ADVERTISEMENT

SoearaRakjat.com Media Rakyat Indonesia

Search This Blog

Google+ Badge

Powered by Blogger.

ADVERTISEMENT

Popular Post

Berita Populer

Populer

Perjalanan Bermakna Dan Penuh Inspirasi Ke Pulau Dewata Bali

On November 29, 2015 with No comments

perjalanan panjang menuju pulau dewata bali

Soeara Rakjat, Alkisah, pada awal tahun 2015 lalu kami berkesempatan untuk menghadiri sebuah acara silaturahmi dan musyawarah tingkat nasional yang oleh masyarakat kita biasa disebut sebagai Kongres. Silaturahmi ini sendiri berlangsung di pulau Bali, yang merupakan ikon pariwisata Indonesia bertaraf dunia.

Acara ini sendiri mengundang seluruh peserta dari segenap penjuru Nusantara Indonesia, ribuan peserta dari Sabang hingga Merauke pun turut hadir menyemarakannya. Sebuah peristiwa yang tentunya akan selalu kita ingat disepanjang hidup hingga di akhir hayat.

Kami sendiri hadir sebagai perwakilan dari Jawa Barat, kami hadir bersama peserta lain dari seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Barat. Jawa Barat sendiri menjadi salah satu provinsi yang paling banyak mengirim pesertanya ke pulau Dewata.

Ada beragam moda transportasi yang ditawarkan oleh panitia, yaitu menggunakan pesawat atau bus pariwisata. Namun begitu, kami berlima sepakat untuk membawa mobil pribadi milik organisasi. Selain bisa lebih santai, tentunya menggunakan mobil pribadi akan memberi sebuah sensasi tersendiri.

Jika menggunakan pesawat, tentu akan lebih cepat sampai namun tidak meninggalkan kesan yang mendalam. Jika ikut bus pariwisata, tentunya tak bisa menseting rute maupun jadwal keberangkatan sesuai dengan kemauan kita. Terlalu banyak orang di bus pariwisata, hingga akan banyak suara dan silang pendapat di dalamnya.

Akhirnya kami pun berangkat sekitar pukul 20.00 WIB atau jam tepat jam 08 malam. Kami gunakan rute Subang, Sumedang, Majalengka - Cirebon. Saat itu, tol Cipularang sendiri belum beroperasi, Tol Cipali masih dalam tahap finishing dan baru dibuka beberapa bulan kemudian.

Selepas kota Cirebon, kami tetap memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi hingga kota Semarang. Tujuannya adalah agar ketika melewati Semarang suasana sudah menjelang pagi. Yups... Jawa Barat - Semarang sendiri sudah terlalu sering kami lalui, tetapi suasana perjalanan di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur sangat jarang tempuhi, kami pun benar-benar ingin menikmati.

Ada banyak peristiwa yang hingga kini tetap berkesan di sepanjang jalur Semarang hingga Rembang - Pati. Perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ini begitu memberi inspirasi yang mendalam bagi kami semuanya. Sebagai warga Jawa Barat, menikmati suasana di Jawa Tengah hingga Jawa Timur adalah sebuah pengalaman berarti.

Kami pun berhenti untuk beberapa saat di tugu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami pun berkesempatan untuk melakukan selfie-selfie, sambil menunggu bus pariwisata yang masih tertinggal dibelakang kami. Kami dan rombongan puluhan bus pariwisata yang berisi para peserta asal Purwakarta, Karawang, Cirebon ini akan berkumpul di sebuah rumah makan, tak jauh dari tigu perbatasan ini.

Setelah bus pariwisata melintas, kami pun lantas mengikuti untuk kemudian berhenti disebuah rumah makan beberapa kilo meter di depan. Itulah pertemuan terakhir kami dengan para peserta lain asal Jawa Barat. Karena selepas itu, kami memutuskan untuk 'berkelana' sendiri, hingga nanti akan kembali bertemu dengan mereka di Nusa Dua, Bali.

Kami pun melanjutkan perjalanan dengan begitu santai, kami ingin menikmati suasana kota-kota di Jawa Timur dengan lebih berarti. Tuban, Lamongah, Gresik hingga kota Surabaya, kami begitu menikmatinya. Tak ada rasa lelah, karena kami berlima saling bergantian untuk mengendarai diselingi canda tawa yang begitu riang dan gembira.

Perjalanan pun berlanjut dengan melewati kota Probolinggo. Setelah berpacu tanpa rasa lelah, kami pun memasuki Alas Bondowosi, sebuah hutan jati di jalur pantai utara Jawa. Alas Bondowoso adalah Alas Roban versi Jawa Timur, yang menyajikan pemandangan dan pengalaman baru bagi kami.

Akhirnya kami pun hampir sampai di penyebrangan Banyuwangi. Namun beberapa kilo meter sebelum penyebrangan, kami memutuskan untuk menepi. Kami tertarik untuk menikmati pantai yang dihiasi patung seorang dewi, watu dodol dan para pedagang yang berjejer sepanjang tepi pantai. Kami pun menikmati jagung bakar ditemani secangkir kopi. Saat itu waktu hampir menjelang senja.
Diatas Kapal Feri, Saat Menyeberang Ke Pulau Bali
Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dan tiba di pelabuhan penyebrangan. Tepat pukul 08.30 kami pun menaiki kapal Feri untuk segera menyeberang ke Pulau Dewata, Bali. Ada banyak cerita yang kami dapati, selama hampir 1 jam berada di kapal Feri, ternyata telah memberi kami begitu banyak inspirasi. BDLV/TM
Dieng, Sebagai Sentra Hortikultura Dan Salah Satu Cagar Budaya Tertua di Indonesia

On November 28, 2015 with No comments

dieng pusat sayuran dan cagar budaya tertua indonesia

Soeara Rakjat, WonosoboDieng, adalah salah satu dataran tinggi berpenghuni di dunia selain Tibet dan pegunungan Andes di Amerika Selatan. Dengan ketinggian rata-rata diatas 2000 mdpl, Dieng menjadi salah satu tempat yang memiliki cuaca paling ekstrim untuk ukuran negara tropis seperti Indonesia.

Suhu rata-rata Dieng adalah 16-20°C di siang hari dan 6-10°C di malam hari. Saat kemarau, antara Juli hingga Agustus suhu di pagi hari bisa mencapai 0°C yang bisa membuat embun menjadi beku.

Selain dikenal sebagai sentra Hortikultura, Dieng juga adalah salah satu cagar budaya tertua di Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan dengan ditemukannya beberapa bangunan candi. Bangunan candi tersebut adalah Kompleks Candi Arjuna yang meliputi Candi Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra dan beberapa candi lainnya.

Selain kompleks candi, ditemukan pula sebuah prasasti berangka tahun 731 Caka atau 809 Masehi. Dengan demikian, situs cagar budaya yang ada di Dieng ini diperkirakan sudah ada sejak abad IX dan berusua 1000 tahun lebih. Salah satu yang tertua di tanah Jawa.

Kehidupan mayoritas masyarakat Dieng adalah berkebun yang sebagian besar masuk dalam kelompok Orelikultura atau kategori sayur-sayuran. Kentang adalah komoditas utama di sini,terdapat juga Wortel, Kol, Bawang dan beberapa jenis sayuran lainnya.

Selain sayur-mayur, terdapat juga beberapa tanaman buah disini. Diantara yang paling terkenal adalah Pepaya Gandul atau lebih dikenal sebagai Carica, Purwaceng dan aneka jenis buah lainnya.

Bertamasya ke Dieng, tentu akan menjadi pengalaman yang istimewa. Dieng yang dijuluki sebagai 'atap' pulau Jawa tentu menawarkan sejuta pesona yang luar biasa. Udara dingin pegunungan, dengan lanskap perkebunan yang diselingi tebing dan jurang adalah sebuah pemandangan yang tiada duanya.

www.sorak.in dieng pesona alam dengan sejuta keindahan
Jalanan mulus beraspal yang membentang dari Wonosobo hingga ke Batur, Banjarnegara ini juga menawarkan sejuta keindahan sekaligus juga tantangan. Trek yang berkelok tajam, turunan dan tanjakan yang sangat curam, dipadu dengan jurang disisi kiri dan kanan, tentu akan semakin memacu adrenalin anda yang berjiwa petualang.

Cukup banyak juga tempat-tempat wisata yang bisa kita singgahi di sini. Candi Arjuna, Sikunir, Sumur Jalatunda, Kawah Sitieng atau Sikidang, adalah sedikit dari sekian banyak tempat wisata yang ada disana. Sebenarnya hampir semua tempat di Dieng memiliki potensi wisata karena keindahannya.

Cukup banyak jalur yang bisa kita tempuh jika hendak mengunjungi Dieng. Dari Pekalongan, kita bisa melewati Kajen - Linggoasri - Wanayasa - Batur - Dieng. Jika dari arah Purwokerto, anda bisa melewati Banjarnegara - Karangkobar - Batur - Dieng.

Jika dari arah timur, kita bisa melewati Wonosobo, Kejejer - Sitieng dan beberapa jalur alternatif lainnya. Lebih dari itu, Dieng juga bisa dijadikan liburan alternatif saat berkunjung ke Yogyakarta atau kota-kota sekitarnya. BDLV/TM
Atas Nama Pemuda Dan Seluruh Warga Desa Muara Kami Turut Berduka Cita

On November 28, 2015 with No comments

Muara, telah berpulang kerahmatullah bapak Cahya Wiryawan, ayahanda dari saudara, rekan dan sahabat kita Fajar Arief Nugraha yang juga salah satu pengurus Karang Taruna Desa Muara, almarhum menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Persahabatan Rawamangun Jakarta pada hari jum'at 27-11-2015 sekitar pukul 20:30 WIB.

Kabar ini tentu membuat kita semua merasa terpukul, mengingat beliau adalah guru dan panutan bagi kita semua khususnya para pemuda. Semasa hidupnya almarhum tak pernah lelah untuk memberi support, secara moril ataupun materil tak segan-segan beliau sumbangkan demi kemajuan para Pemuda dan Masyarakat Desa Muara umumnya.

Hal ini juga dirasakan oleh warga dilingkungan sekitar tempat beliau tinggal di Dusun Suka Mulya, Desa Muara Kec Blanakan, sejak semalam ratusan warga berkumpul di kediaman mendiang bpk Cahya untuk menunggu kedatangan Jenazah, bertakjiah dan memberikan semangat serta dukungan moral untuk keluarga yang ditinggalkan. Hingga menjelang prosesi pemakaman warga semakin banyak berdatangan dan berbondong-bondong untuk mengantar jenazah Almarhum menuju kepembaringannya yang terakhir.

Begitu banyak yang akan merasa sangat kehilangan, almarhum adalah sosok periang, penuh canda tetapi mampu menjadi panutan dalam setiap ujarannya, "kami merasa sangat kehilangan" ujar Ita Sudita Kepala Desa Muara. Secara pribadi penulis pun memiliki kedekatan emosional yang cukup mendalam, seringnya menghabiskan waktu secara bersamaan membuat kami yaqin bahwa beliau adalah memang seorang sahabat dan guru yang baik bagi kita semua.

Jiwa sosial dan Kedermawanan bpk Cahya Wiryawan akan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi kita semua, selamat jalan kami akan selalu mengingat budi baik mu dan semoga Allah SWT meridhoi mu.
Mengenal Lebih Dekat Kompleks Pemakaman Imogiri, Makam Raja-Raja Kesultanan Mataram

On November 22, 2015 with No comments

makam imogiri bantul makam kesultanan para raja mataram
Pintu masuk menuju kompleks pemakaman Raja-raja Trah Mataram di Imogiri.
Soeara RakjatYogyakarta, siapa yang tak mengenal kota ini, kota bersejarah yang sekaligus juga sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta ini adalah satu-satunya kota Praja yang masih tetap eksis di Indonesia. Kesultanan Yogya diberi status keistimewaan oleh pemerintah Indonesia untuk menjalankan pemerintahannya sendiri dengan otonomi yang sangat luas.

Jika kita berkunjung ke Yogyakarta, rasanya belumlah lengkap jika kita tak mengunjungi kompleks pemakaman raja-raja Mataram islam sebagai cikal bakal kesultanan Yogyakarta itu sendiri. Pemakaman Imogiri atau Pasarean Dalem Para Nata Pajimatan Girirejo Imogiri ini adalah makam para leluhur Trah Mataram, letaknya di Dusun Pajimatan, Desa Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul dan hanya berjarak sekitar 30 menit dari Kota Yogyakarta.

Makam ini mulai dibangun pada tahun 1623 oleh raja ke-3 kesultanan mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sultan Agung sendiri adalah raja pertama yang dimakamkan dikompleks pemakaman ini. Hingga kini ada 23 raja-raja dari kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang merupakan keturunan langsung dari Panembahan Senopati (pendiri trah mataram) yang dimakamkan di sini.

Seperti halnya Majapahit, Demak pun tak lepas dari konflik diantara keluarga keraton. Tentu kita mengenal betul sejarah berdirinya Pajang dan Jipang sebagai fase awal dimana berdirinya kerajaan Mataram Islam dikemudian hari. 

Sejatinya, kerajaan Mataram Islam adalah penerus trah Majapahit karena jika dirunut kebelakang, berdirinya Mataram tak lepas dari eksistensi kerajaan Demak sebagai kerajaan islam pertama ditanah Jawa. Raden Patah, raja Demak pertama adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit dan raja terakhir dari dinasti Rajasa pendiri Majapahit sebelum akhirnya runtuh di awal abad ke 16. 

Pada 13 Februari 1755, karena konflik antar keluarga kerajaan dan campur tangan fihak belanda/VOC, Mataram terpecah menjadi dua. Sebagian wilayah mataram dari Kaliurang hingga Prambanan tetap menjadi milik Sri Susuhunan Pakubuwono III, Raja Kasunanan Surakarta dan sebagian lagi daerah asli Mataram diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I dan mendirikan istana baru Ngayogyakarta Hadiningrat pada tahun 1756. 

Hingga kini para Raja beserta keturunan dan kerabat dari dua keraton trah Mataram ini tetap dimakamkan ditempat yang sama, di pemakaman Imogiri.

Ada banyak versi dan cerita menarik soal pembangunan makam ini. Konon, Sultan Agung sering menunaikan Shalat Jumat di Mekkah ini lantas merasa menemukan kedamaian saat berada di tanah suci. Karena itu pula Sultan berkeinginan dimakamkan di tanah suci jika kelak beliau wafat. 

Namun ada seorang ulama Mekkah yang tidak menyetujui keinginan sultan ini. Sang Ulama lalu memberi segenggam tanah pasir kepada sultan untuk kemudian dilemparkan dan terbawa angin. Dan di mana tanah pasir ini jatuh, maka di situlah Sultan akan dimakamkan. Menurut kisah, pasir yang terbawa angin lantas jatuh di sekitar Imogiri, persis dimana kompleks pemakanan sekarang berada.

Terlepas dari berbagai mitos dan atau keyakinan yang berkembang, makam Imogiri adalah sebuah peninggalan berharga yang sarat akan nilai-nilai budaya luhur. Di kompleks pemakaman inilah terbaring jasad Sultan Agung, pemimpin terbesar Mataram yang pernah mencoba mengusir Belanda dari tanah Jawa. BDLV/TM


Siapakah yang Membangun Makam di Imogiri
Kekuasaan Kerajaan Mataram secara turun temurun mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Agung. Jejak Babad Raja Mataram dapat ditelusuri dari makam Sultan Agung yang berada di "Pesarean" Imogiri.
Dikirim oleh Kompas TV pada 31 Maret 2017
Asep R. Dimyati Kembali Terpilih Untuk Memimpin DPD PAN Subang Hingga 2020

On November 21, 2015 with No comments


Soeara Rakjat, Subang. Jawa Barat. Asep R. Dimyati SH, kembali terpilih untuk menjadi Ketua DPD PAN Subang dan akan menakhodai partai Matahari Terbit ini hingga tahun 2020 nanti, hasil musyawah yang terdiri dari tim formatur ini sepakat untuk kembali memberi kepercayaan pada ARD sapaan akrab Asep R. Dimyati untuk kembali memegang tongkat komando PAN Kabupaten Subang.
Seluruh peserta MUSDA yang terdiri dari dua orang perwakilan dari tiap-tiap pengurus tingkat kecamatan / DPC menyambut dengan penuh antusian hasil ini, mereka beranggapan bahwa ARD memang masih sangat layak dan pantas untuk kembali memimpin PAN Subang mengingat kinerja partai yang dinilai lebih baik dari periode sebelumnya.

Menurut Ketua DPW PAN Jawa Barat, Irjen Pol Edi Darnadi dalam sambutannya mengatakan "kami sangat berterimakasih atas kinerja DPD dan Kader-kader PAN Subang yang telah turut berjuang meningkatkan perolehan suara PAN ditingkat Provinsi Jawa Barat" ujar Edi Darnadi yang disambut tepuk tangan peserta MUSDA dan para tamu undangan lainya.

Senada dengan hal itu ketua SC (Steering Comite) MUSDA PAN Subang 2015, Bobby Haerul Anwar dalam closing statementnya mengungkapkan "kami sangat mengapresiasi hasil ini, dengan mekanisme musyawarah untuk mufakat tentu semua akan merasa puas tanpa perlu ada yang merasa tersakiti, dan yang lebih penting kita tetap bisa menjaga keutuhan dan persatuan partai" ujar Bobby yang juga ketua F-PAN DPRD Subang ini. BDLV/TM


DPC PAN Blanakan Siap Mensukseskan MUSDA PAN Subang 2015

On November 21, 2015 with No comments

DPC PAN Blanaka, Bersiap Hadiri Musda PAN Subang
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Hari ini Sabtu (21-11-2015) Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional Kabupaten Subang menggelar Musyawarah Daerah bertempat di aula STIESA jalan Otto Iskandar Dinata Subang. Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus dan perwakilan dari tingkat kecamatan / DPC yang ada dikabupaten Subang.

Beberapa pengurus dari tingkat kecamatan sudah tampak hadir, diantaranya dari kecamatan Blanakan yang diwakili oleh Ketua dan Sekertaris DPC. Menurut ketua DPC PAN Kecamatan Blanakan Agung Bayu K "kami siap untuk mensukseskan MUSDA apapun mekanisme yang menjadi kebijakan partai" ujar Agung Bayu K ketika ditemui dilokasi.

Hal ini diamini oleh sekertaris DPC PAN Balanakan, "Ini bukan masalah siapa yang terpilih, tetapi lebih kepada mengevaluasi kinerja partai" ujarnya menegaskan.

MUSDA PAN Subang ini sedianya akan dilangsungkan mulai pukul 11 siang waktu setempat dan akan dihadiri oleh pengurus DPW PAN Jawa Barat, acara ini juga sempat membuat kota Subang menjadi terharu-biru oleh atribut PAN dan aktivitas perserta MUSDA yaang mulai berdatangan dari seluruh pelosok Kabupaten Subang. BDLV/TM
Dibagikan Hanya Disaat Sedang Blusukan, Masyarakat Pertanyakan Komitmen Pemerintah Soal "Kartu Sakti" Presiden Jokowi

On November 19, 2015 with No comments


Selama ini kita hanya bisa melihat diberbagai media nasional soal pendistribusian program kartu sakti, Presiden Jokowi sendiri dalam setiap kunjungannya ke berbagai daerah seringkali membagi-bagikan Kartu Sakti kepada warga yang ada disana.

Tentu hal ini menjadi pertanyaan bagi kita semua, apa mungkin kita juga harus menunggu dikunjungi Presiden untuk mendapatkan kartu-kartu tersebut. Mengingat begitu pentingnya program itu untuk kita yang masih tergolong keluarga pra sejahtera untuk mendapatkan akses kesehatan ataupun pendidikan gratis bagi putra-putri kita.

Subsidi BBM yang konon sangat membebani keuangan negara, selama ini disebut sebagai salah satu faktor penyebab sulitnya bagi pemerintah untuk memberikan akses kesehatan dan pendidikan yang lebih baik bagi Rakyatnya, namun setelah subsidi BBM dihapus beberapa waktu yang kondisi ini masih belum berubah.

Hingga kini program tersebut masih belum jelas, setahun berlalu sudah dan Masyarakat hanya bisa melihat ketika Presiden Jokowi membagi-bagikan "Kartu Sakti" disetiap agenda blusukannya, tentu ini menimbulkan kecemburuan sosial dan rasa keadilan bagi kita semuanya.

Entah sampai kapan Rakyat harus menanti, semakin sulitnya kondisi perekonomian membuat kita semakin berharap agar program ini segera terealisasi. Terimakasih bapak Presiden Jokowi.

+Baim0677



Soal Dana Desa 1,4 Miliar, Masyarakat Desa Masih Menanti Janji Presiden Jokowi

On November 18, 2015 with No comments


Dalam beberapa bulan kedepan memasuki tahun 2016, masyarakat dipedesaan akan kembali mendapatkan Alokasi Dana Desa, besaran dana tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp 660 juta per Desa, lebih besar dari tahun sebelumnya yang rata-rata hanya mendapatkan Rp 280 juta per desa seperti halnya di Kabupaten Subang.

Meski meningkat dari ADD tahun sebelumnya namun masih jauh dari yang dijanjikan oleh Pemerintah, Presiden Jokowi sendiri dalam berbagai kesempatan selalu menjanjikan pemerintah akan mampu mengalokasikan dana desa sebesar 1,4 miliar per desa.

DPR sendiri akan terus meningkatkan besaran dana desa dari tahun ke tahun seperti yang ungkapkan oleh wakil ketua DPR RI bidang kesra Fahri Hamzah, "DPR akan mengupayakan dananya (dana desa) meningkat pada tahun-tahun mendatang" tutur Fahri kepada wartawan di Jakarta, minggu 15 november 2015.

Tentunya ini disambut baik berbagai kalangan masyarakat, meski jumlahnya masih belum sesuai dengan yang dijanjikan oleh presiden Jokowi sendiri, tetapi hal ini tentu akan membuat Masyarakat dipedesaan semakin memiliki kesempatan untuk meningkatkan berbagai pembangunan dan kesejahteraan.

Dana Desa itu sendiri adalah bertujuan untuk meningkatkan berbagai upaya pembangunan seperti Infrastruktur, Irigasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yaitu dengan mengelola sumber potensi ekonomi yang ada di pedesaan.

Patut kita nantikan kesungguhan dari pemerintah dalam upaya membangun kesejahteraan masyarakat desa, semoga program-program pemerintah yang akan lebih menitik beratkan pembangunan ke wilayah pedesaan bukanlah hanya sekedar slogan. mch
Kepala Desa Muara : Kami Bertekad Memberi Pelayanan Terbaik Untuk Warga

On November 16, 2015 with No comments

Ita sudita kepala desa muara bertekad memberi pelayanan

Soeara Rakjat, Jawa BaratKepala Desa Muara, Ita Sudita, kembali menegaskan komitmennya untuk bisa memberikan pelayanan terbaik kepada warganya. Hal itu diungkap oleh Lurah Ita, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi mengenai persoalan KIS.

KIS atau Kartu Indonesia Sehat, adalah program nasional yang digulirkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi sejak akhir 2014 silam. Bersama Kartu Indonesia Pintar atau KIP, KIS adalah program prioritas yang tentunya sangat dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat Indinesia.

Cukup banyak daerah-daerah di Indonesia yang sudah mendapat jatah KIS atau KIP tersebut. Namun tentunya masih jauh lebih banyak daerah yang masih belum mendapatkannya. Atas dasar itulah banyak masyarakat teemasuk warga Desa Muara, Blanakan, Subang, yang turut mempertanyakannya.

Menanggapi hal ini, Lurah Ita pun menyebutkan bahwa pemerintah Desa Muara sudah secara maksimal berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Menurutnya, Pemdes Muara terus melakukan upaya agar seluruh masyarakat yang berhak segera mendapatkannya.

Namun begitu, karena program tersebut adalah program pusat, tentunya Pemdes hanya bisa menunggu instruksi dari pemerintah, dalam hal ini dinas terkait di Pemkab Subang. Dengan kondisi ini, Pemdes Muara lantas meminta kepada semua pihak agar bersabar.

"Kami terus melakukan koordinasi dengan Pemkab maupun dinas terkait. Semoga secepatnya bisa terealisasi, karena ini sangat dibutuhkan oleh warga," papar Lurah Ita, dalam keterangan persnya, Senin 16 November 2015.

Selama ini, masyarakat memang masih terus menanti realisasi dari berbagai program seperti KIS dan KIP, yang salah satunya adalah sebagai program kompensasi dari dicabutnya subsidi BBM ini. BDLV/TM
Kran Import Beras Kembali Dibuka, Petani Pertanyakan Komitmen Pemerintah Berswasembada Pangan

On November 15, 2015 with No comments

Pemerintah buka impor beras petanikecewa

Soeara RakjatPada 7 November lalu, Pemerintah kembali mengeluarkan kebijakan Import beras. Padahal sebelumnya, baik Menteri Pertanian maupun Presiden Jokowi sendiri tetap berpendirian untuk tidak melakukan import beras. Pemerintah meyakini kebutuhan beras nasional dirasa masih cukup, terlebih saat ini sedang memasuki musim panen dibeberapa Daerah.

Kebijakan impor beras asal Vietnam ini tentu saja memberikan dampak negatif bagi para petani. Seperti diberitakan oleh beberapa media Nasional kita, kebijakan ini telah menurunkan harga jual gabah di berbagai daerah seperti di Sragen, Jawa Tengah.

Harga jual gabah yang sebelumnya mencapai lebih dari Rp 5000 per kilo gram, kini langsung turun hingga Rp 4500 Rupiah. Cukup banyak para petani yang mengaku merasa kecewa dan kehilangan gairah akibat dari kebijakan import beras tersebut.

Menurut beberapa kalangan, kebijakan impor beras ini dirasa sangat aneh. Mengingat di beberapa daerah sedang berlangsung musim panen, dan secara kebetulan musim tanam kali ini memberikan hasil panen yang lebih baik dari musim sebelumnya. 

Dengan kondisi ini, Pemerintah seharusnya bisa menjaga momentum agar harga jual gabah ditingkat petani yang sedang tinggi tetap bisa dipertahankan. Hal itu diperlukan agar para petani tetap bergairah yang secara langsung akan bisa meningkatkan kesejahteraan para petani itu sendiri.

Meski begitu kebijakan ini masih belum memberikan dampak yang signifikan, secara keseluruhan. Dibeberapa daerah harga gabah masih tetap stabil, mengingat beras import itu sendiri masih belum masuk ke pasar-pasar tradisional secara menyeluruh.

Di salah satu daerah lumbung padi nasional yaitu Kabupaten Subang, saat ini musim panen masih sedang berlangsung. Para petani berharap agar harga jual gabah tetap tinggi mengingat modal tanam yang dikeluarkan tidaklah sedikit untuk setiap musimnya.

Masyarakat juga berharap apapun kebijakan Pemerintah, itu bertujuan demi kebaikan seluruh Rakyat khususnya petani. Namun begitu, jika kebijakan impor pangan masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan memberi dampak negatif secara langsung terhadap para petani di seluruh Indonesia.

Kebijakan impor pangan khususnya beras, tentunya juga tidak sesuai dengan semangat Nawacita, yang diantaranya adalah berkomitmen untuk berswasembada dan akan menghentikan kebijakan impor pangan. BDLV/TM
Pantai Nglambor, Destinasi Wisata Bahari yang Masih Perawan dan Asri

On November 15, 2015 with No comments

Pantai nglambor wisata bahari untuk snorkeling
Pantai Nglambor, Tepus, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Soeara Rakjat, Indonesia Kita. Daerah Istimewa Yogyakarta, adalah sebuah daerah yang memiliki keistimewaan tersendiri. Seperti halnya DKI Jakarta dan Nanggroe Aceh Darussalam, Yogyakarta adalah salah satu daerah yang diberi status khusus sebagai Daerah Istimewa oleh pemerintah Indonesia.

Sebagai salah satu daerah yang paling bersejarah di Indonesia, tentu Yogya sangat layak menyandang status khusus nan istimewa. Hingga kini, Yogyakarta juga masih menyandang status Kesultanan, dengan Sultan Yogya yang merangkap sebagai Gubernur DI Yogyakarta.

Mendengar nama Yogya, tentunya kita akan langsung tertuju pada tempat-tempat bersejarah maupun wisata. Bersama beberapa kota lain di Indonesia seperti Bali, Bandung, Malang dan kota-kota lainnya, Yogya adalah kota tujuan wisata paling dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Selain tempat bersejarah, wisata belanja atau wisata alam, letak Yogya yang berada di garis pantai selatan atau Samudera Hindia ini juga memiliki sejuta pesona pantai atau wisata bahari yang menakjubkan.

Parang tritis, pantai Baron, Indrayanti atau Parangkusumo, adalah beberapa nama yang sudah sangat mashyur bagi pecinta wisata bahari. Selain nama-nama tersebut diatas, masih cukup banyak pantai dengan panorama menakjubkan yang bisa kita singgahi. Pantai Nglambor adalah salah satunya.

Pantai yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, dan berjarak hanya puluhan kilometer dari kota Yogya ini sangat direkomendasikan untuk kita yang benar-benar ingin menikmati suasana pantai yang masih perawan dan asri. Pantai kehijauan dengan bibir pantai yang didominasi karang terjal dan curam ini adalah tempat ideal bagi para pecinta Snorkeling.

Pantai Nglambor adalah satu dari sekian gugusan pantai yang terletak di daerah Kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Semburan ombak laut selatan yang bergemuruh menghantam kokohnya tebing karang, adalah harmonisasi tersendiri bagi anda para pecinta alam dan seni.

Letak pantai yang jauh di pedalaman sebuah desa yang cukup terpencil, tentunya benar-benar membawa kita pada suasana masa lalu. Pantai selatan memang selalu menyimpan berjuta pesona yang indah dan romantis, sekaligus suasana yang penuh aura mistis.

Jika anda menggunakan kendaraan roda empat, anda akan kesulitan untuk bisa langsung mencapai lokasi ini. Jalan yang menurun terjal sekitar 750 meter ini hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki ataupun menggunakan jasa ojek. Dengan tarif Rp 10 ribu, kita bisa menggunakan jasa ojek ini sekaligus menitipkan mobil anda.

Menikmati Sunset di Pantai Nglambor, Gunungkidul
Perjalanan menuju pantai ini pun terbilang cukup menakjubkan. Setelah kita melewati Wonosari, sebuah kota kecil yang tertata asri, kita akan benar-benar disuguhi oleh panorama alam yang luar biasa. Perjalanan anda menuju pantai Nglambor adalah perjalanan yang tak sia-sia.

Selepas Wonosari, anda akan memasuki wilayah Kecamatan Tepus. Disinilah mata kita akan benar-benar dimanjakan oleh suasana alam yang sangat menawan dan beragam. Jalan yang menyempit namun mulus ini akan dihiasi hutan, bukit karang, maupun kebun-kebun dan lahan warga di sisi kiri dan kanan.

Sesekali kita akan menjumpai para petani yang keluar masuk hutan atau ladang, sambil membawa kayu bakar maupun hasil-hasil perkebunan. Untuk anda penggemar kuliner yang sedikit ekstrim, anda bisa mencoba renyah dan guruhnya goreng belalang dengan harga antara Rp 25 - 30 ribu per toples.

Pantai Nglambor, adalah salah satu pantai terbaik yang pernah ditemui. Nglambor sangat layak mendapat predikat Wonderful Indonesia, berdasar pengalaman pribadi penulis. Pantai Nglambor, destinasi Wisata Bahari yang masih perawan nan asri. Pastinya anda sepakat jika pernah mengunjunginya. BDLV/TM
Jembatan Gantung Desa Muara, Setia Melayani Kepentingan Warga Sejak 1965

On November 14, 2015 with No comments

Jembatan gantung desa muara blanakan subang

Soeara Rakjat, Jawa BaratJembatan Gantung Desa Muara, adalah sebuah jembatan legendaris yang menghubungkan langsung antara Desa Muara dan Desa Tanjungtiga. Keberadaan jembatan ini pun sudah cukup lama, jembatan gantung ini sudah ada sejak tahun 1965.

Jembatan gantung yang berlokasi di Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa barat ini sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat di wilayah kecamatan Blanakan hingga Ciasem dan sekitarnya. Jembatan ini pun begitu fenomenal, mengingat memang hanya jembatan inilah yang menjadi akses langsung di wilayah tersebut.

Dimasa lalu, warga Desa Muara dan Tanjungtiga selalu menggunakan perahu dalam melakukan aktivitasnya. Warga di kedua desa yaitu Muara dan Tanjungtiga, memang memiliki cukup banyak kepentingan baik dari sisi ekonomi atau hanya sekedar bersilaturahmi. Selain itu, jembatan ini juga menghubungkan akses Pamanukan bagian utara hingga ke daerah Cilamaya, Karawang.

Sebelumnya, pada sekitar tahun 1963 pernah dibuat sebuah jembatan kayu diatas sungai Ciasem tersebut. Pembuatan jembatan ini adalah atas prakarsa Kepala Desa Muara kala itu. Namun karena aliran dan debit air sungai Ciasem kerap meluap di saat musim hujan, jembatan ini akhirnya hanyut terbawa arus.

Pada 1965, dibuatlah sebuah jembatan dengan konstruksi gantung. Menurut pemilik jembatan yakni Darman, pembangunan jembatan gantung ini memakan biaya sekitar Rp 200.000, jumlah uang yang cukup besar pada saat itu. Menurutnya, biaya tersebut diperoleh dari hasil menjual kerbau milik orang tuanya.

Hingga kini, pemilik jembatan selalu menunggui jembatan ini untuk memungut biaya alakadarnya dari setiap warga yang melintas di atas jembatan gantung tersebut. Namun begitu, pemilik jembatan juga tidak memaksa untuk meminta bayaran, terlebih masih cukup banyak warga yang tak malu-malu dan nylenong tanpa membayar.

Saat ini, sebuah jembatan permanen memang sedang dalam proses pengerjaan. Namun karena keterbatasan biaya, pembangunan jembatan ini mengalami hambatan. Dana yang dikucurkan oleh pemerintah baik Pemprov Jabar dan Pemkab Subang untuk pembangunan jembatan tersebut memang sangat terbatas dan bertahap. 

Menurut seorang anggota DPRD Subang, Boby Haerul Anwar, pembangunan jembatan permanen ini baru bisa dirampungkan di tahun 2019. Menurutnya, itu adalah hitung-hitungan secara riil yang tentunya sudah disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.

"Jika melihat alokasi dana yang dianggarkan oleh pemerintah, secara hitungan realistis jembatan ini baru bisa rampung dan beroperasi pada 2019," ujar Boby Haerul Anwar, melalui pesan singkat pada Sabtu 14 November 2015.

Rentang waktu yang cukup lama akan terealisasinya jembatan permanen, tentunya membuat warga di kedua desa masih akan dengan setia menggunakan jembatan gantung desa Muara. Bahkan ada sebagian warga yang meminta agar jembatan gantung ini tetap beroperasi meski nantinya jembatan permanen sudah jadi.

Jembatan Gantung Desa Muara, adalah jembatan yang telah digunakan oleh lintas generasi dan usia. Dimasa lalu, cukup banyak cerita-cerita mistis nan histeris yang pernah dialami oleh warga kedua desa di jembatan ini. Lebih dari itu, jembatan gantung tersebut adalah saksi bisu bagi perjalanan hidup warga Desa Muara dan Tanjungtiga. BDLV/TM
Cara Mudah Untuk Menangani Smartphone Kita Yang Sering Lelet

On November 13, 2015 with No comments

Gadget atau Smartphone adalah kebutuhan mendasar bagi kita saat ini, gadget tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi secara konvensional seperti menelpon ataupun SMS, tetapi kini gadget menjadi alat komunikasi dan berinteraksi secara global. Hadirnya media sosial makin mengukuhkan Smartphone sebagai perangkat yang terasa "wajib" untuk kita bawa kemanapun dan dimanapun berada.

Hadirnya berbagai system operasi / OS seperti Android, Apple, Blackberry, Windows dan lain sebagainya membuat kita makin memiliki ragam pilihan. Karena menganut sistem operasi sumber terbuka / Open Source maka banyak diantara OS ini yang begitu rawan disusupi Virus ataupun Malware yang mampu menduplikasi dan mencuri data kita untuk tujuan tertentu. Maka sangat diwajibkan bagi kita untuk mengunduh berbagai konten dari toko aplikasi resmi.

Masalah yang paling sering kita alami adalah, melambatnya kinerja Gadget, hal ini dikarenakan tidak cukupnya ruang bagi system untuk melakukan operasi yang disebabkan oleh beban yang berlebihan. Kadang kita sendiri tak sadar, terlalu banyak file yang tersimpan tanpa mencermati kapasitas dan ruang penympanan yang tersedia. Tetapi tak perlu risau ada kiat dan trik mudah yang bisa kita lakukan, diantara nya adalah :
         
           -Pasanglah Anti virus yang sekaligus mampu berfungsi sebagai penghapus berkas/sampah sisa dari aktifitas/browsing kita, agar selalu tersedia ruang kosong yang maksimal untuk kinerja perangkat. cukup banyak opsi tersedia ditoko aplikasi resmi, kita bisa memilih Look out, Avasat, 360, CM security, Kapersky Lab dan lain sebaginya.  
         
          -Perhatikan ruang memory yang tersedia agar sistem mampu bekerja secara optimal, caranya klik opsi penyimpanan di pengaturan, lalu perhatikan berapa ruang kosong yang harus disediakan untuk kebutuhan kinerja perangkat, jumlahnya bervariasi tergantung dari perangkat yang kita miliki.

           -Opsi lain adalah memindahkan aplikasi unduhan dari internal perangkat ke SD Card tanpa perlu melakukan root pada gadget, caranya cukup dengan mendownload App File Manager atau Move to SD Card, lalu pindahkan beberapa file/aplikasi dari penyimpanan internal ke SD Card/kartu memori sesuai dengan kebutuhan, dengan begitu cukup banyak ruang yang tersedia dan kinerja Smartphone akan terasa sangat maksimal tak "lelet" lagi.

Mungkin masih banyak cara lain, tetapi itulah cara paling mudah dan murah, semoga bermanfaat bagi kita semua.

+Baim0677


Selain Jembatan Gantung, Warga Desa Muara Mengandalkan Perahu Penyebrangan

On November 13, 2015 with No comments

Warga desa muara blanakan subang perahu penyebrangan

Soeara Rakjat, Jawa Barat. Desa Muara dan Tanjungtiga, adalah dua desa yang mengandalkan pertanian, baik itu petani sawah maupun budidaya tembak ikan dan udang. Tak heran jika di kedua desa ini mobilitas dari bisnis atau usaha perikanan terbilang cukup tinggi.

Kedua desa yang terletak di Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, ini cukup memiliki potensi ekonomi khususnya bidang perikanan. Setiap harinya, cukup banyak warga dari kedua desa ini yang saling menyeberang untuk melakukan kegiatan atau transaksi jual beli ikan dan udang.

Hal ini tentu saja memberi dampak ekonomi yang cukup signifikan, perputaran ekonomi di kedua ini pun terbilang cukup tinggi dan menjanjikan. Seluruh hasil perikanan dari kedua desa ini kemudian dipasarkan keberbagai daerah, khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya.

Namun begitu, kondisi ini masih belum di dukung oleh keberadaan infrastruktur yang sepadan. Masih buruknya kondisi jalan dibeberapa titik, dan masih belum rampungnya jembatan permanen untuk menyeberang masih menjadi hambatan.

Warga ke dua desa, khususnya di Dusun Sindang Laut, Desa Muara dan Dusun Tanjunglaut di Desa Tanjungtiga, masih mengandalkan perahu penyebrangan dalam beraktivitas. Padahal, di kedua dusun inilah aktivitas ekonomi sektor perikanan di kedua desa ini berjalan.
Pembangunan jembatan permanen Desa Muara - Tanjungtiga masih terhambat
Warga pun berharap agar pemerintah segera menyelesaikan proses pengerjaan jembatan permanen yang menghubungkan kedua desa tersebut. Hal itu sangat diperlukan, mengingat perahu penyebrangan akan sulit digunakan di saat musim penghujan terlebih ketika banjir datang melanda.

Saat ini, memang ada jembatan gantung yang menjadi akses bagi mereka. Namun begitu, kondisi jembatan gantung ini pun sudah cukup memprihatinkan. Warga membutuhkan jembatan permanen agar kendaraan roda empat bisa melintas dan tak perlu memutar puluhan kilo meter jauhnya.

Selama ini, kendaraan roda empat dari dan ke dua desa ini harus memutar ke wilayah Kecamatan Ciasem, menuju ke jalan nasional yang membutuhkan waktu dan jarak tempuh lebih lama. Kondisi inilah yang lantas memicu rasa keprihatinan dari warga Desa Muara dan Tanjungtiga. BDLV/TM
Usaha Ikan Kering/Asin Dan Dampak Ekonomi Bagi Masyarakat Desa Muara, Blanakan, Subang

On November 12, 2015 with No comments

Soeara Rakjat, Ikan kering, baik asin atau tawar adalah salah satu jenis komoditas andalan masyarakat Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, jenis usaha tradisional ini sudah ada sejak lama dan berlangsung secara turun temurun.

Usaha perikanan yang dikelola oleh masyarakat desa ini juga menyokong ekonomi warga, beberapa perusahaan dalam skala menengah dan besar akan mampu menampung hingga ratusan pekerja atau karyawan.

Market jenis usaha ini pun cukup luas, ikan kering atau ikan asin bisa dipasarkan keseluruh daerah di Jawa Barat, DKI Jakarta dan hingga kebeberapa daerah di pulau Sumatera. Tentu dapat kita bayangkan seberapa besar pengaruh usaha ini terhadap perekonomian warga.

Sebagai salah satu desa dengan hasil perikanan baik dari tambak maupun laut yang cukup melimpah, tentu cukup banyak warga desa Muara yang menjalankan bisnis ikan kering ini. Ketersediaan ikan sebagai bahan baku, tentunya menjadi modal utama bagi mereka untuk mengelola usahanya.
Namun begitu, keberlangsungan usaha ini juga bergantung kepada faktor cuaca. Karena meski ikan sedang melimpah namun cuaca sedang musim penghujan, usaha inipun akan sedikit mengalami hambatan.

Saat musim penghujan, proses pengeringan ikan yang masih menggunakan teknik konvensional, yakni memanfaatkan terik matahari akan terhambat. Butuh waktu dan tenaga ekstra dalam prosesnya. 

Namun begitu, ada juga beberapa pengusaha ikan kering yang sudah menggunakan teknologi moderen, yakni memanfaatkan mesin pengering yang tidak bergantung pada cuaca.

"Butuh tenaga lebih kalau lagi musim hujan. Kami harus menjemur saat terik dan mengangkat jika mau turun hujan," papar Suhenda, seorang karyawan di UD Kacung Jaya.

Tak hanya pengusaha dan para pekerja saja, tetapi menurunnya produktivitas selama penghujan juga berdampak pada sebagain masyarakat desa. Produksi yang turun, setidaknya akan turut mempengaruhi perputaran ekonomi dan kondisi keuangan sebagian warga.

Penurunan produksi ikan kering baik saat berkurangnya pasokan ikan maupun saat penghujan, tentu akan berdampak pada puluhan perusahaan, dan ratusan karyawan berikut keluarga mereka masing-masing. Terlebih, pemerintah pusat saat ini telah memberlakukan kebijakan impor ikan kering atau ikan asin.

Meski jenis usaha ini belum pernah tersentuh oleh bantuan dari Kementerian UMKM, ataupun dari pemerintah baik pusat dan daerah, namun usaha ini tetap bertahan dan menjadi salah satu usaha andalan masyarakat Desa Muara, Blanakan, Subang.  BDLV/TM
Pentas Sandiwara, Kesenian Tradisional Rakyat Yang Memasyarakat di Pesisir Utara Jawa Barat

On November 10, 2015 with No comments

Pentas sandiwara masyarakat pantai utara jawa barat
Soeara Rakjat, Jawa Barat. Pentas Sandiwara, adalah salah satu hiburan berorientasi budaya bagi masyarakat Jawa Barat di bagian utara, antara Cirebon hingga sebagian Karawang. Pentas Sandiwara ini hampir serupa dengan Wayang Orang, Ketoprak atau Ludruk di Jawa bagian tengah dan timur.

Sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat, daerah disepanjang pantai utara atau Pantura antara Cirebon, Subang, hingga sebagian Karawang memang memiliki keunikan tersendiri. Selain berkultur budaya Sunda, sebagian masyarakat disini juga memiliki karakter budaya Jawa yang kuat.

Percampuran atau asimilasi budaya ini sudah berlangsung cukup lama, sudah sejak zaman Wali Sanga, masyarakat Cirebon dan sekitarnya sudah mengenal budaya Jawa. Cirebon sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa Barat kala itu, sering menjadi tempat berkumpulnya para wali tanah Jawa saat berembuk dan bermusyawarah.

Beberapa abad kemudian, Cirebon juga menjalin hubungan yang cukup erat dengan kesultanan Mataram. Kesultanan Cirebon juga memiliki peranan saat tentara Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung menyerbu Batavia atau kini Jakarta, dalam upayanya mengusir Belanda dari tanah Jawa.

Selain lewat laut, banyak juga pasukan Mataram yang terdiri dari banyak prajurit yang berasal dari berbagai daerah di Jawa ini yang menyerbu Batavia melalui jalur darat. Mereka banyak mendirikan pertahananm pemukiman hingga membuka lahan pertanian di sepanjang jalur pantai utara dari Cirebon, Subang, Karawang hingga perbatasan Bekasi.

Banyak dari mereka yang kemudian enggan pulang dan memilih menetap di daerah-daerah tersebut. Selain itu, cukup banyak pula diantara prajurit ini yang menikahi penduduk lokal hingga akhirnya melahirkan budaya Sunda-Jawa seperti yang kita kenal sekarang ini.

Itulah mengapa sebabnya budaya Jawa memiliki peranan dan dikenal oleh sebagian masyarakat di wilayah ini, tak terkecuali dengan sebagian warga Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat. Pentas kesenian Sandiwara, adalah salah satu hiburan rakyat yang cukup populer di daerah tersebut.

Dari sisi gamelan, seperangkat gamelan yang dipergunakan pun serupa dengan gamelan yang dikenal didaerah Jawa Tengah, namun dipadu dengan 'cengkok' Jawa Barat yang khas. Sandiwara selalu diiringi dengan tetabuhan gamelan berlaras Pelog atau Prawa, dengan Seruling sebagai Harmoninya.

Menurut para seniman yang berkecimpung dalam kesenian Sandiwara, alur kisah Sandiwara ini bersumber dari Pustaka Purwa Caruban Nagari, yang merupakan gubahan para sastrawan Kacirebonan

Umumnya, Sandiwara ini selalu berkisah tentang penyebaran agama Islam di Jawa Barat, dengan tokoh utamanya Sunan Gunung Jati, yang terkadang disesuaikan dengan kearifan lokal yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Namun begitu, tak jarang pula Sandiwara mementaskan lakon-lakon atau cerita rakyat yang berkembang diberbagai daerah khususnya di pulau Jawa.

Yang menarik, cukup banyak kesamaan nama dalam tokoh Sandiwara ini dengan beberapa tokoh yang sering disebut-sebut dalam babad Tanah Jawa. Gusti Sinuwun, Dewi Sekar Kedaton, Putri Pembayun dan beberapa nama lainnya, adalah julukan untuk beberapa tokoh yang lazim digunakan oleh masyarakat Jawa dilingkungan Kesultanan Mataram dimasa lalu.

Kesamaan budaya ini pun bisa kita lihat dalam lakon Sandiwara yang sangat populer di awal tahun 1980 an, yakni keris pusaka Setan Kober. Jika dirunut kebelakang, Setan Kober merupakan keris pusaka legendaris milik Hario Penangsang dari Jipang. Begitupun dengan nama Suta Jaya dan Jebug Angrum atau Ki Ageng Pekandangan (Indramayu) sebagai tokoh sentral, yang keduanya memiliki karakter dan kemiripan dengan tokoh-tokoh Mataram.

Pada awalnya, Sandiwara sendiri adalah sebuah media dakwah yang bertujuan untuk mengenalkan budaya dan perjuangam Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Meski kini Sandiwara mengalami pergeseran seiring tuntutan zaman, namun semoga pentas budaya Sandiwara ini tidak berubah dari tujuan awalnya.
Dengan pentas budaya Sandiwara ini pula semoga masyarakat Jawa Barat khususnya di pesisir utara, semakin mengenal budaya dan kearifan lokal yang pernah dikenal dan dianut oleh para leluhurnya. BDLV/TM
Bersama TNI-Polri Turut Mengawal Normalisasi Saluran irigasi

On November 09, 2015 with 2 comments

karang taruna desa muara mengawal normalisasi saluran irigasi
Soeara Rakjat, Karang Taruna Desa Muara Bersama Aparat TNI-Polri, Perangkat Desa dan Tokoh Masyarakat setempat turut mengawal kelancaran pengerjaan Normalisasi Saluran / Kalen Carik yang berlokasi di Dusun Sukamanah Baru, Desa Muara, Blanakan, Subang.

Proses Normalisasi yang sempat dihentikan oleh beberapa Ormas/LSM itu kini sudah bisa dimulai kembali. Normalisasi saluran sangat mendesak untuk dilakukan, megingat permintaan dan kebutuhan Masyarakat akan pentingnya Normalisasi saluran Irigasi tersebut.

"Kami bersama Tokoh Masyarakat berkomitmen untuk terus mengawal kelancaran proses Normalisasi tersebut, mengingat musim penghujan yang kini mulai tiba akan sangat membutuhkan adanya saluran yang baik," ujar Ketua Karang Taruna Desa Muara, Hartono Syarifuddin.

Dengan normalnya saluran tersebut, tentu akan memudahkan membuang arus air ke hilir tanpa perlu meluap ke areal pesawahan yang dampak nya akan sangat merugikan petani itu sendiri. Selama ini, air kerap meluap ke areal pertanian karena terjadi pendangkalan di saluran irigasi tersebut.

Dukungan dan peran serta seluruh Warga Masyarakat tentunya sangat di harapkan, mengingat Desa Muara yang berada di garis pantai kerap menjadi 'pembuangan' air dari daerah hulu. Desa Muara memang menjadi salah satu desa langganan banjir di wilayah Subang utara.

Tentu akan sangat merugikan semua warga jika nanti nya jumlah debit air meningkat, sementara saluran yang ada kini sudah mengalami pendangkalan yang di akibatkan oleh lumpur yang terbawa air, juga kesadaran Masyarakat yang masih minim dan kerap membuang sampah di sungai ataupun saluran.

Kelancaran Normalisasi Irigasi ini tentu akan membawa manfaat dan kebaikan bagi warga desa terutama para petani. Dengan irigasi yang baik, pastinya petani di desa muara akan terhindar dari kekeringan di saat musim kemarau dan bisa mengurangi jumlah debit air yang meluap / banjir disaat musim penghujan tiba.

Senada dengan Karang Taruna, Kades Muara pun meminta kepada seluruh warga masyarakat untuk turut serta berperan dalam program-program pembangunan yang sedang digalakan di desa Muara.

"Mari kita dukung bersama semua program pembangunan yang ada, demi perkembangan dan kemajuan Desa kita," tegas Kepala Desa Muara, Ita Sudita. BDLV/TM
Karang Taruna Desa Muara :Kami Turut Berduka Cita Yang Sedalam-dalamnya

On November 08, 2015 with 2 comments

 turut berduka cita atas meninggalnya ibu koyidah

Soeara rakjat, Kabar duka, datang dari keluarga besar Bendahara I Karang Taruna Desa Muara. Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang Ibu Qoyidah, Ibunda dari sdr Abdul Aziz, Sabtu 7 November 2015. Almarhumah akan dikebumikan di TPU Sindang Laut I, Desa Muara, Blanakan, Subang.

Kabar ini tentu membawa duka yang mendalam bagi keluarga besar sdr. Abdul Aziz dan bagi kita semua tentunya. Segala daya upaya telah dilakukan termasuk dengan membawa beliau ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, guna mendapatkan perawatan dan pengobatan atas penyakit yang di derita Almarhumah. 

Pada tanggal 31 Oktober 2015 ketua Karang Taruna sdr. Ratno Syarifuddin ditemani beberapa pengurus dan anggota yang lain diantara nya sdr. Ade Hasanudin, Wahyu Insanuddin, Fajar Arief, Karnadi, Thoif dan Jaeni menyempatkan diri untuk menjenguk ke RSHS guna memberi dorongan dan motivasi untuk kesembuhan Almarhumah ibu Qoyidah.

Namun begitu, kehendak Allah SWT yang telah memanggil kembali Ibu Qoyidah, tentunya tidak bisa ditolak oleh manusia sebagai mahluk ciptaannya. Kita semua, khususnya keluarga yang ditinggalkan hanya bisa berserah atas kehendak Tuhan yang maha kuasa.

Semoga mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT dan keluarga besar bpk Darji, sdr Abdul Aziz yang ditinggalkan diberi ketabahan. BDLV/TM
Kemeriahan Syukuran Nelayan, Ruat Laut Warga Desa Muara Yang Menjadi Ikon Wisata

On November 08, 2015 with No comments


Soeara Rakjat, Jawa Barat. Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Subang, Jawa Barat, adalah salah satu desa yang terletak di garis pantai laut Jawa. Desa yang berlokasi di wilayah utara Subang ini memiliki berbagai potensi, baik dari sisi ekonomi maupun budaya dan wisata.

Secara ekonomi, desa ini adalah salah satu sentra pertanian dan perikanan di kabupaten Subang. Di desa Muara, cukup banyak terdapat pesawahan yang terbentang luas, tambak budidaya ikan dan udang, serta dua Koperasi Unit Desa atau KUD yang menaungi para nelayan di wilayah tersebut.

Selain petani sawah dan tambak maupun pedagang, sekitar 25% warga Desa Muara memang mengandalkan profesi sebagai nelayan. Potensi perikanan yang ada di desa ini pun cukup besar, KUD MINA Bahari adalah salah satu yang terbesar di Kabupaten Subang.

Ada sesuatu yang unik terkait dengan nelayan di desa ini, yakni Syukuran Nelayan, atau sering juga disebut Nadran atau Ruat Laut dalam bahasa lokal. Syukuran nelayan ini digelar setiap 2 tahun sekali, biasanya menjelang akhir tahun antara Oktober hingga Desember.

Acara ini cukup unik karena tidak hanya melibatkan warga maupun nelayan setempat. Cukup banyak warga yang datang dari daerah lain disekitar Subang. Mereka datang untuk melihat langsung keramaian dan kesemarakan dari Syukuran Nelayan tersebut.

Syukuran Nelayan atau Ruat Laut Desa Muara, adalah ritual budaya peninggalan nenek moyang yang hingga kini masih tetap dilestarikan. Dalam acara ini, seluruh nelayan dan warga desa akan berpawai menggunakan perahu miliknya masing-masing menuju ke lepas pantai Teluk Ciasem.

Acara parade ini adalah untuk melepas kepala kerbau ke tengah laut untuk menjadi makanan ikan. Acara melepas kepala kerbau ini adalah ritual turun temurun yang tujuannya akan bisa membuat wilayah laut mereka subur dengan ikan dan udang.

Sekembali dari lepas pantai, iring-iringan perahu ini akan kembali sambil mengadakan lomba balap perahu yang tentunya sangat meriah. Selain dihias sedemikian rupa, perahu ini juga dilengkapi dengan aneka buah, makanan ringan dan minuman yang digantung diatas sebuah kayu melintang di atas perahu.

Kemeriahan makin terasa manakala warga yang menumpang perahu akan saling melempar untuk tukar menukar buah, makanan atau minuman tersebut. Selain parade perahu, acara ini juga disemarakan oleh Wayang Kulit, pagelaran Sandiwara, pentas musik  dan aneka hiburan rakyat lainnya.
Kemeriahan Syukuran Nelayan memang tidak bisa digambarkan, Syukuran Nelayan juga merupakan acara budaya yang sekaligus menjadi ikon wisata masyarakat Desa Muara. BDLV/TM