahwa isih penak jamane Soeharto.

Kondisi ini tentu membuat idiom Pie Kabare ? Masih Penak Jaman Ku To Le ? makin membumi di seantero Indonesia. Meski tidak di pungkiri bahwa zaman Reformasi juga membawa banyak perbaikan demi perbaikan, namun mungkin sebagian masyarakat masih belum merasa puas dengan kondisi ini.

Piye Kabare, Masih Penak Jaman Ku To Le ? juga sangat mungkin adalah sebuah bentuk kekecewaan sebagian masyarakat Indonesia. Reformasi yang dahulu di anggap sebagai gerbang emas Indonesia menuju kejayaan, kini banyak menuai kekecewaan bagi sebagian kalangan.

Indonesia tetap berhutang, Indonesia tetap Korupsi, dan Indonesia semakin gaduh. Indonesia juga kini masih belum bisa terbebas dari ketergantungan dan belenggu 'asing', Indonesia kini malah makin bergantung dan kian 'terlelap' dalam cengkeram kekuatan asing.

Cita-cita Reformasi bangsa Indonesia pun sepertinya Jauh Panggang Daripada Api, banyak hal yang ingin kita hindarkan dan di perjuangkan dengan mengusung Reformasi justeru kini malah terjadi. Reformasi, masih belum bisa membuat rakyat Indonesia berdaulat, mandiri dan menjadi tuan di negeri sendiri.

Untuk apa kebebasan jika hanya kebablasan, untuk apa Reformasi jika hanya makin menjauhkan kita dari cita-cita mulai para pejuang dan pendiri bangsa Indoensia. Lalu apa yang anda rasakan saat ini, sudahkah kita merasa menjadi pemilik sah bangsa Indonesia ? Sebuah pertanyaan yang rumit dan sulit tentunya.

Namun begitu, Reformasi adalah cita-cita mulia yang harus tetap kita perjuangkan. Reformasi hanya sebuah tahap perjalanan yang mungkin kini sedang tersesat di persimpangan, dan semoga kelak menemukan jalan ? BDLV/TM
Pemuda Pancasila Siap Hadang Bangkitnya Paham Komunis Di Indonesia

On May 14, 2016 with No comments

Pemuda Pancasila
Soeara Rakjat, IndonesiaMaraknya berbagai simbol maupun aktivitas yang di tengarai mengarah ke faham komunisme, membuat banyak pihak termasuk Pemuda Pancasila salah satunya, kini merasa harus meningkatkan kewaspadaan.

Pemuda Pancasila, sebagai salah satu Ormas tertua dan terbesar di Indonesia ini merasa berkewajiban untuk terus memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara. PP akan berjuang menegakan Pancasila dari rongrongan pihak manapun.

Hal tersebut di ungkapkan langsung oleh KPH Japto Soelistyo Soerjosoemarno,  SH, selaku Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila, dalam silaturahmi dengan Kementerian Pertahanan, Purnawirawan TNI AD, dan Ormas, di Jakarta.

"Apabila pemerintah tidak bisa menegakan hukum di negara ini, maka kita yang akan menegakan hukum kepada orang-orang yang aPancasilais," tegas Japto Soerjosoemarno.

Tekad dan ketegasan Japto ini tentu mendapat sambutan hangat dari kader-kader PP di seluruh daerah di Indonesia. Mereka bertekad Pancasila harus tetap di perjuangkan, agar Pancasila Abadi dan tetap jaya di Indonesia.

Banyak kader PP di berbagai daerah kini bersatu dengan masyarakat, mereka bersosialisasi dalam upaya menghalau bangkitnya atau upaya-upaya tertentu yang ingin merongrong kewibawaan Pancasila dan NKRI. 

Saat ini, banyak Netizen yang merupakan kader Pemuda Pancasila, yang menyuarakan kesiapannya dalam rangka mengantisipasi permasalahan ini. PP bersama Ormas atau LSM dan elemen masyarakat lainnya bertekad akan memperjuangkan tegaknya NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara.

Pemuda Pancasila adalah Organisasi kepemudaan terbesar di Indonesia, dengan jutaan anggota, PP di dirikan pada tanggal 28 Oktober 1959. Sejak tahun 1981, Pemuda Pancasila kemudian di pimpin oleh KPH Japto Soelistyo Soerjosoemarno SH, hingga saat ini. 

Kanjeng Pangeran Haryo Japto Soelistyo Soerjosoemarno sendiri merupakan seorang tokoh berdarah ningrat dari Mangkunegaran. Ayah Japto, Mayjen Purnawirawan KPH Soetarjo Soerjosoemarno adalah keturunan dari Mangkunegoro V. BDLV/TM
Antara Mohammad Natsir, Masjoemi Dan Yusril Ditengah Pergerakan Islam

On May 13, 2016 with No comments

Soeara Rakjat, IndonesiaPerjalanan panjang bangsa Indonesia, telah melahirkan banyak pejuang dan tokoh-tokoh pergerakan. Mereka begitu di kenal, bahkan hingga kini tetap menjadi 'referensi' ataupun inspirasi bagi kaum muda intelektual Indonesia saat ini.

Salah satu tokoh pergerakan Islam yang paling di kenal di Indonesia adalah Mohammad Natsir. M. Natsir adalah satu dari sekian banyak tokoh idealis Islam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. M. Natsir lahir di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat pada 17 Juli 1908.

Natsir yang sejak SMA tinggal di Bandung ini kemudian terjun ke dunia politik di era 1930 an. Natsir adalah salah satu pendiri sekaligus pemimpin Masyumi, atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia. Selain berpolitik Natsir pun aktif sebagai penulis, Natsir banyak menulis tentang perspektif Islam dalam kaitanya dengan pemerintahan saat itu.

Natsir juga pernah di angkat sebagai Perdana Menteri Indonesia, pada September 1950, namun mengundurkan diri karena berselisih faham dengan Presiden Soekarno. Sejak mengundurkan diri, Natsir makin kuat menyuarakan pentingnya peranan Islam dalam pemerintahan, Natsir kemudian di tahan sebelum akhirnya di bebaskan pada tahun 1966.

Selain di dalam negeri, Natsir juga cukup di kenal di luar negeri. Itu terbukti dengan gelar doktor Haonoris Causa, dari Lebanon dan Malaysia. Di kancah internasional, Natsir pernah memimpin Liga Muslim Dunia, dan Dewan Masjid Dunia. M. Natsir meninggal dunia di Jakarta pada 6 Februari 1993, Natsir kemudian di anugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada tahun 2008.

Natsir di kenal sebagai Menteri yang sederhana, tak punya baju bagus dan Jas yang penuh tambal dan sulaman. Natsir juga tidak memiliki rumah dan menolak di beri mobil mewah. Dalam berbagai tulisannya, M. Natsir kerap mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap perlakuan pemerintah Soekarno kepada umat Islam.

Partai Masyumi sendiri di dirikan pada 7 November 1945 di Yogyakarta. Partai ini di dirikan melalui kongres umat Islam se Indonesia. Seluruh tokoh umat Islam dari Nahdlotul Ulama, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Persatuan Umat Islam dan Peesatuan Umat Islam Indonesia, bersatu padu menyatukan persepsi,

Masyumi merupakan partai berideologi Islam atau Pan-Islamisme. Masyumi kemudian di bubarkan oleh Presiden Soekarno pada 1960, karena pemerintah kala itu mencurigai ada tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam 'gerakan' Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia atau PRRI.

Sebelum resmi menjadi partai, Masyumi adalah wadah bagi para tokoh dan umat Islam Indonesia untuk menyatukan visi, misi dan arah perjuangannya. Pendiri NU, KH Hasyim Ashari tercatat sebagai pemimpin tertinggi Masyumi kala itu. NU kemudian menyatakan diri keluar dari Masyumi pada 5 April 1952.

Pada Pemilu 1955, Masyumi adalah partai Islam terkuat dengan meraih sekitar 20,9 % suara. Jawa Barat, Jakarta Raya, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku adalah basis utama Masyumi.

Partai Bulan Bintang, adalah satu-satunya partai yang dianggap sebagai perwujudan Masyumi di masa kini. Namun begitu, PBB sepertinya sulit untuk mengulang sejarah besar Masyumi di era 1950 an. Masyumi yang kala itu sebagai wadah utama aspirasi umat Islam, tentu berbeda dengan kondisi PBB saat ini, dimana pergerakan umat Islam sudah 'terpecah belah'.

Bagaimana dengan Yusril Ihza Mahendra sebagi tokoh sentral di PBB, dalam kondisi Indonesia saat ini. Sepertinya Yusril masih memiliki nama besar ketimbang PBB sendiri, Yusril saat ini adalah salah satu tokoh nasional yang begitu luas dikenal.

Yusril lebih di kenal sebagai praktisi hukum, namun begitu citra Islam masih melekat dalam dirinya. Yusril juga cukup dengan kalangan Ulama dan Habaib di Ibukota maupun di seluruh Indonesia. Banyak tokoh yang kemudian mengharapkan Yusril menjadi seperti M. Natsir. 

Pergerakan Islam dalam politik negeri ini bukanlah sesuatu yang aneh, sudah sejak dahulu para ulama dan tokoh Islam berjuang membela Indonesia. Para Ulama dan kaum santri lebih memiliki peran dalam perjuangan, ketimbang mereka yang kini merasa paling memiliki Indonesia. mch
PKI, Dipa Nusantara Aidit, Revolusi Mental Dan Generasi Indonesia Masa Kini

On May 10, 2016 with No comments

Revolusi mental dn aidit dan pki

Soeara Rakjat, Historia. Partai Komunis Indonesia atau PKI, adalah partai yang dinyatakan terlarang di bumi nusantara. Pemerintah pun melarang berkembangnya ideologi komunisme di Indonesia karena dinilai tidak sesuai dengan Pancasila, sebagai dasar negara kita.

PKI sendiri sudah ada sebelum Indonesia merdeka, Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda yang kemudian berubah nama menjadi PKI ini kembali bangkit dan muncul di panggung politik Indonesia di era tahun 1950 an. Dipa Nusantara Aidit muncul sebagai tokoh muda potensial bagi partai berhaluan kiri ini.

DN Aidit sebenarnya bernama asli Achmad Aidit, cukup beragam versi akan asal-usul hingga hari kematian dari Aidit ini. Secara umum Aidit diyakini lahir pada tanggal 30 Juli 1923, di Tanjung Pandan, Bangka Belitung.

Ahmad Aidit kemudian mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit, konon penggantian nama ini agar Aidit bisa lebih membumi di nusantara Indonesia. Agar sesuai dengan semboyan Revolusi Mental dari ajaran Marxisme ini.

Sejak tahun 1955, PKI menjadi salah satu kekuatan politik di Indonesia, Aidit pun dinilai memiliki kedekatan yang cukup erat dengan Presiden Republik Indonesia pertama Ir. Soekarno.

Pada tahun 1965, PKI telah menjadi partai terbesar di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Aidit, PKI bahkan menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia dibawah Russia dan China. PKI pun terus menunjukan eksistensinya di Indonesia, hingga kemudian terjadilah peristiwa berdarah G-30-S PKI.

Peristiwa 30 September inilah yang menjadi titik balik awal keruntuhan PKI. Pemerintahan Orde Baru yang berkuasa beberapa tahun kemudian lalu menyatakan bahwa Partai Komunis Indonesia adalah partai terlarang.

PKI sendiri tercatat pernah memberontak pada tahun 1948, yang lebih dikenal dengan Peristiwa Madiun. Pemberontakan PKI dan beberapa partai haluan kiri yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat ini bisa diredam oleh TNI, khususnya Divisi Siliwangi.

Belakangan ini, begitu marak suara-suara yang menginginkan agar PKI di maafkan dan dipulihkan nama baiknya. Beberapa waktu yang lalu bahkan sempat diadakan Simposium Tragedi  1965 di Jakarta, meski acara ini banyak menuai penolakan dari berbagai kalangan masyarakat.

Terakhir, Pemerintahan Presiden Jokowi bahkan berniat melakukan 'bongkar-bongkar' kuburan yang diduga sebagai kuburan massal dari warga atau simpatisan PKI. Banyak pula yang meyakini bahwa PKI hanyalah sebagi korban.

Benarkah PKI sebagai korban? Sementara di sisi lain banyak masyarakat terutama para ulama dan santri di berbagai kota di pulau Jawa yang juga mengaku menjadi korban PKI. Jika dicermati, masih lebih banyak yang menganggap PKI sebagai pelaku ketimbang sebagai korban.

Maraknya penggunaan atribut PKI oleh generasi muda saat ini telah menimbulkan rasa kekhawatiran dari banyak kalangan. Publik pun menilai banyak diantara mereka yang belum tentu memahami sejarah atau peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam itu.

Tragedi 1965, adalah peristiwa kelam dalam sejarah bangsa Indonesia, banyak dari kita yang sebenarnya tidak menginginkan peristiwa itu diungkit kembali. Mengungkit tragedi 1965, berarti mengungkit luka lama.

Akan lebih bijak jika kita bersatu padu membangun bangsa dalam kerangka Pancasila. Karena Pancasila sebagai dasar negara sudah betul-betul mengakomodir kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Jika saat ini dirasa masih ada ketimpangan dan ketidakadilan, itu hanya semata-mata karena faktor kekuasaan. Rezim dan kepemimpinan boleh saja datang silih berganti, namun ideologi Pancasila dan NKRI haruslah tetap abadi. BDLV/TM
Kisah Mahabharata Dan Lakon Petruk Dadi Raja Di Indonesia

On May 07, 2016 with No comments


Soeara Rakjat, Kisah kepahlawanan atau Epik Mahabharata, adalah karya sastra kuno yang berasal dari India. Seperti halnya Odyssey dan Iliad karya Homeros dari Yunani, Mahabharata juga erat kaitannya dengan kepercayaan atau agama masyarakat India sejak abad 4 Sebelum Masehi.

Babad Mahabharata, secara tradisional adalah karya dari Vyasa, seorang resi. Kitab Mahabharata adalah gabungan dari 18 kitab atau Astadasapurwa, ke 18 kitab tersebut adalah rangkaian kisah yang memiliki benang merah dan saling berkaitan antara satu dengan yang lain.

Di Indonesia, kisah Mahabharata pun cukup dikenal luas oleh masyarakat terutama di pulau Jawa. Masyarakat Jawa maupun Sunda di Jawa Barat, begitu mengenal kisah ini dengan beragam versi yang kadang dikaitkan dengan kearifan lokal di daerahnya masing-masing. Kisah Mahabharata begitu dikenal karena dimasa lalu mayoritas masyarakat di pulau Jawa adalah penganut Hindu.

Agama Hindu sendiri diperkirakan sudah masuk ke tanah Jawa sejak abad ke 4 Masehi. Hal itu dapat dibuktikan dengan keberadaan kerajaan Tarumanegara di daerah antara Bekasi - Karawang, Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara dengan salah satu raja yang terkenal Purnawarman, eksis hingga abad ke 7.

Selain Tarumanegara, Majapahit adalah salah satu kerajaan Hindu terbesar yang pernah ada di tanah Jawa, sebelum runtuh di abad 15. Runtuhnya Majapahit memiliki kaitan erat dengan masuknya agama Islam ke tanah Jawa. Para penyiar Islam di tanah Jawa, yang lebih dikenal sebagai Walisongo diyakini adalah sebagai pelopor penyebaran Islam di  Jawadwipa.

Adalah Sunan Kalijaga, yang merupakan salah satu Wali yang berdarah asli Jawa yang diyakini pertamakali menggubah kitab Mahabharata menjadi seperti yang kita kenal sekarang ini. Sunan Kalijaga, banyak menggubah kisah Mahabharata agar sesuai dengan Syariat dan memiliki ciri Islami.

Lakon Wayang yang dahulu kala menjadi tontotan paling digemari oleh masyarakat kemudian dijadikan sebagai sarana Dakwah. Tak mengherankan jika kemudian Sunan Kalijaga berusaha membuat lakon Wayang yang bersumber dari kisah Mahabharata ini menjadi lebih Islami, tanpa mesti kehilangan esensi dari kisah Mahabharata itu sendiri.

Selain menggubah, Sunan Kalijaga juga banyak membuat kisah carangan, atau rekaan. Diantara yang paling terkenal adalah Layang Jamus Kalimusodo dan Petruk Dadi Ratu. Petruk sendiri adalah anak dari Ki Semar Badranaya, yang merupakan tokoh Punakawan yang juga merupakan hasil rekaan sang Sunan.

Selain tokoh fiktif  Punakawan, salah satu yang paling kontras antara Mahabharata asli dan versi Jawa adalah tokoh Panditha Dorna. Dorna dalam Mahabharata merupakan guru sejati bagi ksatria Hastina, baik itu para Kurawa maupun Pandawa. Namun dalam versi Wayang Jawa, Dorna justru mengambil peran yang identik dengan Patih Sengkuni yang memiliki sifat fitnah dan menghasut.

Petruk Dadi Raja, merupakan sebuah kisah yang sarat Siloka dan makna. Petruk yang hanya seorang Punakawan yang menjadi raja, itu menandakan bahwa seorang rakyat jelata pun bisa memiliki hak yang sama dengan para ksatria dan bangsawan.

Ki Mantheb Sudarsono, adalah seorang dalang besar yang mewakili entitas Wayang Jawa, sementara Asep Sunandar Sunarya, di sebut-sebut sebagai dalang Wayang Sunda terbesar. Keduanya memiliki pemahaman yang sangat luas, hingga mampu mensinergikan wayang dalam konteks masa kini, baik secara intelektualitas, budaya maupun politik.

Petruk Dadi Ratu atau Raja ini sering di pentaskan dalam gelaran Wayang Jawa Maupun Sunda. Dalam beberapa pentas, Petruk Dadi Ratu adalah sebuah bentuk keniscayaan atas kisruh yang terjadi di negara Hastinapura dan Amarta. Petruk adalah tokoh 'alternatif' di antara para ksatria Pandawa dan Kurawa.

Sayang tidak disebutkan apakah Petruk mampu mensejahterakan rakyatnya saat menjadi raja. Sedangkan baik Amarta atau Hastinapura sendiri di ibaratkan sebagai negara Eka Adi Dasa Purwa, Sekar Wukir Gemah Ripah Loh Jinawi. Dengan nama besar Hastina atau Amarta, seharusnya Harjuna, Gatutkaca atau Bima yang lebih pantas untuk menjadi raja.

Lakon Petruk Dadi Ratu sendiri hanya ada di Indonesia, karena dalam babad Mahabharata asli tidak ditemukan adanya tokoh Punakawan Ki Semar dan anak-anaknya.  BDLV/TM
Antara Ketahanan Swasembada Pangan dan Alih Fungsi Lahan di Kota Pamanukan, Subang

On May 07, 2016 with No comments


Soeara Rakjat. Pamanukan, adalah sebuah kota kecamatan atau kota administratif yang ada di wilayah Kabupaten Subang, bagian utara. Kota ini cukup besar, baik itu populasi penduduk maupun perekonomian, Kota Pamanukan memiliki nilai yang cukup signifikan.
Lahan sawah di pamanukan berkurang
Lahan pertanian di Pamanukan Subang
Letak kota Pamanukan juga cukup strategis, karena Pamanukan berada langsung di perlintasan jalur pantai utara Jawa. Sebelum ada tol Cikopo-Palimanan, Pamanukan adalah kota yang 'wajib' di lewati bagi mereka yang ingin menuju Jakarta-Surabaya hingga Banyuwangi atau sebaliknya.

Selain sebagai kota pusat perniagaan di wilayah utara Subang, Pamanukan juga masih menyimpan potensi pertanian dan perikanan. Meskipun jumlahnya perlahan mulai berkurang, namun masih cukup banyak terdapat sawah-sawah yang luas terbentang di Pamanukan.

Selain sawah, beberapa kilo meter ke arah utara menuju pantai Pondok Bali seperti di Desa Pengarengan, Legon hingga Mayangan, terdapat cukup banyak tambak milik petani yang mengelola budidaya udang maupun ikan. Tambak atau empang dalam bahasa lokal, masih menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar.

Sementara sawah, tentu saja sebagai ladang utama bagi para petani di Pamanukan. Pesawahan yang ada disekitar Pamanukan adalah lahan tekhnis dengan kualitas terbaik. Jika tak ada kendala berarti, hampir dipastikan hasil panen akan selalu berlimpah dalam setiap musimnya.

Namun demikian, bertambahnya populasi penduduk telah membuat wajah kota Pamanukan berubah dari waktu ke waktu. Hal ini berimbas pada makin berkurangnya lahan-lahan pertanian yang kini sudah banyak berubah fungsi menjadi perumahan atau pemukiman.

Cukup banyak sawah-sawah yang di era tahun 1980 hingga 1990 masih  luas membentang, kini berubah menjadi perumahan ataupun tempat kegiatan usaha. Hal itu terpaksa dilakukan, mengingat memang sudah tidak ada lagi ketersediaan lahan.

Jika hal tersebut terus berlangsung, tentunya bukan tidak mungkin akan memicu rasa kekhawatiran terhadap ketahanan pangan. Terlebih, saat Pamanukan dan Kabupaten Subang sendiri masih menjadi lumbung padi nasional, saat ini pula pemerintah masih memberlakukan kebijakan import beras.

Lalu apa yang akan terjadi pada 20 atau 50 tahun mendatang? Tentunya itu menjadi sebuah pertanyaanyang mendasar. Saat ekspansi lahan untuk pemukiman maupun kegiatan usaha makin meningkat, saat itu pula ketahanan akan swasembada pangan kita semakin rawan!

Kabupaten Subang bagian utara, mulai dari Patokbesi, Ciasem, Pamanukan, Pusakanegara hingga Kali Sewo yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, memang masih menyimpan berhektar-hektar lahan dan produksi padi yang sangat melimpah.
Namun jika situasi ini terus berlangsung, bukan tak mungkin kelangkaan dan mahalnya harga pangan akan terjadi. Seiring dengan maraknya penggunaan sawah lahan tekhnis untuk kegiatan usaha dan pemukiman, ketahanan swasembada pangan pun akan semakin terancam.  BDLV/TM
Perjalanan Spiritual Pangeran Diponegoro Dan Ramalan Pecahnya Perang Jawa

On May 06, 2016 with No comments



Soeara Rakjat, Historia. Pangeran Diponegoro, siapa yang tak mengenal sosok legendaris dari tanah Jawa ini. Tak hanya kita bangsa Indonesia, bangsa Amerika - Eropa pun begitu penasaran akan salah satu sosok pahlawan terbesar tanah Jawa tersebut. Banyak sejarawan asal Eropa - Amerika yang hingga kini masih berusaha menguak misteri dari Diponegoro ini.
Perjalanan pangeran diponegoro ke pantai selatan
Pangeran Diponegoro, Pahlawan Nasional Indonesia
Peter Carey, adalah salah satu sejarawan dunia yang selama lebih dari 30 tahun melakukan penelitian tentang Pangeran Diponegoro. Peter Carey yang kini mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia ini juga pernah mengajar ilmu sejarah di Universitas Oxford. Dalam buku setebal hampir 500 halaman berjudul Takdir, Peter Carey begitu fasih merepresentasikan hikayat atau Babad Diponegoro ini.

Ketertarikan sejarawan-sejarawan dunia akan kiprah Pangeran Diponegoro adalah hal yang wajar, mengingat perang Jawa II yang pecah sejak 1825 - 1830 ini begitu menguras sumber daya pemerintahan kolonial Belanda. Banyak kebijakan kerajaan Belanda di Eropa yang terdampak langsung akibat dari perang Diponegoro tersebut.

Secara khusus, tulisan ini mencoba untuk merangkum hikayat yang tertulis dalam ratusan lembar halaman buku tersebut dan menyajikan sisi lain perjalanan hidup Pangeran Diponegoro. Tak ada tujuan lain dari berbagi hikayat ini, agar kita semakin mengenal budaya dan tradisi leluhur kita bangsa Indonesia.

Sebelum pecah Perang Jawa II, Sultan Agung, leluhur Diponegoro dari trah Mataram pernah meramalkan bahwa Belanda akan berkuasa di tanah Jawa selama 300 tahun. Meski ada keturunannya yang kelak akan bangkit melawan dengan hebat, akan tetapi masih belum bisa menaklukan Hegemoni Belanda di tanah Jawa.

Dalam hikayat Babad Diponegoro, yang sangat mashyur dan disusun sendiri oleh sang Pangeran semasa pengasingan di Makasar, disebutkan bahwa dirinya merasa telah menerima takdir sebagai keturunan dari Sultan Agung, yang bangkit dan melawan bangsa kolonialis Eropa.

Disebutkan pula bahwa Takdir dirinya tersebut sudah diterima sejak 20 tahun sebelum perang Jawa berkobar. Takdir itu diterima oleh Diponegoro, dalam perjalanan Spiritual ke pantai selatan. Diponegoro melakukan Lelana seperti halnya yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya, termasuk Sultan Agung dan Panembahan  Senopati.

Dalam Babad nya, Diponegoro yang saat itu berusia 20 tahun, dengan masih menyandang nama Raden Mas Ontowiryo, kemudian menanggalkan segala gelar kebangsawanannya. Diponegoro kemudian berkeliling dari Mesjid ke Mesjid dan Pesantren yang ada di sekitar Kota Yogyakarta, pada tahun 1805.

Diponegoro lalu menyamar menjadi rakyat jelata, dengan pakaian yang lazim dikenakan oleh para Santri di abad 19, dengan nama Ngabdulkamit. Setelah berkeliling Mesjid dan Pesantren, Diponegoro mulai menjauh dari daerah berpenduduk. Diponegoro kini mulai tenggelam dalam dunia Tapa-Meditasi, dalam upaya mematangkan laku Spiritual diri.

Sejak itu, Diponegoro mulai menziarahi tempat-tempat suci yang dianggap keramat dan berkaitan dengan Dinasti Mataram. Dalam perjalanan ziarah inilah, Diponegoro sering mendapat kontak gaib atau penerawangan dengan ruh leluhur dan penjaga Spiritual tanah Jawa. Penglihatan pertama Diponegoro dalam dunia Spiritual ini terjadi di Goa Song Kamal, Jejeran, di selatan Yogyakarta.

Diponegoro, yang saat itu sedang laku Tirakat, kemudian dikunjungi oleh salah satu wali Legendaris, tanah Jawa, Sunan Kalijogo. Dengan wajah yang bersinar bak purnama jeng sunan kemudian berkata; "Pangeran telah ditentukan Tuhan untuk menjadi raja dimasa depan nanti" setelah berkata demikian penampakan Kanjeng Sunan pun langsung menghilang.

Dari Jejeran, Diponegoro kemudian menelusuri pedalaman menuju Imogiri dengan berjalan kaki. Imogiri adalah tempat pemakaman raja-raja Mataram, dimana para leluhur dan kerabatnya kini disemayamkan. Disini Diponegoro melakukan Semedhi selama satu minggu, Diponegoro tahu betul, bahwa Sultan Agung, raja terbesar Mataram pun selalu Tirakatan di tempat ini.

Dari Imogiri, Diponegoro melanjutkan perjalanan ke pantai selatan, Diponegoro kemudian berhenti dan bermalam di Gua Siluman, tempat bersemayamnya roh halus Dewi Genowati, yang merupakan 'wakil' dari Nyi Ratu Kidul. Diponegoro juga singgah di Gua Surocolo yang dikenal juga sebagai Guwa Sigologolo. Namun di kedua tempat ini Diponegoro tidak mendapati 'penglihatan' Spiritualnya.

Dalam Babadnya, Diponegoro pun terus mengembara, melintasi lembah, bukit dan pegunungan dalam tujuannya ke Pantai Selatan. Tak terhitung jumlah tempat angker nan Wingit dalam dunia Spiritual Jawa yang sudah di lewati oleh sang Pangeran ini.

Diponegoro akhirnya melintasi kaki Gunung Kidul dan pergi menuju ke Gua Langse, di tepi Samudera Hindia yang bergemuruh dan menggelegar dengan dahsyat. Diponegoro menuruni tebing berkapur yang curam dan terjal untuk memasuki Gua keramat dan penuh aura mistis ini.

Di Gua inilah Diponegoro dalam Babadnya menuliskan bahwa dirinya bertemu langsung dengan Ratu Pantai Selatan. Namun sayang, kehadiran Ratu Kidul yang diawali oleh aura sinar ini tidak berlangsung lama, itu karena Diponegoro sedang larut dalam Tirakat nya. Ratu pun menghilang sebelum Diponegoro sempat menyapa, namun Ratu Kidul berjanji suatu saat akan kembali menemuinya.

20 tahun kemudian, saat perang Diponegoro sedang dahsyat-dahsyatnya berkobar, sang Pangeran kembali bertemu dengan Ratu Kidul. Saat itu Diponegoro sedang berkemah bersama prajuritnya di tepian sungai di daerah Kulon Progo. Saat itulah Diponegoro kembali dikunjungi dan melakukan komunikasi dengan Ratu Pantai Selatan tersebut.

Dengan lembut, Ratu Kidul berkata, "Bila hamba boleh membantu Paduka, hamba mohon janji setia begitu lenyap sirna semua laknat kafir itu (Belanda), mohonlah pada Allah Ingkang Rabbulngalamin supaya saya kembali lagi menjadi wujud manusia,"

Ratu Kidul melanjutkan, "Lebih dari itu, semua balatentara paduka tidak usah ikut berperang, kawula yang menjanjikannya"

Diponegoro kemudian menjawab, "Aku tidak minta bantuanmu melawan sesamaku manusia, sebab dalam agama (Islam) pertolongan hanya datang dari Allah Hyang Agung,".

Ratu Pantai Selatan pun kemudian lenyap dan sirna dari hadapan Pangeran Diponegoro. Dalam budaya Jawa, Ratu Laut Kidul, merupakan penjaga Spiritual tanah Jawa, Ratu Kidul juga sebagai 'isteri' dari raja-raja Jawa bagian selatan khususnya raja-raja dari Dinasti Mataram Islam.

Menurut banyak Sejarawan, kisah pertemuan dengan Ratu Kidul dalam Babad yang ditulis oleh Diponegoro ini adalah sebagai upaya legitimasi terhadap diri Diponegoro sendiri. Pertemuan dengan Ratu Kidul akan membuat kedudukan Diponegoro sejajar dengan Sultan Agung dan Panembahan Senopati dalam persepsi masyarakat Jawa.

Disisi lain, penolakan Diponegoro terhadap tawaran Ratu Laut Kidul menandakan bahwa dirinya masih tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang sejak kecil ditanamkan oleh nenek buyutnya. Diponegoro merupakan seorang Muslim yang taat, dalam konteks Sufiiesme Islam Jawa.

Berkobarnya perang Diponegoro yang maha dahsyat namun singkat antara tahun 1825 hingga 1830, telah menggenapi takdir Diponegoro sebagai yang terbilang di antara para leluhur. Dalam pertemuan terakhir dengan Sunan Kalijogo di Parangkusumo, sebelum kembali ke Tegal Rejo, Diponegoro masih sempat mendengar suara gaib dari sang Wali Tanah Jawi tersebut.

"Tidak ada yang lain, Engkau sendiri hanyalah sarana, namun itu tidak akan lama, hanya agar terbilang di antara para leluhur. Ngabdulkamit, selamat tinggal engkau harus pulang ke rumah" begitulah suara gaib Jeng Sunan Kalijogo, yang masih terngiang-ngiang hingga akhir hayatnya pada tahun 1855 di Makasar.

Seperti halnya Ir. Soekarno, Diponegoro juga adalah sang Putera Fajar, karena lahir tepat menjelang fajar, saat kaum muslim bersantap sahur di bulan Ramadhan. Ketika masih dalam gendongan, Diponegoro diramalkan akan menjadi pahlawan besar tanah Jawa, oleh buyutnya yaitu Sultan Mangkubumi pendiri keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Itulah sepenggal kisah dalam Babad Diponegoro, yang begitu mashyur hingga ke mancanegara. Babad Diponegoro, merupakan salah satu buku biografi yang pertama di tulis di dunia, tidak mengherankan jika kemudian banyak Sejarawan dunia yang begitu penasaran dengan sosok pahlawan terbesar tanah Jawa abad 19 ini. BDLV/TM