ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro Terjebak, Ditangkap Dan Diasingkan

On March 28, 2016 with No comments

Pangeran Diponegoro, terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar, di Keraton Yogyakarta, pada tanggal 11 November 1785 dan wafat 8 Januari 1855, merupakan pelaku utama Perang Jawa II. Diponegoro adalah cucu Hamengkubuwono II, dan cicit dari Pangeran Mangkubumi pendiri Kesultanan Yogyakarta.
Kisah perlawanan pangeran diponegoro melawan penjajahan belanda
Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)
Soeara Rakjat. Sewaktu Diponegoro masih dalam gendongan, Pangeran Mangkubumi, pendiri Yogyakarta, meramalkan bahwa kelak Diponegoro akan membawa kerusakan yang lebih parah pada Belanda. Mangkubumi meyakini Diponegoro akan menjadi musuh yang lebih berat bagi belanda, di banding dirinya semasa perang Giyanti 1746 - 1755.

Ramalan itu ternyata terbukti, sejak meletusnya perang Diponegoro pada 1825 - 1830, pihak Belanda cukup kewalahan. Perang Diponegoro sangat menguras keuangan Belanda, sekitar 25 juta Gulden dihabiskan untuk membiayai perang ini. Sebuah perang dahsyat yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Perang Diponegoro mempengaruhi 2 juta orang atau sepertiga penduduk pulau Jawa, dan menelan 200.000 korban jiwa. Dari pihak belanda sendiri sekitar 8000 tentara Belanda - Eropa, dan 7000 tentara bantuan lokal tewas menjadi korban. Kerugian besar belanda ini kemudian ditutup dengan adanya tanam paksa di tanah Jawa, oleh Van de Bosch sekitar tahun 1831 - 1877.

Perang Diponegoro sendiri mulai berakhir menjelang akhir tahun 1829, dimulai dengan terbunuhnya paman dan dua keponakan Diponegoro di pegunungan Kelir, pada tanggal 21 September. Diponegoro sendiri hampir tertangkap pada 11 November oleh pasukan gerak cepat Michels, sang Pangeran pun terdesak dan mundur kearah barat disekitar Bagelen.

Diponegro yang bersembunyi di hutan-hutan disekitar Bagelen ini terserang penyakit demam malaria, namun begitu semangatnya tak pernah pudar dalam melawan penjajahan. Saat itu, kepala Diponegoro dihargai 20.000 Gulden, bagi siapun yang berhasil menangkap sang Pangeran hidup atau mati.

Sebelumnya, pada 16 Oktober 1829, salah satu panglima andalan Diponegoro, yaitu Sentot menyerah pada belanda. Hal ini makin mempersulit ruang gerak Diponegoro, meski begitu pihak Belanda pun masih sangat kesulitan untuk menangkapnya. Saat itu pihak Belanda pun makin sering mengajak Diponegoro untuk melakukan perundingan.

Ajakan berunding pihak Belanda yang dilakukan oleh Jan Baptist Cleerens ini selalu di tolak oleh Diponegoro, namun para penasihat selalu membujuknya untuk mencoba berunding. Melihat kondisi ini, Diponegoro pun berubah fikiran, Clereens pun menjanjikan bahwa Pangeran bisa bebas dan kembali ke pasukannya jika nanti perundingan tersebut gagal.

Pada tanggal 16 Februari 1830, untuk pertamakalinya sang Pangeran bertemu langsung dengan Cleerens di Remokamal. Tak ada kesepakatan yang dicapai, namun Cleerens berhasil membujuknya agar tak usah kembali dulu dan lebih baik ikut ke Menoreh, sambil menunggu Jenderal Markus Van De Kock yang sedang berada di Batavia.

21 Februari, Donegoro pun tiba dan tinggal selama beberapa hari di Menoreh, salah satu basis Belanda di Jawa Tengah kala itu. Di Menoreh Diponegoro mendapatkan perawatan medis dari dokter Belanda untuk menyembuhkan demam malaria yang deritanya. Saat itu menjelang memasuki awal bulan puasa, pada 25 Februari 1830.

De Kock pun kembali ke Magelang dari Batavia, dan meminta kepada Cleerens, agar Diponegoro segera di bawa ke markas besarnya di Karesidenan Kedu, Magelang, untuk menemuinya. Pangeran kemudian berangkat ke Magelang pada tanggal 8 Maret 1830, dikawal sekitar 800 pengikut setianya.

Saat itu, De Kock bisa saja menangkap Diponegoro, akan tetapi akan sangat riskan. Karena jika ditangkap saat itu juga, tidak mustahil perlawanan akan kembali berkobar. De Kock pun bersikap sangat baik pada Diponegoro, De Kock kemudian memberi sebuah tempat menginap di Matesih dan mempersilahkan jika anak dan isteri Pangeran ikut serta.

Tabiat asli De Kock, sebagai bangsa penjajah yang licik pun muncul. Pada tanggal 25 Maret, De Kock memerintahkan dua komandannya agar mempersiapkan pasukannya. Hal itu dilakukan agar ketika Diponegoro datang untuk berunding, bisa segera ditangkap dengan mudah.

Selama itu, Diponegori dan De Kock sering bertemu dan terlibat obrolan yang santai dan akrab. Namun itu semua hanya tipu daya De Kock, agar Pangeran merasa nyaman, dan seluruh panglima perang Diponegoro benar-benar berhenti melakukan perlawanan.

Pada hari Minggu tanggal 28 Maret 1830, Pangeran tiba dikediaman Residen Kedu, untuk bertemu De Kock. Bersama tiga orang puteranya, diiringi penasihat agama, dua punakawan, dan seorang pengawal pribadinya Diponegoro dipersilahkan untuk masuk, sementara para pengikutnya yang lain menunggunya diluar dengan setia.

De Kock pun memulai pembicaraan dengan mengatakan sebaiknya Pangeran tidak usah kembali ke Matesih, dan tetap tinggal di kediaman residen dengan dirinya. Diponegoro mempertanyakan alasan De Kock menahan dirinya, De Kock mengatakan alasannya menahan Diponegoro adalah agar semua urusan diantara mereka segera selesai.

Diponegoro mempertanyakan sikap De Kock ini, dia pun menegaskan dirinya mau bertemu untuk berunding, karena dijanjikan oleh Cleerens bahwa dia bisa bebas kembali pulang jika perundingan gagal. Pangeran pun tidak meminta apa-apa selain menjadi kepala agama Islam di Jawa, dan gelarnya sebagai Sultan diakui, sementara untuk urusan yang lain diserahkan pada pemerintah kolonial.

Saat itulah pasukan kolonial menangkap Diponegoro dan para pengikutnya, Diponegoro kemudian dibawa dan ditahan di benteng De Oentmoeting di Ungaran, Semarang. Kemudian pada tanggal 5 April 1830, Diponegoro dibawa ke Batavia, dengan kapal uap SS Van Der Capellen, Diponegoro  ditahan di Batavia pada tanggal 8 April hingga 3 Mei 1830.
Diponegoro kemudian dibuang ke Manado lalu dipindah ke Makassar. Ia menjalani Takdir sebagai sang putera fajar dan pahlawan terhebat tanah Jawa abad 19, yang hidup dalam pengasingan. Pangeran Diponegoro ditahan seumur hidup hingga ajal menjemput di Benteng Port Rotterdam Makassar pada tanggal 8 Januari 1855. mch/baim
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »