ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Perjalanan Bermakna Dan Penuh Inspirasi Ke Pulau Dewata Bali

On November 29, 2015 with No comments

perjalanan panjang menuju pulau dewata bali

Soeara Rakjat, Alkisah, pada awal tahun 2015 lalu kami berkesempatan untuk menghadiri sebuah acara silaturahmi dan musyawarah tingkat nasional yang oleh masyarakat kita biasa disebut sebagai Kongres. Silaturahmi ini sendiri berlangsung di pulau Bali, yang merupakan ikon pariwisata Indonesia bertaraf dunia.

Acara ini sendiri mengundang seluruh peserta dari segenap penjuru Nusantara Indonesia, ribuan peserta dari Sabang hingga Merauke pun turut hadir menyemarakannya. Sebuah peristiwa yang tentunya akan selalu kita ingat disepanjang hidup hingga di akhir hayat.

Kami sendiri hadir sebagai perwakilan dari Jawa Barat, kami hadir bersama peserta lain dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat. Jawa Barat sendiri menjadi salah satu provinsi yang paling banyak mengirim pesertanya ke pulau Dewata.

Ada beragam moda transportasi yang ditawarkan oleh panitia, yaitu menggunakan pesawat atau bus pariwisata. Namun begitu, kami berlima sepakat untuk membawa mobil pribadi milik organisasi. Selain bisa lebih santai, tentunya menggunakan mobil pribadi akan memberi sebuah sensasi tersendiri.

Jika menggunakan pesawat, tentu akan lebih cepat sampai namun tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Jika ikut bus pariwisata, tentunya tak bisa menseting rute maupun jadwal keberangkatan sesuai dengan kemauan kita. Terlalu banyak orang di bus pariwisata, hingga akan banyak suara dan silang pendapat di dalamnya.

Akhirnya kami pun berangkat sekitar pukul 20.00 WIB atau jam tepat jam 08 malam. Kami gunakan rute Subang, Sumedang, Majalengka - Cirebon. Saat itu, tol Cipularang sendiri belum beroperasi, Tol Cipali masih dalam tahap finishing dan baru dibuka beberapa bulan kemudian.

Selepas kota Cirebon, kami tetap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hingga kota Semarang. Tujuannya adalah agar ketika melewati Semarang suasana sudah menjelang pagi. Yups... Jawa Barat - Semarang sendiri sudah terlalu sering kami lalui, tetapi suasana perjalanan di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur sangat jarang tempuhi, kami pun benar-benar ingin menikmati.

Ada banyak peristiwa yang hingga kini tetap berkesan di sepanjang jalur Semarang hingga Rembang - Pati. Perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ini begitu memberi inspirasi yang mendalam bagi kami semuanya. Sebagai warga Jawa Barat, menikmati suasana di Jawa Tengah hingga Jawa Timur adalah sebuah pengalaman berarti.

Kami pun berhenti untuk beberapa saat di tugu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami pun berkesempatan untuk melakukan selfie-selfie, sambil menunggu bus pariwisata yang masih tertinggal dibelakang kami. Kami dan rombongan puluhan bus pariwisata yang berisi para peserta asal Purwakarta, Karawang, Cirebon ini akan berkumpul di sebuah rumah makan, tak jauh dari tigu perbatasan ini.

Setelah bus pariwisata melintas, kami pun lantas mengikuti untuk kemudian berhenti disebuah rumah makan beberapa kilo meter di depan. Itulah pertemuan terakhir kami dengan para peserta lain asal Jawa Barat. Karena selepas itu, kami memutuskan untuk 'berkelana' sendiri, hingga nanti akan kembali bertemu dengan mereka di Nusa Dua, Bali.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan begitu santai, kami ingin menikmati suasana kota-kota di Jawa Timur dengan lebih berarti. Tuban, Lamongah, Gresik hingga kota Surabaya, kami begitu menikmatinya. Tak ada rasa lelah, karena kami berlima saling bergantian untuk mengendarai diselingi canda tawa yang begitu riang dan gembira.

Perjalanan pun berlanjut dengan melewati kota Probolinggo. Setelah berpacu tanpa rasa lelah, kami pun memasuki Alas Bondowosi, sebuah hutan jati di jalur pantai utara Jawa. Alas Bondowoso adalah Alas Roban versi Jawa Timur, yang menyajikan pemandangan dan pengalaman baru bagi kami.

Akhirnya kami pun hampir sampai di penyebrangan Banyuwangi. Namun beberapa kilo meter sebelum penyebrangan, kami memutuskan untuk menepi. Kami tertarik untuk menikmati pantai yang dihiasi patung seorang dewi, watu dodol dan para pedagang yang berjejer sepanjang tepi pantai. Kami pun menikmati jagung bakar ditemani secangkir kopi. Saat itu waktu hampir menjelang senja.
Diatas Kapal Feri, Saat Menyeberang Ke Pulau Bali
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dan tiba di pelabuhan penyebrangan. Tepat pukul 08.30 kami pun menaiki kapal Feri untuk segera menyeberang ke Pulau Dewata, Bali. Ada banyak cerita yang kami dapati, selama hampir 1 jam berada di kapal Feri, ternyata telah memberi kami begitu banyak inspirasi. BDLV/TM
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »